Konten dari Pengguna

Makanan, Kerinduan, dan Rumah: Jejak Memori Eksil Politik dalam Novel Pulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari amelia putri mardiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 kumpulan seseorang yang menantikan kepulangan. Ilustrasi ini menggambarkan kerinduan terhadap Tanah Air. Dibuat dan diedit sendiri menggunakan Canva.
zoom-in-whitePerbesar
kumpulan seseorang yang menantikan kepulangan. Ilustrasi ini menggambarkan kerinduan terhadap Tanah Air. Dibuat dan diedit sendiri menggunakan Canva.

Kalau suatu hari kamu dilarang pulang, apa yang akan paling kamu rindukan: orangnya, rumahnya, atau rasa masakan di meja makan?

Ada aroma yang tidak bisa dipindahkan lewat paspor. Aroma itu tertinggal di dapur, di kepala, dan di ujung lidah orang-orang yang dipaksa pergi dari negerinya. Dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori tentang para eksil politik peristiwa 1965, aroma itulah yang menjadi tanah air terakhir mereka. Dimas Suryo dan sahabat-sahabatnya tidak pernah memilih menjadi pengembara. Mereka sedang berada di luar negeri ketika prahara 1965 meletus di tanah air. Paspor mereka dicabut, dan seketika kata "pulang" menjadi kata yang paling mahal di dunia. Negara tak lagi mengakui mereka, tetapi tubuh mereka masih ingat caranya lapar, caranya rindu, dan caranya mengiris bawang di dapur ibu.

Dapur dan memori eksil politik dalam novel Pulang. Dari ingatan tubuh itulah lahir Restoran Tanah Air di Paris. Di atas kertas, ia hanyalah usaha untuk bertahan hidup: empat lelaki buangan yang perlu makan dan perlu bekerja. Namun nama yang mereka pilih mengatakan lebih banyak. Mereka tidak menamai tempat itu dengan nama pemilik atau nama jalan, melainkan Tanah Air, seolah dapur kecil itu satu-satunya wilayah yang masih bisa mereka kuasai. Setiap piring yang keluar dari pintu dapur menjadi pernyataan yang tidak diucapkan: kami masih ada, dan kami masih berasal dari sana. Di sinilah makanan berhenti menjadi sekadar urusan perut. Sejarah resmi bisa ditulis ulang oleh siapa pun yang berkuasa, buku pelajaran bisa dicetak ulang, nama-nama bisa dihapus dari catatan. Tetapi lidah tidak mudah dibohongi. Rasa adalah arsip yang tidak bisa disensor dan tidak bisa dicabut seperti paspor. Sejumput cengkih, sebutir kunyit, santan yang pecah di atas api: semuanya bekerja seperti pintu kecil menuju masa lalu. Cukup satu hirupan, dan seorang lelaki di Paris mendadak berdiri kembali di dapur kampungnya. Para eksil itu tahu betul bahwa masakan mereka tidak akan pernah persis sama dengan yang diingat. Airnya berbeda, apinya berbeda, udaranya berbeda, bahkan rempah yang tersedia pun hanya mendekati yang asli. Namun mereka terus mencoba, karena setiap percobaan adalah cara menjaga agar ingatan tidak memudar. Bagi orang yang dibuang, mengingat adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi, dan memasak adalah cara paling sederhana untuk melakukannya setiap hari. Makna rumah dan kerinduan dalam novel Pulang. Kerinduan, bagaimanapun, tidak pernah berjalan satu arah. Di seberang benua, di Jakarta, keluarga yang ditinggalkan menjalani hari-hari di bawah tatapan curiga. Label "keluarga tersangkut" menempel pada mereka bertahun-tahun, memagari pekerjaan, pergaulan, bahkan cara mereka berbicara. Mereka tetap makan, tetapi tidak pernah benar-benar utuh. Setiap suapan nasi ditelan bersama kecemasan akan siapa yang mengawasi dan siapa yang akan melapor. Maka terbentuklah dua meja makan di dua benua dengan satu kursi kosong yang sama. Yang satu mengolah rasa untuk orang asing, yang lain menelan hidangan sambil menahan napas. Keduanya dipisahkan oleh keputusan politik yang tak pernah mereka ambil, tetapi harus mereka bayar seumur hidup. Di titik ini Pulang terasa paling getir, sebab ia mengingatkan bahwa harga sebuah tragedi politik tidak hanya dibayar oleh mereka yang dipenjara atau dibuang. Ia juga dibayar oleh anak-anak yang tumbuh tanpa ayah di meja makan, dan oleh istri yang terus menyiapkan piring untuk seseorang yang mungkin tak akan pernah duduk di sana. Lalu datanglah generasi yang tidak ikut memilih apa pun, tetapi ikut memanggul semuanya. Lintang Utara, anak Dimas yang lahir dan besar di Prancis, tidak pernah kehilangan rumah karena ia belum pernah memilikinya. Namun ia mewarisi kehilangan itu, utuh seperti warisan yang tidak bisa ditolak. Ia mengenal Indonesia lewat cerita ayahnya yang sering terhenti di tengah kalimat, dan lewat rasa masakan yang asal-usulnya tak pernah benar-benar ia pahami. Para peneliti menyebut gejala ini postmemory, yaitu ingatan tentang peristiwa yang tidak dialami sendiri, tetapi begitu kuat diwariskan sehingga terasa seperti milik sendiri. Lintang mengenal sebuah negeri lewat lidah jauh sebelum mengenalnya lewat peta. Ketika Lintang akhirnya berangkat ke Indonesia dan tiba di tengah gejolak Mei 1998, ia tidak datang sebagai turis. Ia datang sebagai peziarah yang membawa ingatan orang lain di dalam tubuhnya sendiri. Di situlah novel ini mengajukan pertanyaan yang paling jujur: kalau akhirnya boleh pulang, sebenarnya ke mana kita pulang? Rumah di dalam ingatan para eksil adalah rumah yang membeku di tahun kepergian mereka. Rumah yang nyata terus bergerak, dengan jalan yang berganti, wajah yang menua, dan kota yang tak lagi mengenali penghuninya. Orang bisa tiba di tanah kelahirannya dan tetap merasa tersesat, sebab yang ia cari bukan tempat, melainkan waktu yang sudah lewat. Barangkali karena itu jawaban Pulang terasa begitu lembut. Rumah bukan sesuatu yang harus selalu dikunjungi. Rumah adalah sesuatu yang dibawa: di dalam resep yang diwariskan, di dalam rasa yang dijaga, dan di dalam kebiasaan duduk serta menyuap bersama, bahkan ketika tak ada jaminan bahwa esok hari masih milik kita. Seorang eksil bisa merasa lebih pulang di dapur kecil di Paris, tempat bau bumbu membuat segalanya terasa dekat, daripada di tanah kelahirannya sendiri yang sudah berubah. Membaca Pulang lewat dapurnya mengubah cara kita memandang sejarah. Ia tak lagi hanya berisi tahun, angka korban, dan nama-nama besar, tetapi juga uap panci, bumbu yang dicari-cari, dan meja yang menunggu penghuninya. Di negeri yang masih terus belajar berdamai dengan ingatan tentang 1965, novel ini mengajak kita melihat para eksil sebagai manusia yang mencintai tanah airnya sampai ke aromanya yang paling halus. Maka sebelum menutup tulisan ini, coba tanyakan pada diri sendiri: hidangan apa yang paling cepat membuatmu merasa pulang?