kumparan
6 Feb 2019 19:34 WIB

Oh, Begini Rasanya Jadi Anak kumparan yang Sesungguhnya

Saya bukan jurnalis. Bukan pula seseorang yang hobi menulis. Tetapi puisi menjadi salah satu alasan saya bisa menulis dengan romantis (ciyeh :p).
ADVERTISEMENT
Begitu juga dengan mendesain. Saya bukan desainer grafis. Bukan pula seseorang yang hobi menggambar. Tetapi cita-cita terpendam untuk bisa menjadi seorang pelukis lah yang kadang membangkitkan keberanian saya untuk bermain dengan warna, desain, dan gambar.
Mengenal kumparan dari sejak awal ia berdiri (walau secara tidak langsung), masih membuat saya terkagum-kagum sampai saat ini. Teringat jelas cerita awal bagaimana dulu kami bisa berhubungan baik sampai sekarang. Rasanya, saya patut berterima kasih kepada kantor terdahulu (yang adalah sebuah recruitment agency di Jakarta Pusat) yang telah mempertemukan kami.
(Dok. pribadi)
Berbekal embel-embel seorang Recruitment Consultant dan informasi terbatas mengenai kumparan (karena saat itu belum ada website ataupun sumber informasi lain mengenai kumparan), bertemulah kami dengan mbak Ine Yordenaya dan mas Heru Tjatur di sebuah co-working space di wilayah Jl. Bangka XII, Jakarta Selatan. Saat itu, banyak yang kami bicarakan. Dimulai dari perkenalan siapa mereka dan kemudian semua mengenai kumparan.
ADVERTISEMENT
Menarik. Itu satu kata yang terlintas di benak saya begitu tahu optimisme yang terpancar dari wajah salah satu pendiri kumparan tersebut. Saya bisa percaya begitu banyak hal istimewa dan menakjubkan yang akan keluar dari sebuah kumparan nantinya. Selain itu, saya juga menjadi tertantang untuk bisa berpartisipasi dalam memberikan karyawan terbaik di kumparan.
“Gampang nggak ngebujuk orang yang udah nyaman dengan tempat kerjanya buat pindah ke kumparan waktu itu?”
Oh, tentu saja ..… sulit. Hahaha. Banyak faktor pastinya. Company baru, belum ada website, belum jelas produknya apa, dan ke mana arahnya. Walaupun sudah menggunakan jurus mujarab seperti “pendirinya adalah mantan pendiri you-know-lah”, tetap saja banyak orang yang sangsi.
“Berarti sedikit dong yang mau ke kumparan saat itu?”
ADVERTISEMENT
Oh, tentu saja tidak. Banyak juga yang tertarik, tertantang, dan penasaran akan jadi apa mereka nanti dan bisa memberikan apa untuk kumparan nantinya :). Singkatnya, saya sudah berhasil memberikan beberapa kandidat dan pada akhirnya mereka secara resmi menjadi karyawan kumparan. Yay!
Waktu berganti, permintaan kandidat semakin banyak dan nama kumparan pun mulai terdengar di telinga orang. Ditambah dengan berbagai gebrakan acara-acara seru dari kumparan yang memang unik dan tidak pernah dibuat oleh company mana pun.
Pada akhirnya, semua itu membuat banyak orang di luar sana aware akan kehadiran kumparan dan tertarik untuk bisa menjadi bagian dari kumparan. Ada kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagian (secara tidak langsung) dari kumparan yang secara tidak sadar berhasil menumbuhkan keinginan untuk bisa suatu hari nanti jadi anak kumparan.
(Dok. Andre Guerra - Unsplash)
Pucuk dicinta, ulam tiba. Suatu siang, tiba-tiba telepon saya berbunyi dan ada suara mbak Gelies di seberang telepon menyapa saya.
ADVERTISEMENT
Awalnya, saya mengira dia akan memberikan beberapa posisi baru lagi untuk dicarikan kandidatnya, tetapi ternyata… “Shi, lo masih open nggak?” *Jengjettt* Kaget lah pastinya. Karena saya langsung merasa Yang Maha Mendengar betul menjawab kegalauan hati saya yang saat itu memang sedang risau karena banyaknya drama bermunculan, baik di ranah personal maupun profesional.
(Dok. HR kumparan)
Singkat cerita, kini, bekerjalah saya di sebuah rumah besar yang telah disulap menjadi sebuah kantor di Jakarta Selatan, kumparan. Saya menjadi salah satu dari lima Recruitment Specialist di sini, yang tentu saja, pekerjaan sehari-harinya adalah mencari dan merekrut karyawan terbaik dari yang terbaik untuk kumparan :).
Apa aja, Osh, yang udah lo dapet dari kumparan?
Banyak banget. Lebih kepada pengalaman-pengalaman tidak terduga dan tidak pernah terbayangkan akan saya alami di kumparan.
ADVERTISEMENT
Minggu pertama bekerja, proses penyesuaian diri bekerja di lingkungan yang sangat fast-pace. Bulan pertama bekerja, pengalaman pertama kali mengalami perjalanan dinas ke luar kota, Yogyakarta.
Pengalaman berikutnya pertama kali menghadiri job fair bukan sebagai pencari kerja melainkan sebagai tenant. Selain itu, pengalaman perdana menjadi bagian dari panitia yang mengurus acara kumparan Vekesyen, sekantor ke Bali.
Sejujurnya, yang paling tidak terlupakan adalah pengalaman dimarahin langsung oleh Presiden Komisaris kumparan, si Bapak Digital Indonesia (BDI) atau lebih dikenal dengan nama bapak Budiono Darsono. Rasanya? WOW. Hehehe.
(Dok. Twitter @BudionoDarsono)
Baper gak, Osh?
Hehe. Hehe. Menurut kalian aja bagaimana? But, it’s okay. Sangat oke kok. Saya tidak berbohong di sini. ‘Kan saya orangnya jujur :p.
ADVERTISEMENT
Saya juga sudah tenang berkat kata-kata menghangatkan mbak Ine ke saya, yang menyatakan kalau pak BDI selalu bermaksud baik dengan kata-kata beliau. Lagi pula, kalau saya tidak diingatkan oleh pak BDI, mungkin sampai saat ini saya, yang cuman remah abon ini, akan terus-terusan jadi graphic designer gadungan dari tim HR.
Hahaha. Maklum, anaknya sering penasaran ingin coba-coba :p. Yang jelas, dari pengalaman ini, saya belajar bahwa ada masanya di mana kita harus berhenti melakukan hal yang memang bukan untuk kita dan percaya ada orang lain yang memang ditujukan untuk membantu kita dalam hal itu.
Sudah genap 11 bulan kurang 6 hari saya bekerja di sini. Sudah banyak warna-warni yang mengisi hari. Saya semakin #percayakumparan bahwa cita-cita kami pasti akan terwujud dalam waktu dekat. Pasti.
ADVERTISEMENT
Sekarang, izinkan saya mengakhiri tulisan panjang ini dengan mengucapkan selamat untuk rumah kedua saya (Gapapa ya telat, yang penting doanya nggak :p).

Selamat Ulang Tahun, kumparan!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan