Mendengar dan Berpikir Kritis: Kunci Public Speaking

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Amelia Salsabila putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan Rani, mahasiswa yang dikenal lancar bicara. Di sebuah rapat organisasi, ia langsung mengajukan idenya dengan semangat. Belum sampai lima menit, ketua rapat menyela pelan: “Tadi Dimas sudah bilang, ide itu pernah dicoba dan gagal.” Rani terdiam. Ia pandai berbicara, tetapi tidak mendengarkan.
Banyak orang mengira public speaking hanya soal berani tampil dan lancar berucap. Padahal, pembicara yang baik justru bekerja sebelum membuka mulut: ia mendengar, memahami, lalu berpikir.
Mendengar itu aktif, bukan sekadar diam
Ada perbedaan besar antara mendengar dan mendengarkan. Mendengarkan secara aktif berarti ikut terlibat: kita ingin paham maksud lawan bicara, bukan sekadar menunggu giliran bicara. Para ahli menyebut ini sebagai keterampilan yang melampaui sekadar menangkap kata (Simply Psychology; penjelasan lain ada di Verywell Mind).
Caranya sederhana, Hadapkan badan dan tatap pembicara. Jangan menyela, bahkan ketika kita merasa sudah tahu arah ucapannya. Lalu ulangi pokok pembicaraannya dengan kata-kata sendiri, misalnya, “Jadi maksudmu, ide ini berisiko karena pernah gagal?” Kalimat seperti itu membuat orang merasa didengar, sekaligus memastikan kita tidak salah paham. Jawablah sesuai topik yang dibahas, bukan sesuai perasaan kita terhadap orangnya.
Mendengarkan pasif pun punya tempat. Saat menonton presentasi atau mendengar pidato, kita memang tidak perlu menyela. Masalahnya muncul ketika kita pasif di saat yang seharusnya aktif, seperti dalam rapat atau wawancara kerja, sehingga informasi penting terlewat dan kesan kita jadi kurang serius.
Berpikir kritis: menimbang sebelum menyimpulkan
Berpikir kritis bukan berarti suka mengkritik. Menurut Monash University, berpikir kritis adalah menimbang dan menilai apa yang kita baca, dengar, ucapkan, atau tulis, sehingga keputusan didasarkan pada informasi yang bisa dipercaya.
Dalam public speaking, artinya kita memeriksa dulu apakah data yang akan kita sampaikan benar, mencari alasan di balik pendapat, dan membayangkan dampak ucapan kita bagi pendengar. Kita juga perlu terbiasa bertanya ketika ragu, sebelum mengambil kesimpulan atau menyampaikan pendapat.
Kesimpulan
Mendengar aktif dan berpikir kritis adalah dua pondasi public speaking. Yang pertama membuat kita memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan lawan bicara atau audiens. Yang kedua memastikan apa yang kita sampaikan masuk akal, akurat, dan berguna. Tanpa keduanya, kefasihan bicara hanya menghasilk2an suara, bukan pengaruh.
Solusi yang bisa dicoba mulai hari ini
Mulailah dari percakapan sehari-hari. Saat teman bercerita, tahan keinginan untuk menyela dan baru berpendapat setelah ia selesai. Sebelum menjawab, ulangi dulu poin utamanya dengan kata-katamu sendiri.
Sebelum berbicara di rapat atau presentasi, tanyakan pada diri sendiri tiga hal: apakah datanya benar, apa alasan di balik pendapat saya, dan bagaimana dampaknya bagi pendengar. Terakhir, biasakan bertanya ketika ragu. Satu pertanyaan yang tepat sering menyelamatkan kita dari keputusan yang keliru.
Rani, tokoh kita tadi, bisa mulai dari hal kecil: di rapat berikutnya, dengarkan tiga pendapat sebelum mengusulkan idenya sendiri. Bisa jadi idenya justru menjadi lebih kuat.
