Partisipasi Pemilih Naik, Tapi Masih Rendah

Ambon,- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku, mengklaim partisipasi pemilih Pilgub Maluku 2018 naik dibandingkan lima tahun lalu. Meski naik, namun dinilai masih masuk kategori rendah.
Berdasarkan data penghitungan cepat KPU berbasis formulir C1 dengan data data masuk 95,44 persen, partisipasi pemilih masih di bawah 70 persen.
“Angka partisipasi hampir mencapai 70 persen. Kalau kita bandingkan dengan Pilgub 2013, itu hanya 66 persen. Jadi, ada peningkatan partisipasi. Tetapi, nanti kita lihat secara total setelah rekapitulasi di KPU provinsi,”ujar ketua KPU Maluku, Syamsul Rifan Kubangun kepada Ambonnesia.com, Rabu (4/7).
Kota Ambon merupakan salah satu daerah dengan partisipasi pemilih rendah, yakni 68,3 persen. Padahal, Ambon adalah ibukota provinsi yang mudah diakses, baik informasi maupun kawasannya untuk kegiatan sosialisasi.
Bahkan di Desa Allang, Kecamatan Leihitu Barat, Maluku Tengah, partisipasinya hanya sebesar 45,4 persen. Desa ini memiliki jumlah pemilih sebanyak 3.931, namun yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk mencoblos hanya 1.785.
Pengamat politik dari Universitas Pattimura (Unpati), Said Lestaluhu menilia, angka 60 hingga 70 persen partisipasi pemilih masih dikategorikan rendah. Sebab, secara nasional, KPU menargetkan partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak 2018 sebesar 77,5 persen.
“Ini harus jadi catatan penting. Tak hanya di Ambon, banyak pemilih di Maluku Tengah juga tidak mencoblos. Saya kira, mungkin karena faktor minimnya sosialisasi atau bisa juga karena huja,” kata Said.
Partisipasi pemilih, lanjut Said, perlu mendapat perhatian serius. Sebab, berhubungan dengan legitimasi maupun aspirasi politik masyarakat yang harus diakomodir oleh pasangan terpilih.
“Apalagi, momentum Pileg dan Pilpres sudah mulai. Karena itu, kita berharap penyelenggara, terutama KPU meningkatkan sosialisasi, membangun kesadaran kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak suaranya,” ungkapnya.
( Amar )
