Konten Media Partner

Mengintip Pintu Kota, Pesona Pantai di Selatan Ambon

Ambonnesia

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengintip Pintu Kota, Pesona Pantai di Selatan Ambon
zoom-in-whitePerbesar

Foto: (Edi Likumahua/Tiara Salampessy)

Ambon,-Minggu pagi cuaca tampak cerah. Seorang lelaki terlihat asyik mengutak-atik telepon seluler dekat pos pintu masuk, ketika Ambonnesia.com tiba. Lelaki yang ternyata bernama Angky itu, lantas menyapa dengan ramah.

Dia memberikan tiket masuk setelah menerima uang dari kami. Lalu dengan senyum, dia mempersilahkan kami masuk ke obyek wisata Pantai Pintu Kota.

Pintu Kota merupakan salah satu lokasi wisata pantai yang cukup populer di Pulau Ambon. Jaraknya sekitar 17 Km dari pusat Kota Ambon. Perjalanan dari pusat kota menuju tempat ini sekitar 40 menit.

Bila ingin berkunjung ke Pintu Kota, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi, maupun angkutan kota (angkot) di Terminal Mardika. Angkot yang mencapai obyek wisata ini yakni yang jurusan Dusun Airlow atau Seri dengan tarif per orang Rp 4.000.

Pintu Kota sendiri adalah sebutan untuk sebuah lubang batu karang di kaki perbukitan. Bentuknya menyerupai sebuah pintu, disebut Pintu Kota karena letaknya tepat bagian selatan Pulau Ambon atau persisnya di ujung semenanjung Nusaniwe yang merupakan arah masuk ke dalam Pulau Ambon.

Begitu tiba di tempat tersebut, kita tidak langsung ketemu pantai wisata ini, sebab letaknya tidak langsung terlihat dari jalan raya, serta tidak ada penanda lokasi. Namun tidak usah bingung, karena kita bisa bertanya kepada warga setempat.

Untuk tiket masuk ke Pantai Pintu Kota, sebenarnya terdapat dua pos berbeda. Hal ini lantaran perbedaan lahan kepemilikan. Untuk pos pertama dikenakan biaya per orang sebesar Rp 5.000, kemudian untuk pos ke dua dikenakan Rp 2.000.

Saat Ambonnesia menyambangi tempat tersebut, suasananya masih sepi pengunjung, karena kebetulan bertepatan dengan hari Minggu serta para pengelolanya baru bersiap-siap untuk buka pada pukul 12.00 WIT. Khusus di hari Minggu, para pengunjung yang beragama Kristen, baru selesai melaksanakan ibadah.

"Kalau hari lainnya, Senin hingga Sabtu, Pintu Kota mulai buka jam 09.00, dan akan tutup pada pukul 18.00," tutur Angky.

Dibanding hari lainnya, Angky katakan, pengunjung biasanya paling ramai di hari Sabtu. "Biasanya paling ramai pengunjung saat siang menjelang sore, karena rata-rata pengunjung ingin lihat pemandangan matahari terbenam, kalau pada Minggu di pagi masih belum ada pengunjung yang datang" jelasnya.

Saat berkeliling melihat pemandangan di area Pintu Kota, Angky katakan selain indahnya pemandangan di darat bagian lautnya pun sangat indah, sehingga selalu dijadikan tempat diving oleh para wisatawan karena terdapat goa bawah laut.

"Banyak orang yang datang kemari khusus untuk diving, namun harus didampingi oleh penyelam yang berpengalaman karena arus di bawah lumayan kencang," ungkapnya.

Kepada Ambonnesia.com, Reza Syaranamual, salah satu pengunjung yang tinggal hanya sekira 600 meter dari Pintu Kota menyebutkan, waktu terbaik untuk berkujung ke Pintu Kota adalah pagi hari ketika cahaya matahari baru naik atau saat sunrise. Atau di saat matahari terbenam atau sunset.

Mengintip Pintu Kota, Pesona Pantai di Selatan Ambon (1)
zoom-in-whitePerbesar

"Bagi yang hobby foto, saat sunrise atau sunset, kita bisa mendapatkan foto yang indah. Apalagi jika mengabdikan momen yang ada menggunakan teknik slow speed, yang memungkinkan kamera merekam pergerakan air terlihat lembut seperti kapas," ujar pehobby foto yang tinggal di Kampung Kersen, tak jauh dari kawasan Pintu Kota ini.

Karena view atau pemandangannya yang unik dan menarik, menurut Reza, tak jarang sejumlah fotografer membawa klien mereka untuk difoto prewedding dengan mengambil latar Pintu Kota.

Senada dengan Reza, Angky mengaku banyak yang datang ke lokasi pantai tersebut tidak untuk berenang, tapi untuk berfoto-foto.

"Sudah sekitar setahun kami menambah fasilitas ayunan dan gazebo untuk para wisatawan, sebagau spot berfoto atau duduk sambil menikmati pemandangan," ungkap Angky.

Upaya pihak pengelola seperti yang disampaikan Angky ini, memang menjadi nilai lebih untuk sebuah obyek wisata. Sebab di era digital seperti sekarang ini, kebutuhan spot untuk berswafoto menjadi mutlak adanya.

Jika sudah puas berfoto, tidak perlu khawatir urusan perut, saat tidak membawa bekal. Sebab di Pintu Kota ada warung-warung kecil yang menjual rujak, mie instan dan minuman ringan, serta pisang goreng yang langsung digoreng ketika dipesan.

Mama Yos, salah satu pedagang makanan yang sedang menyiapkan jualannya ketika dijumpai Ambonnesia, mengaku sudah berjualan selama delapan tahun di Pintu Kota. Tinggalnya tidak jauh dari kawasan tersebut, karena dia memang warga asli Desa Airlow tempat Pintu Kota berada.

"Untuk seporsi rujak harganya Rp 15.000, sedangkan untuk seporsi mie instan lengkap dengan telur Rp 15.000, dan minuman ringan mulai Rp.5.000, hingga Rp 10.000.," kata dia soal harga menu yang dia jual.

Kalau ramai pengunjung bisa sampai pukul 18.00 WIT, yang paling laku adalah mie instan dan gorengan. Biasanya menu tersebut yang cepat habis.

“Setiap hari berjualan di Pintu Kota. Mulai bersiap-siap sejak pukul 10.00 WIT dan selesai berjualan pada pukul 17.30 WIT,” tuturnya

Bagi para wisatan yang datang juga boleh membawa makanan dari luar, sebab disediakan pondok-pondok kecil sebagai tempat peristirahatan. Sekedar duduk sekaligus tempat untuk makan maupun minum, sembari menikmati senja yang menyapa dengan indah. (Tiara Salampessy)