Konten Media Partner

Saling Jegal Antar Pasangan Calon Warnai Debat Kandidat Cagub Maluku

Ambonnesia

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saling Jegal Antar Pasangan Calon Warnai Debat Kandidat Cagub Maluku
zoom-in-whitePerbesar

Ambon,- Debat kandidat putaran pertama Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di Baileo Siwalima, Karang Panjang, Ambon, Senin, (7/5) malam diwarnai aksi saling jegal antara Pasangan Calon (Paslon) nomor urut satu Said Assagaf-Anderias Rentanubun dan nomor urut dua, Murad Ismail-Barnabas Orno.

Sementara pasangan nomor urut tiga Herman Koedobon dan Abdullah Vanath lebih memilih bermain aman dalam debat pilkada putaran pertama itu.

Tingginya tingkat Kemiskinan Maluku yang kini menduduki urutan 30 dari 34 provinsi di Indonesia menjadi senjata andalan (Paslon) gubernur Maluku Murad Ismail dan Barnabas Orno untuk menjatuhkan petahana dalam sesi tanya jawab antar paslon.

Paslon Gunernur Maluku yang diusung sembilan partai politik itu, mempertanyakan Said Assagaff yang menyeret nama Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti terkait tingginya angka kemiskinan di Maluku.

Apalagi, dalam beberapa kesempatan, kata Murad, Said Assagaff justru melemparkan tanggung jawab mengatasi angka kemiskinan di Maluku kepada Bupati maupun Walikota.

"Apa sih kerjanya seorang gubernur kalau urusan masyarakat miskin sudah jadi tanggung jawab bupati dan walikota,?" tanya Murad Ismail kepada Assagaff diikuti tepuk tangan riuh pendukungnya yang hadir di Baileo Siwalima.

Menanggapi hal tersebut Assagaf malah berpedoman pada undang-undang otonomi daerah. Sebab menurutnya, tingkat Kemiskinan di Maluku didominasi masyarakat pedesaan.

Itu artinya, masyarakat ekonomi rendah harusnya menjadi perhatian penuh pemerintah di tingkat kabupaten melalui kucuran Anggaran Dana Desa (ADD) yang diberikan langsung pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten, kota.

"Sekarang anggaran desa semuanya diberikan kepada bupati lalu dimana tanggung jawab bupati?," tanya Assaggaf balik.

Tensi panas mulai meningkat ketika petahana menyinggung, Barnabas Orno selaku Bupati non aktif Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) sebagai penyumbang angka kemiskinan nomor satu di Maluku dengan jumlah 28 persen.

"Penyumbang kemiskinan terbanyak yang pertama adalah MBD, lalu Maluku Tenggara Barat diikuti oleh Kepulauan Aru, tapi dua kabupaten ini angka kemiskinannya sudah menurun drastis," kata Assagaff.

Tidak terima dengan pernyataan Said Assagaff, Barnabas Orno yang berpasangan dengan Murad Ismail balik menyalahkan Said Assagaff.

Menurutnya, indikator yang menjadikan Kabupaten MBD tertinggal dan termiskin adalah Pemerintah Provinsi Maluku tidak pernah mendukung program Pemerintah Kabupaten .

"Sejak menjadi Kepala Bappeda, Wakil Gubernur sampai dengan Gubernur hingga hari ini tidak pernah membuat apapun untuk MBD," ujarnya.

( Yusuf Samanery )