Public Speaking Bukan Bakat, tapi Kompetensi Kerja yang Harus Dikelola SDM

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Daffa Rizqulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Public speaking di tempat kerja sering dibayangkan sebagai pidato di atas panggung. Padahal ujian terberatnya datang saat pemimpin harus berbicara kepada banyak orang di momen paling sensitif, dan di situlah SDM berperan. Bayangkan Anda masuk ke panggilan Zoom bersama ratusan rekan kerja, lalu beberapa menit kemudian Anda tahu pekerjaan Anda berakhir. Itu yang dialami sekitar 900 karyawan Better.com, perusahaan kredit properti digital yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat. Mereka diberi tahu lewat panggilan video Zoom pada 1 Desember 2021, dan karyawan di India ikut terdampak.
Kasus Better.com: Public Speaking Pemimpin di Momen Sulit
CEO Better.com, Vishal Garg, menyampaikan bahwa pemutusan hubungan kerja berlaku seketika dan didasarkan pada alasan pasar, efisiensi, dan kinerja. Menurut laporan, karyawan di Amerika Serikat dijanjikan gaji satu bulan dan jaminan kesehatan dua bulan, lalu panggilan ditutup. Publik makin geram karena perusahaan baru saja mengumumkan suntikan dana sekitar US$750 juta.
Videonya viral. Garg kemudian meminta maaf lewat surat. Ia mengaku tetap bertanggung jawab atas keputusan PHK, tetapi mengakui cara menyampaikannya keliru dan mempermalukan karyawan. Surat itu ditujukan kepada karyawan yang tersisa, bukan mereka yang di-PHK. Dampaknya meluas: tiga pejabat bidang komunikasi, humas, dan pemasaran dilaporkan mengundurkan diri, dan Bloomberg melaporkan rencana go public perusahaan melalui SPAC ikut tertunda.
Ini Bukan Soal PHK, Tapi Soal Public Speaking Pemimpin
Perusahaan berhak mengambil keputusan sulit. Yang sering terlupa, keputusan itu baru “selesai” setelah disampaikan, dan penyampaian adalah keterampilan berbicara di depan orang banyak. Public speaking di kantor tidak hanya pidato di panggung. Ia juga momen ketika pemimpin berbicara kepada banyak orang pada saat paling sensitif.
Menurut saya, ada tiga kegagalan komunikasi di kasus ini. Pertama, format. Pesan yang paling menentukan hidup seseorang disampaikan satu arah, tanpa ruang bertanya. Kedua, konteks. Kabar buruk datang menjelang libur akhir tahun, tepat setelah kabar perusahaan mendapat dana besar. Pesan sepenting apa pun akan terdengar janggal bila tidak menjawab pertanyaan yang sudah ada di kepala audiens: “kalau uangnya ada, kenapa saya?” Ketiga, empati. Surat maaf Garg sendiri mengakui kurangnya penghargaan terhadap kontribusi karyawan.
Dampaknya juga tidak berhenti pada yang keluar. Karyawan yang bertahan menyaksikan bagaimana organisasi memperlakukan orang di saat genting. Kepercayaan terhadap pimpinan, reputasi perusahaan di mata calon pelamar, dan semangat tim ikut dipertaruhkan. Mundurnya para pejabat komunikasi dan tertundanya rencana go public menunjukkan harga yang harus dibayar.
Data: komunikasi dicari, tapi jarang dilatih
Pasar kerja sebenarnya sudah lama menghargai kemampuan ini. Dalam survei Job Outlook 2025 yang dilakukan NACE, asosiasi perekrut lulusan baru di Amerika Serikat, lebih dari dua pertiga pemberi kerja mencari kemampuan komunikasi lisan pada kandidat. Survei ini berfokus pada perekrutan lulusan baru di AS, tetapi arahnya jelas. Sementara itu, laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menempatkan kepemimpinan dan pengaruh sosial sebagai salah satu tiga keterampilan inti teratas, dengan kenaikan 22 poin persentase dibanding edisi 2023.
Ironinya, perusahaan menyaring pelamar berdasarkan kemampuan komunikasi, tetapi jarang melatih pimpinannya menyampaikan kabar berat. Kasus Better.com memperlihatkan akibatnya.
Mengapa cara bicara pemimpin membentuk budaya kerja?
Amy Edmondson dari Harvard memperkenalkan konsep psychological safety, yaitu keyakinan bersama anggota tim bahwa tim aman untuk mengambil risiko antarpribadi. Dalam penelitiannya terhadap 51 tim kerja di sebuah perusahaan manufaktur, rasa aman psikologis berkaitan dengan perilaku belajar, dan perilaku belajar itu menjembatani hubungan antara rasa aman dan kinerja tim. Penelitian ini terbit tahun 1999, tetapi menjadi rujukan dasar bidang ini.
Bahasa sederhananya, orang baru berani bicara, bertanya, dan mengaku salah kalau merasa aman. Rasa aman itu dibentuk antara lain oleh cara pemimpin berbicara. Pemimpin yang menyampaikan keputusan dengan dingin dan satu arah mengajarkan timnya bahwa bersuara itu berisiko. Ini kesimpulan saya dari konsep tersebut, bukan temuan langsung dari kasus Better.com.
Langkah SDM Melatih Public Speaking Pemimpin dan Karyawan
Bagi karyawan dan calon pemimpin. Latih berbicara di forum kecil dulu, seperti rapat tim atau sesi berbagi pengetahuan. Rekam diri sendiri, lalu minta umpan balik yang spesifik. Belajarlah menyusun pesan dalam urutan sederhana: apa yang diputuskan, mengapa, apa dampaknya bagi pendengar, dan apa yang bisa mereka lakukan.
Bagi HRD. Masukkan komunikasi di situasi sulit, seperti PHK, restrukturisasi, atau kabar kinerja buruk, ke dalam program pengembangan manajer. Gunakan simulasi dan role play, bukan seminar sehari. Siapkan kerangka pesan, bukan naskah kaku, dan pastikan selalu ada ruang tanya-jawab. Untuk keputusan yang menyangkut nasib individu, utamakan pertemuan tatap muka dengan atasan langsung dan HRD, bukan webinar massal. Ini rekomendasi saya, bukan standar baku.
Bagi perusahaan. Jadikan kemampuan komunikasi pemimpin sebagai bagian dari penilaian kinerja, misalnya lewat umpan balik 360 derajat. Libatkan tim komunikasi sejak awal perencanaan keputusan besar, bukan sekadar membersihkan dampaknya. Kasus Better.com juga mengingatkan bahwa fungsi komunikasi yang baru dipanggil setelah krisis sudah terlambat.
Penutup
Keputusan bisnis bisa benar secara hitungan dan tetap gagal secara manusiawi karena cara menyampaikannya. Public speaking dalam manajemen SDM bukan soal siapa yang paling fasih di podium, melainkan siapa yang mampu berbicara dengan jelas, jujur, dan menghormati pendengarnya saat taruhannya paling tinggi. Pertanyaan bagi setiap organisasi: kalau besok pemimpin kita harus menyampaikan kabar terberat, apakah kita sudah pernah melatihnya?
