Event Gen Jazz: Ketika Musik Jazz Mengalun di Lokananta

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Amelia Misgi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di bekas studio rekaman tertua di Indonesia, nada-nada improvisasi kembali mengalun. Selasa (29/9/2026), Lokananta tak sekadar jadi saksi sejarah musik tanah air, tetapi juga panggung bagi musisi jazz Surakarta untuk bertukar gagasan dan bunyi. Saat itu, Gen Jazz digelar di Lokananta, Surakarta. Acara ini merupakan kolaborasi antara komunitas musik jazz yaitu Solo Jazz Society dan Lokananta, berbentuk perpaduan dua sesi showcase dan jam session.

Pada acara ini terdapat tiga penampil yang mengisi panggung: Blue Matter Trio, The Gioventu Project, dan Larasson. Ketiganya tampil dengan permainan yang memikat. Nada-nada dari berbagai instrumen saling bersahutan dan membangun suasana yang tenang. Ketiganya merupakan bagian dari Solo Jazz Society, komunitas penyelenggara acara ini.
“Untuk acara ini kami sama sekali tidak open submission, penampil pure dari komunitas sendiri (Solo Jazz Society)” kata Aufa, operator acara Gen Jazz.
Sejak sore, Lokananta sudah dipenuhi penonton, dan semakin malam jumlahnya kian bertambah. Suasananya santai, tetapi tetap hangat. Sebagian duduk tenang sambil menikmati alunan jazz, ada yang mengobrol dan menyantap makanan, ada pula yang menyimak penampilan dengan serius sambil larut dalam irama. Sesekali para penampil menyapa penonton di sela lagu untuk memangkas jarak antara musisi dan penonton.
Gen Jazz hadir dengan tiga tujuan utama. Pertama, memberi ruang bagi musisi untuk tampil. Kedua, mempertemukan mereka agar bisa berinteraksi. Ketiga, menjadi wadah belajar, baik antarmusisi maupun bagi generasi yang baru mengenal jazz. Di balik itu semua ada harapan yang lebih besar: menghidupkan kembali skena jazz di Surakarta.
"Mungkin di Lokananta baru pertama kali ini ya dan mungkin akan dibikin rutin. Tapi secara kolektif Lokananta banyak menyelenggarakan kegiatan serupa, kita multigenre gak cuma jazz aja." ujar Aufa. Hal ini menunjukkan komitmen Lokananta untuk terus menjadi ruang bagi beragam ekspresi musik.
Pemandangan sore itu terasa menarik karena penggemar jazz selama ini identik dengan kalangan yang lebih dewasa, sementara Lokananta justru lekat dengan anak muda. Maka, menghadirkan jazz di ruang yang akrab bagi generasi muda bukanlah hal yang janggal. Justru di situlah jazz punya peluang untuk dikenalkan kepada penikmat baru.
Gen Jazz mungkin hanya berlangsung sehari, tetapi semangatnya layak dirawat. Skena musik tidak tumbuh dari panggung besar semata, melainkan dari ruang-ruang kecil tempat musisi berani bermain, belajar, dan mencoba lagi. Jika ruang seperti ini terus dibuka, bukan mustahil jazz Surakarta kembali berdenting lebih lantang.
