Konten dari Pengguna

"Parasite: Why Do Poor People Have to Be Useful to Be Seen?"

Amelia Renata Putri

Amelia Renata Putri

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amelia Renata Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi pribadi penulis

In Parasite, not everyone is given the right to simply exist. Some people have to be useful first before their presence is accepted.

Bong Joon-ho’s film is often discussed as a story about class inequality. The Park family lives in a beautiful house, while the Kim family struggles to survive in a semi-basement apartment. But there is another, quieter idea beneath the class conflict: a person’s place in society often depends on what they can do for others.

The Kim family does not enter the Park household simply because they need money. Each member has a function. Ki-woo becomes a tutor, Ki-jung teaches art, Ki-taek becomes a driver, and Chung-sook becomes a housekeeper. Their presence in the Park home becomes acceptable because they are useful.

The Park family, however, does not have to explain why they deserve to be there. They can sit, rest, hold parties, or spend time together without proving that their existence produces anything. They simply have the privilege of being there.

This contrast becomes even clearer through Geun-sae, the man secretly living in the bunker beneath the Park house. He is physically inside the house, yet socially invisible. Without a job, status, or recognized role, his existence is almost completely hidden. He survives by depending on the lives of others.

This is where Parasite becomes more than a film about the rich and the poor. It reveals a culture that quietly teaches people that they need a function in order to have value.

Even when the Kim family becomes useful to the Parks, they are never truly accepted. Mr. Park’s comments about their “smell” remind them that working for the rich does not erase the social boundary between them. They can enter the house, but they still do not fully belong there.

Perhaps that is why the film’s ending feels so disturbing. What builds up is not only poverty, but also humiliation, inequality, and the feeling that a person must constantly prove that they deserve a place.

Parasite therefore asks a more uncomfortable question than simply, “Who is rich and who is poor?”

Why do some people have to be useful to be considered worthy of being there, while others are allowed to simply exist?

Thank you.

-----------------------------------------------------------------------------------

Parasite: Mengapa Orang Miskin Harus Berguna untuk Dianggap Ada?

Di dunia Parasite, tidak semua orang diberi hak untuk sekadar ada. Sebagian orang harus berguna terlebih dahulu agar keberadaannya diterima.

Film karya Bong Joon-ho ini memang sering dibaca sebagai cerita tentang kesenjangan kelas. Rumah keluarga Park berada di atas, sementara keluarga Kim hidup di semi-basement yang hampir tidak memiliki privasi. Namun, ada sesuatu yang lebih kecil dan mungkin lebih mengganggu: cara seseorang mendapatkan tempat di masyarakat ternyata sangat bergantung pada apa yang bisa ia lakukan untuk orang lain.

Keluarga Kim tidak masuk ke rumah keluarga Park hanya karena mereka membutuhkan pekerjaan. Mereka masuk karena masing-masing memiliki fungsi. Ki-woo menjadi guru les, Ki-jung mengajar seni, Ki-taek menjadi sopir, dan Chung-sook menjadi pembantu rumah tangga. Kehadiran mereka di rumah tersebut menjadi “masuk akal” karena mereka berguna.

Sebaliknya, keluarga Park tidak perlu menjelaskan mengapa mereka layak berada di rumah besar itu. Mereka bisa duduk, beristirahat, mengadakan pesta, atau menikmati waktu bersama tanpa harus membuktikan bahwa keberadaan mereka menghasilkan sesuatu. Mereka memiliki hak untuk sekadar hadir.

Kontras ini semakin terlihat melalui sosok Geun-sae, pria yang bersembunyi di bunker rumah Park. Ia memang berada di dalam rumah tersebut, tetapi keberadaannya hampir sepenuhnya tidak terlihat. Ia tidak memiliki pekerjaan, status, atau fungsi yang membuat masyarakat mengakui dirinya. Ia hanya bisa bertahan dengan hidup di balik keberadaan orang lain.

Di sinilah Parasite terasa lebih dari sekadar cerita tentang kaya dan miskin. Film ini memperlihatkan sebuah budaya yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa manusia harus memiliki fungsi agar dianggap bernilai.

Bahkan ketika keluarga Kim sudah bekerja untuk keluarga Park, mereka tetap tidak benar-benar diterima. Komentar tentang “bau” menjadi pengingat bahwa bekerja untuk orang kaya tidak otomatis membuat seseorang menjadi bagian dari dunia mereka. Mereka boleh hadir selama mereka menjalankan peran, tetapi batas sosial tetap ada.

Mungkin karena itu, tragedi di akhir film terasa begitu kuat. Yang menumpuk bukan hanya kemiskinan, tetapi juga penghinaan, ketidaksetaraan, dan perasaan bahwa seseorang harus terus membuktikan dirinya agar pantas berada di suatu tempat.

Parasite akhirnya mengajukan pertanyaan yang lebih tidak nyaman daripada sekadar “siapa yang kaya dan siapa yang miskin?”

Mengapa sebagian orang harus berguna agar dianggap ada, sementara sebagian lainnya cukup dengan hadir?

Terima kasih.