Pemerintah Tak Serius, Anak Muda Bergerilya Perangi Sampah Lewat Seni

Ambonnesia.com-Ambon,-Di Ambon, masalah sampah belum disikapi dengan serius oleh pemerintah daerah. Kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan pun masih minim.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon, Lucia Izaak mengatakan, Ambon memproduksi 8 ton sampah plastik setiap harinya.
"Warga masih buang sampah tidak tepat, baik itu pada waktunya maupun tempatnya," kata Lucia, Kamis (21/2).
Sementara, Walikota Ambon, Richard Louhanapessy mengakui masalah sampah masih jadi PR pemerintah, hingga saat ini pihak pemerintah kota masih terus berupaya mengatasi hal itu. Namun, upaya pemerintah mesti sejalan dengan program-program yang tepat sasaran, dengan menyediakan tempat sampah yang layak di kota berjuluk Manise itu.
Pasalnya, di kawasan pemukiman padat penduduk, beberapa tempat sampah tampak rusak hingga menyebabkan sampah tumpah keluar. Seperti di Air Salobar, Kecamatan Nusaniwe, Jalan Sudirman, Kecamatan Sirimau, dan Jalan Laksdya Leo Watimena, Nania, Kecamatan Baguala, kawasan Pasar Mardika dan Pasar Batu Merah
“Sampah akan ada terus sampai kita mati, dan tidak mungkin berhenti. Nah, bagaimana cara penanganan nya itu akan kita evaluasi,” kata walikota.
Anak muda bergerilya perangi sampah lewat seni.
Lain halnya dengan pemerintah, masalah sampah justru jadi persoalan bagi sekelompok anak muda di Ambon dari berbagai komunitas pegiat lingkungan. Mereka bergerilya untuk memerangi sampah dengan cara membuat produk daur ulang sampah bernilai ekonomi.
Eko Beta
Ekologi Beta (Eko Beta), nama komunitas yang digagas oleh Supriyadi Kilbaren, Ramlan Tahir, dan M Saiful Rumakur. Pada November 2017, Eko Beta dideklarasikan sebagai komunitas yang fokus pada masalah lingkungan di Ambon.
“Sebenarnya keresahan terhadap masalah lingkungan itulah yang memantik ide untuk membuat sebuah wadah atau komunitas. Di dalamnya, kami bertukar pikiran untuk menjaga lingkungan dengan cara kami sendiri,” kata Ramlan Tahir, Direktur Eko Beta
Mereka membuat kerajinan tangan seperti kalung kulit kerang, plakat, lampion, gelang, gantungan kunci dan lukisan dari kardus.
Bahan-bahannya berasal dari sampah bekas kulit kerang, batok kelapa, kulit kenari, kardus bekas, dan lain-lain. Bagi mereka, mengerjakan seni yang bernilai ekonomi juga bisa dihasilkan dari sampah.
“Kami pungut dari pantai dan tempat pembuangan sampah. Ini adalah cara efisien untuk mengurangi sampah, tanpa kita harus perintahkan orang lain. Ini hanya soal keterpanggilan hati,” kata Saiful.
Produk-produk tersebut dijual secara online maupun secara langsung. Harganya cukup terjangkau. Lukisan kardus Rp 150 ribu , gantungan kunci Rp 15 ribu, ukiran nama dari kayu Rp 50 ribu, kalung Rp 20 ribu, dan gelang Rp 15 ribu.
Pembeli produk Eko Beta tak hanya dari Maluku, Mahasiswa asal sejumlah negara seperti, Belanda, Jerman, Jepang, India, hingga Hongkong pun ikut membeli sebagai oleh-oleh dari tanah Ambon.
Beta Bank Sampah
Kakak beradik, Jojo Manuhua dan Hany Manuhua pada Maret 2018 lalu mendirikan Beta Bank Sampah. Bank ini memang khusus menampung bekas kemasan yang berbahan plastik.
Ide awal terbentuknya bank sampah itu karena banyaknya sampah plastik di sungai yang tidak jauh dari lokasi rumah mereka di Desa Wailete, Hative Besar. Mereka lantas mengajak anak-anak untuk mengumpulkan sampah plastik.
"Kami mengajak anak-anak di sekitar rumah untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik tersebut, kemudian ditabung di Beta Bank Sampah. Sampah plastik yang mereka bawa untuk ditabung kami hargai Rp 3.000 per 100 plastik," kata Jojo.
Hasil dari sampah-sampah yang ditabung itu dibuat menjadi ekobrik. Ekobrik adalah satu di antara teknik daur ulang sampah dengan cara sangat sederhana, yakni potongan-potongan sampah plastik yang dimasukan ke dalam botol plastik hingga padat dan keras.
"Jika dipadatkan dengan baik, ekobrik akan menjadi kuat layaknya batu bata ramah lingkungan, yang mampu menopang beban berat," tuturnya.
Kelompok Kreatif Anak Banda
Di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, sejak tiga tahun terakhir Kelompok Kreatif Anak Banda membuat hasil kerajinan dari sampah plastik. Mereka memang rutin setiap Selasa dan Kamis berkeliling pulau dengan menggunakan Speed Boat untuk menjaring sampah plastik yang mengapung di laut.
“Kami gunakan jaring untuk menangkap ikan, dengan pegangan dari Bambu, hasil sampah plastik kami kumpulkan untuk dibuat kerajinan tas daur ulang,” kata Magafira Ali, saat dihubungi via telepon seluler Rabu (20/2).
Produk daur ulang sampah plastik, seperti tas, topi dan tempat tisu itu disulap menjadi barang bernilai ekonomi. Aneka kerajinan tersebut sudah dipasarkan di sejumlah negara di Eropa, seperti Jerman, Belanda dan Rusia.
