Konten Media Partner

Pengungsi Korban Gempa di Desa Liang Butuh MCK

Ambonnesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak korban gempa di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah (Foto: ambonnesia)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak korban gempa di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah (Foto: ambonnesia)

Ambonnesia.com-Ambon,- 32 hari lalu, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 mengguncang Kota Ambon, dan sebagian wilayah Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Ratusan orang mengungsi. Puluhan jiwa meninggal dunia.

Guncangan gempa bumi ini dirasakan sebagian besar masyarakat di Pulau Ambon dan Pulau Seram. Guncangan terkuat dirasakan di Kota Ambon, Salahutu, Amalatu dan Kairatu berupa guncangan IV-VI MMI. Kemudian III-IV MMI di Piru dan Masohi. Gempa ini juga dirasakan hingga Banda, Maluku Tengah.

Gempa bumi ini mengakibatkan 23 orang meninggal dunia. Ratusan orang luka-luka. Ribuan bangunan rusak sedang, ringan hingga rusak berat. Warga terpaksa mengungsi lantaran kehilangan rumah.

Kini sudah satu bulan bencana alam itu berlangsung. Dan hingga kini, gempa susulan atau aftershock telah mencapai ‎1.870 kali, 210 diantaranya dirasakan oleh masyarakat.

Akibat gempa susulan ini, masyarakat enggan kembali ke rumah. Mereka masih trauma dan takut. Tenda pengungsian menjadi tempat tinggal sementara bagi warga.

“Kalau ke rumah itu, cepat-cepat saja. Kami masih kwathir dan takut,”kata Fadli Opier, salah satu warga Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Senin (28/10).

Liang merupakan desa yang paling parah terdampak gempa bumi. Data posko penangananan di desa setempat menyebutkan, tercatat 1.300 lebih rumah warga, 11 bangunan sekolah, 2 masjid dan 1 musholah rusak akibat gempa.

Dari jumlah penduduk desa sebanyak 17.471 jiwa, hingga kini, 80 persen warga masih berada di tenda pengungsian.

“Semuanya mengungsi. Tapi sekarang memang ada yang kalau siang, itu ke rumah. Malam kembali ke kamp pengungsian,” kata Pjs Kepala Desa Liang, Ramlan Tuasikal.

Ramlan mengakui, bantuan kebutuhan pokok berupa mie instan, telur, minyak goreng, untuk warga lumayan lancar. Bantuan-bantuan itu berasal dari pemerintah daerah, LSM, organisasi masyarakat, individu maupu swasta.

Namun, yang masih kurang adalah beras dan terpal. Dengan menghitung semua kepala keluarga (KK) yang berjumlah 3.279, maka 1 kilogram beras yang harus didistribusikan per hari sebanyak 3 ton.

Jumlah ini tidak sebanding dengan pasokan bantuan beras yang masuk ke posko. “Itu untuk satu kali penyaluran. Sementara bantuan yang masuk 3-4 hari baru bisa sampai ton,” jelasnya.

Sejak gempa awal hingga kemarin, pihaknya baru lima kali membagikan bantuan beras kepada warga yang terdampak gempa. “Jadi yang kurang itu memang beras,” tuturnya.

Selain itu, terpal untuk pembuatan tenda juga masih kurang. Total terpal yang telah masuk ke Posko Desa Liang sekira 500-600 buah, dia menilai, bantuan terpal tidak sebanding dengan jumlah kepala keluarga yang mengungsi.

“Kemudian kebutuhan terpal untuk tenda. Karena memng masih kurang, dan sebagian sudah rusak. Sementara ada juga yang belum dapat sampai sekarang. Kita mau lihat yang mana,” keluhnya.

Minimnya ketersediaan terpal menyebabkan masalah di lokasi pengungsian. Pada awalnya, satu tenda bisa menampung 7 hingga 8 KK. Namun belakangan terjadi konflik internal di dalam tenda.

Masalah lain yang menurut Ramlan perlu mendapat perhatian langsung adalah kebutuhan Mandi Cuci Kakus (MCK). Jumlah MCK yang sedikit menyebabkan pengungsi yang berada daerah ketinggian, harus mengeluar uang Rp 10 ribu untuk sekali buang air besar.

“Memang sudah ada (MCK) tetapi tidak sebanding dengan jumlah pengungsi. Selain itu, pengungsi yang ada di daerah ketinggian dan berbatu, kesulitan memperoleh air bersih. Sehingga kalau mau buang air, maka mereka harus mengeluarkan,” ungkapnya.

Presiden Jokowi direncakan berkunjung ke Liang, Selasa (29/10). Bila berksempatan berjumpa, Ramlan mewakili masyarakat Liang, akan menyampaikan beberapa kebutuhan mendasar kepada Jokowi.

“Kami akan sampaikan secara langsung ke bapak presiden, bahwa kami butuh pembangunan jalan ke jalur-jalur evakuasi dan listrik di lokasi pengungsian. Itu yang kami mintakan langsung dari presiden nanti,” ucapnya.