Lihat Keindahan, Rasakan Kehangatannya lalu Bagilah lewat Sketsa

Banda Naira,-Suasana pagi yang cerah di pinggir pantai dengan semilir angin sepoi-sepoi pada Minggu, (21/10) kemarin, suasananya terlihat berbeda dari biasanya. Sejumlah anak usia Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) duduk berjejer pada sepanjang talud di bibir pantai. Mereka memegang tripleks yang diatasnya dijepit kertas A4.
Hari ini, kegiatan Banda International Island Life Sketchwalk (IILS) 2018 dimulai, ambonnesia berkesempatan menemani beberapa teman-teman seniman sketsa asal Jakarta, Surabaya, Ambon, Singapura dan Portugal, datang ke Pulau Banda ikut kegiatan yang pertama kalinya digelar pada tahun lalu (2017) ini.
Wajah-wajah nampak ceria, yang terlihat sudah tidak sabaran ingin segera mulai membuat sketsa. Tapi mereka terlebih dahulu akan mendapatkan workshop singkat dari tiga instruktur yakni Ketua Indonesia Urban Sketchers Yanuar Ikhsan, anggota Indonesia Urban Sketchers Toni Malakian, dan sketser asal Portugal yang juga dikenal sebagai Koordinator Divisi Edukasi Internasional Urban Sketchers, Mario Linhares.
Pantai Istana Mini menjadi lokasi pertama workshop. Sebelum memulai kegiatan, Public Relation Indonesia Urban Sketchers Donald Saluling memberikan perkenalan singkat. Peserta lalu dibagi menjadi tiga kelompok besar yang masing-masing didampingi satu instruktur.
Instruktur asal Portugal, Mario Linhares, saat memberikan materi, didampingi penerjemah asal Maluku Sketchwalk Revalino Berry Nepa. Peserta dan guru pendamping terlihat begitu antusias mengajukan pertanyaan, ketika Mario memaparkan teknik membuat gambar sederhana langsung di lokasi sketsa.
Tidak hanya peserta yang antusias, sejumlah warga yang lewat dekat lokasi kegiatan pun antusias, ikut bergabung karena tertarik dengan workshop yang diberikan oleh para seniman sketsa. Ada beberapa peserta yang terlihat malu-malu ketika sketsanya diintip. Namun karena banyak temannya yang terlihat bersemangat, mereka pun berani untuk mencoba menggambar objek-objek sederhana yang ada di sekitar mereka.
Kepada wartawan yang hadir di kegiatan ini, Ketua Indonesia Urban Sketchers Yanuar Ikhsan menyebutkan, kegiatan menggambar bersama melibatkan siswa SD dan SMP di Pulau Banda bertujuan membangkitkan kepekaan mereka dengan keadaan sekitarnya dan menuangkannya dalam berbagai ide seni kreatif termasuk menggambar sketsa.
"Dengan menggambar, selain menciptakan ruang kreatif, anak-anak juga menjadi lebih peka dengan keadaan serta lingkungan sekitar dan dapat menghasilkan sesuatu untuk memperkenalkan daerahnya dan bermanfaat di masa mendatang," tandasnya.
Dia menambahkan di masa mendatang generasi muda Kepulauan Banda sudah dapat berkontribusi dan membangun daerahnya melalu gambar atau sketsa, sehingga tidak perlu merantau keluar daerahnya.
"Hasil gambarnya juga dapat dipublikasikan dengan memanfaatkan kecepatan perkembangan media sosial, sehingga berdampak memperkenalkan kembali kejayaan Kepulauan Banda di dunia internasional, sehingga semakin banyak wisatawan dalam dan luar negeri tertarik untuk datang berkunjung," tutur Yanuar.
Senada dengan Yanuar, Donald Saluling katakan, menggambar sesuatu yang simple dan sederhana, mereka akan lebih sederhana dan bebas, lebih intuitif dan lebih peka terhadap sesuatu. Itulah mengapa kami selalu menggambar dari hal yang sederhana dulu. Aturan baku itu, disebut Donald, memang dibuat untuk akademik. Bagi pihaknya, akademik memang punya proses sendiri.
"Kalau kami, adalah untuk meningkatkan minat menggambar, jadi kami menghindari menggambar itu seakan-akan rumit. Padahal itu tidak rumit, makanya kami bukannya keluar dari pakem tapi ini awal dari pakem sebanarnya, namun kita lupakan,” ujarnya.
Materi yang dibagikan adalah cara menggambar secara umum, secara spontan dan bebas, karena tujuan utama dari workshop yang diadakan supaya menjadikan menggambar adalah keseharian dari anak-anak yang hadir pada saat itu. Bagi para seniman sketsa tersebut, menggambar bukanlah seubuah tugas, bukan sebuah angka, atau sekedar membuat orang lain merasa senang, namun dengan menggambar mereka dapat mebuat diri mereka sendiri bahagia.
“Yang kami coba kami ajarkan ke peserta ini adalah menggambar yang paling utama adalah bukan pensil, bukan penghapus, bukan penggaris, bukan kertas, tapi mata. Bagaimana mata itu mengkoordinasikan apa yang mereka lihat bisa mereka koordinasikan ke tangan mereka, manusia itu adalah alat gambar berjalan," tuturnya.
Dia menyebutkan, sebenarnya imajinasi anak-anak itu sudah ada di pikiran mereka, namun bagaimana cara untuk mengeluarkan imajinasi mereka yang seringkali dianggap sulit.
"Imajinasi itu ada di sekeliling mereka, itulah yang kami lakukan supaya bagaimana anak-anak ini melihat di sekeliling mereka. Melihat keindahan alamnya, merasakann sendiri, dari perasaan itu kita bisa menggambar sebenarya,” ujar Donald.
Setelah tiga puluh menit sesi pertama selesai, masing-masing anak diminta untuk mengumpulkan hasil karya mereka. Sekilas saya perhatikan, mereka sudah sangat pandai dalam membuat sketsa sederhana. Mereka sudah mampu mengekspresikan apa yang melihat dan kemudian dituang dalam sebuah gambar.
Setelah workshop pertama di Pantai Istana Mini, peserta diajak untuk menggambar di Benteng Belgica.
Cuaca siang itu sedang panas-panasnya karena kebetulan sudah sekitar pukul 11.00, namun semangat dan antusias anak-anak dan para guru tidak berkurang sedikit pun. Ada rasa bangga dan senang, melihat anak-anak sekolah yang penuh semangat mengikuti setiap materi yang diajarkan.
“Pesannya dari menggambar di sini agar anak-anak di Banda terutama generasi muda semakin menyadari bahwa kepulauan Banda ini indah adanya," tutur Donald.
Dia menyebutkan, banyak yang bisa digali, dan peserta bisa share ke seluruh dunia, ini lho kampung aku seperti ini. Apalagi kita sudah diberkati dengan adanya media sosial yang sangat tidak terbatasi. Siapa pun, dari mana pun bisa berbagi, dan bisa mengajak orang-orang untuk bisa datang kemari.
"Dengan menggambar itu menjadi salah satu aspek untuk menjual apa yang ada di Banda, tapi yang paling utama adalah untuk meningkatkan pengetahuan mereka,” terang Donald.
Peran seniman sketsa yang datang ke Banda ini juga, diakui Donald, sudah sejak lama mendengar tentang keindahan Kepulauan Banda dan ingin sekali datang ke daerah ini, karena menurut mereka masih banyak orang di luar yang belum mengetahui soal Pulau Banda. Seperti pengalaman pribadi Donald Saluling yang disampaikannya kepada Ambonnesia di sela-sela berlangsungnya workshop.
Menurut Donald, ketika dia memberitahu salah seorang temannya bahwa akan ke Banda, temannya itu balik bertanya "Banda itu ada di Aceh ya?" Donald, lantas menilai, hal itu membuktikan masih sangat kurang informasi mengenai Kepulauan Banda ini, terutama di kalangan seniman sketsa. Padahal diakuinya, Banda mempunyai banyak sekali nilai sejarah, selain keindahan pantainya. Itulah sebabnya mengapa Pulau Banda dipilih oleh Donald dan rekan-rekannya dari Indonesia's Sketchers untuk lokasi workshop.
"Bagi saya memang anak-anak daerah sendiri, yang harus dapat mempromosikan daerahnya. Tidak hanya dari media foto maupun video, namun dari segi-segi menarik seperti lukisan atau pun sketsa. Dan dengan adanya workshop tersebut dapat memberikan dampak yang positif bagi anak-anak di Banda," harapnya.
Donald lantas berpesan agar para peserta membagikan keindahan alam dan kehangatan warga dan daerah ini melalui karya sketsa yang dihasilkan. Harapan sesuai tema kegiatan bertajuk “Banda ILLS 2018” ini, yaitu See The Beauty, Feel The Warmth, Share The Sketch.
Donald juga berharap, kegiatan yang merupakan kerjasama Indonesia Urban Sketchers, Maluku Sketchwalk dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah bisa menjadi agenda tahunan untuk memperkenalkan kembali Kepulauan Banda, melalui karya seni sketsa. (Tiara Salampessy)
