Mengenal Panas Pela, Budaya Persaudaraan Orang Maluku
Reporter : Priska Akwila, Joner L
Editor : R Khairiyah


Gubernur Said Assagaf, saat Memberikan sambutan pada acara panas pela di SMP N 9 Lateri, Senin, 29 Januari, 2018 (ist)
Maluku pernah berada pada masa-masa kelam. Konflik 1999 itu melahirkan banyak kesengsaraan termasuk merusak kerukunan warga yang sebelumnya begitu kuat. Namun Maluku memiliki budaya Pela Gandong yang mampu menyambung tali kerukunan dan kepercayaan yang sempat putus.
Pela Gandong, umumnya terjalin antardua negeri atau daerah sejak lama. Kedua belah pihak membuat perjanjian dan sumpah bagi seluruh warga. Isinya, warga harus hidup rukun dan saling menjaga yang digelar dalam sebuah prosesi acara adat secara sakral.
Kearifan lokal inilah yang mencuri perhatian banyak daerah di Indonesia, khususnya daerah yang pernah berkonflik. Pela Gandong dinilai sebagai cara terbaik dalam menuntaskan konflik horizontal di Maluku berlandaskan kearifan lokal yang otentik. Kini, Pela Gandong tak melulu terikat antar dua negeri, tapi juga antar sekolah.
Seperti pada SMP Negeri 4 Salahutu, Maluku Tengah dan SMP Negeri 9 Lateri, Ambon. "Kami sudah pela sejak 2013,” kata Lely Diaz Harmusial, Kepala Sekolah SMP Negeri 9 Lateri.
Menurut Lely, hubungan baik antarsiswa dan guru di kedua sekolah berjalan harmonis dan makin rukun. Hampir tiap tahun, kedua sekolah ini melakukan ‘reuni’ yang dalam istilah adat disebut Panas Pela. Tujuannya untuk menghangatkan kembali hubungan persaudaraan. Seperti pada Panas Pela yang digelar di kompleks SMP N 9 Lateri pada 29 Januari lalu.
”Selain Panas Pela, kami pun sering membuat kegiatan bersama bagi para siswa,” imbuh Siti Qamaria Pary, guru kesenian SMP N 4 Salahutu.
