UNNES GIAT 16 Bersama Warga Tambakrejo Gelar Pelatihan Eco-Enzyme Dukung SDGs

Mahasiswa Geografi Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari AMELIA RAHAYU tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semarang - Sampah organik rumah tangga, seperti kulit buah, kerap kali langsung dibuang begitu saja tanpa sempat diolah, padahal limbah tersebut sebenarnya berpotensi diolah kembali menjadi eco-enzyme yang bermanfaat bagi lingkungan. Menyikapi hal tersebut, mahasiswa UNNES GIAT 16 mengadakan sosialisasi bertajuk “Pengelolaan Sampah Organik Terpadu melalui Pemanfaatan Eco-Enzyme” pada Minggu, 19 Juli 2026, bertempat di Posyandu RW 05, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, guna mengenalkan pemanfaatan limbah organik kepada masyarakat setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) Saka Energi Muriah Limited melalui kerja sama dengan LPPM Universitas Negeri Semarang (UNNES). Dengan mengusung tagline “Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa”, kegiatan ini menjadi upaya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kegiatan diikuti oleh perwakilan Bank Sampah RW 05 dan RW 07 serta kelompok tani Kelurahan Tambakrejo. Acara dibuka oleh Prof. Nana Kariada Tri Martuti, M.Si., Kepala Subdirektorat Konservasi Universitas Negeri Semarang, yang menekankan pentingnya pemanfaatan limbah organik dan tata kelola yang tertib dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan sampah.
“Pengelolaan sampah yang baik dimulai dari pemanfaatan limbah organik dan didukung dengan administrasi yang tertib agar manfaatnya dapat berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Rahmanuddin, Staff Subdirektorat Konservasi Universitas Negeri Semarang. Ia menjelaskan bahwa sampah organik tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga dapat diolah menjadi eco-enzyme yang bermanfaat bagi lingkungan. “Sampah organik bukan limbah, tetapi sumber daya yang bisa dimanfaatkan melalui eco-enzyme,” jelas Rahmanuddin. Materi yang disampaikan meliputi pengertian, manfaat, bahan dan komposisi pembuatan eco-enzyme, serta pentingnya pemilahan sampah organik sejak dari sumber sebagai langkah awal pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti demonstrasi pembuatan eco-enzyme menggunakan kulit buah, molase, dan air, mulai dari proses pencampuran hingga penyimpanan untuk fermentasi.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Kelurahan Tambakrejo diharapkan semakin memahami bahwa pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah tangga masing-masing. Apresiasi disampaikan oleh para peserta Bank Sampah RW 05 karena kegiatan ini memberikan pengetahuan baru tentang pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme dan berharap masyarakat dapat menerapkannya secara berkelanjutan. Pemanfaatan limbah organik menjadi eco-enzyme merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi sampah sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan ke-12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab)
Kegiatan ini diharapkan mendorong masyarakat menerapkan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi masyarakat, mahasiswa KKN UNNES GIAT 16, dan berbagai pihak terkait, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian lingkungan, sejalan dengan semangat "Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa."
