Konten dari Pengguna

Kepercayaan Diri di Bawah Payung Pantai: Kisah Ibu Siti Solihah

Amelia

Amelia

Undergraduate Communication Science Student at Universitas Padjadjaran

·waktu baca 4 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Langit pagi Pangandaran memantulkan cahaya yang cerah, memaksakan mata para pedagang untuk sedikit menyipit saat berjualan di kawasan Pantai Barat. Di antara pepohonan kelapa yang meneduhkan, berdiri sebuah payung besar berwarna gelap menaungi sebuah meja sederhana. Di bawah payung itu, tampak seorang perempuan dengan kaos merah panjang sedang menata botol air mineral, gelas plastik, dan minuman sachet yang digantung rapi. Ia mengenakan kerudung bergo abu-abu, celana hijau sederhana, dan tak beralas kaki. Nama perempuan itu adalah Siti Solihah, berusia 36 tahun, seorang pedagang minuman dan cuanki yang baru dua bulan pindah ke lokasi ini.

Gerobaknya penuh warna dari berbagai botol kemasan, banner biru bertuliskan “WARUNG MAMAH ERLAN”, dan beberapa gambar menu seperti minuman, es kelapa muda, dan cuanki. Di sampingnya berdiri tempat logam bertuliskan BASO dan CUANKY, menandakan bahwa selain minuman, ia juga menjajakan makanan panas yang cocok terhadap angin pantai yang kerap membuat tubuh dingin.

(Foto: Amelia)

Beberapa kelapa hijau tergeletak di atas potongan batang pohon kelapa yang dijadikan meja kecil. Di belakangnya, tumpukan kursi lipat serta alat memasak gas kecil ikut menjadi bagian dari pemandangan dagangannya. Dari semua itu, satu hal yang paling mencuri perhatian bukanlah banner atau dagangannya, tetapi cara Ibu Siti berbicara, matanya selalu menatap lawan bicara dengan percaya diri, dan susunan kalimatnya rapi seperti seseorang yang sudah terbiasa berbicara di depan banyak orang.

Namun siapa sangka, selain pedagang, Ibu Siti juga seorang sekretaris lingkungan. Jabatan itu tak sekadar sebutan, melainkan tanggung jawab yang ia jalankan, tugasnya adalah memastikan pengeluaran dan pemasukan dari masyarakat selama ada kegiatan lingkungan,” katanya singkat, seolah pekerjaan administrasi bukan hal yang besar dibanding dunia perdagangannya. Mungkin karena bagi Ibu Siti, dunia dagang adalah hal yang sudah ia sukai sejak lama. “Saya hobi berjualan,” ujarnya tersenyum.

Ibu Siti mulai berdagang di pantai karena pendapatan sebelumnya kurang stabil. Sebelum membuka usaha ini, ia menjual sayuran mentah di pasar Pangandaran, yang mana banyak orang disana sering berhutang kepadanya, dan ia tidak enak hati untuk menagih hutang tersebut, dikarenakan karakter orang yang berbeda-beda, “kadang ada yang ngerti, kadang ada yang sudah ngutang eh…malah diam-diam belanja di tempat lain” ujarnya. Ia mencari tempat yang menjanjikan, tempat yang ramai setiap akhir pekan yaitu pantai wisata.

Ibu Siti sendiri memang mempunyai mimpi sejak dahulu, yaitu ia ingin memiliki usaha di depan pantai. Dan akhirnya tahun ini tercapai, setelah ia mengumpulkan uang dari hasil kerja kerasnya selama ini. Ia tidak menyewa tempat. Dengan keberanian yang tidak banyak dimiliki pedagang kecil, Ibu Siti membeli lapak seharga Rp65 juta. Kalimat itu ia ucapkan bukan dengan bangga berlebihan, melainkan dengan nada realistis yang meyakinkan bahwa ia tahu apa yang ia lakukan.

Di balik mejanya yang sederhana, ada harapan yang besar, yaitu ia ingin menyekolahkan anaknya hingga kuliah. “Punya cita-cita juga nambah usaha, buka grosir,” lanjutnya tanpa ragu. Ia memandang usahanya sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir. Seperti gelas plastik yang ia susun setiap hari, ia menyusun langkah-langkah hidup dengan sabar tapi pasti.

Ibu Siti tidak bekerja sendiri. Suaminya terkadang membantu membuka dan menutup warung, meski sebagian waktunya ia habiskan di kebun. Ketika hujan, suka tidak suka, mereka harus bersiap. “Kalau hujan dibungkus dulu biar nggak basah,” terangnya. Ia menunjukkan bagaimana mie instan, gas, hingga sachet harus segera diamankan. Tak ada keluhan, hanya adaptasi. “Namanya usaha, pasti ada tantangan, semua butuh proses, harus beradaptasi sama lingkungan.” Kalimat itu terdengar seperti prinsip hidup, bukan sekadar komentar soal cuaca.

Saat hari biasa, pelanggan Ibu Siti didominasi warga lokal. Namun pada akhir pekan, wajah-wajah wisatawan mulai memenuhi sekitar lapaknya. Dari sekian menu, cuanki dan minuman adalah yang paling sering dibeli, sedangkan wisatawan asing lebih sering membeli kelapa muda. Ketika sepi, Ibu Siti tidak gusar. Ia duduk sambil menikmati pemandangan laut, melihat pengunjung berfoto, atau sekadar membuka ponselnya. “Nikmat aja, sambil lihat pemandangan,” katanya sambil menatap ombak.

Di sela cerita usahanya, muncul satu pertanyaan: “Wisatawan di sini suka buang sampah sembarangan nggak, Bu?”

Ibu Siti menggeleng cepat. “Nggak. Kalau yang beli di sini justru baik-baik,” jawabnya mantap. Ia menambahkan bahwa pembeli yang membawa makanan sendiri pun tidak meninggalkan sampah begitu saja. “Biasanya malah dikumpulin terus nanya tempat sampah di mana,” ungkapnya.

Ternyata, Ibu Siti juga membeli tempat sampah untuk warungnya, dan sampahnya rutin diangkut tukang sampah. Penjelasannya terasa sederhana, tetapi menunjukkan betapa ia tidak hanya berdagang, tetapi juga menjaga lingkungan tempat ia mencari nafkah.

Sebelum kami pergi, ia menatap kami lembut dan berkata, “Terima kasih.” Sebuah kata yang sederhana namun penuh arti seakan kami bukan hanya pembeli, tapi saksi perjalanan hidupnya.

Di bawah payung yang menaungi meja minuman itu, Ibu Siti bukan sekadar pedagang. Ia adalah seorang ibu yang ingin anaknya kuliah, seorang warga yang mengabdi sebagai sekretaris lingkungan, dan seorang perempuan yang percaya bahwa hidup bisa diperbaiki bila seseorang berani memulai.