Konten dari Pengguna

Exam: We Never Get to Choose the Question

Amelia Renata Putri

Amelia Renata Putri

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amelia Renata Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Poster Film Exam 2009
zoom-in-whitePerbesar
Poster Film Exam 2009

Since childhood, we have been taught to look for answers.

At school, we are given questions and asked to solve them. At university, we receive assignments and figure out how to complete them. At work, we are given targets and expected to achieve them. Even in our personal lives, we often feel pressured to find answers to questions such as, “When will you graduate?”, “When will you get a job?”, or “When will you get married?”

But there is one thing we rarely ask:

Who decided the question in the first place?

This simple question becomes interesting when we look at Exam (2009), a psychological thriller directed by Stuart Hazeldine. The film follows eight candidates who enter a room to compete for a single job position. They are given a limited amount of time and several strict rules to follow.

The problem is that when the exam begins, they cannot find any questions on their papers.

The papers are blank.

Instead of considering that there might be no question to find, the candidates immediately try to figure out what they are supposed to do. They examine the papers, test different possibilities, discuss their ideas, suspect one another, and gradually become trapped in a situation they do not fully understand.

The audience does the same thing.

We start asking: What is the question?

This is where the film quietly becomes more interesting than a simple puzzle.

The candidates are not only being tested on whether they can find an answer. They first accept the assumption that there must be a question that needs to be answered.

They do not question the structure of the test. They simply play the game.

And don’t we often do the same thing?

We can spend years chasing something simply because we were told that it was something worth chasing.

A student may feel that they need a high GPA. After graduation, they may feel that they need to find a good job immediately. Once they have a job, they may feel that they need a higher position. Then perhaps they need to buy a house, get married, own a car, or reach a certain level of success before a certain age.

All of these can start to feel like questions that must be answered.

“When will you be successful?”

So we spend our time looking for the answer.

But we rarely stop and ask:

“Why do I have to define success that way?”

This is what makes Exam more interesting than its final twist. The film shows how easily people accept a framework when it comes from someone they believe has authority.

An instruction is given, so we follow it.

A target is set, so we chase it.

A standard is created, so we try to meet it.

Yet the ability to question a problem can sometimes be just as important as the ability to solve it.

Ironically, education often trains us to find the correct answer, but does not always teach us to feel comfortable questioning the question itself.

We learn that every problem has an answer. We learn that good grades mean success. We learn that there are right and wrong choices.

But life does not always work like an exam.

Not everyone has to answer the same questions.

Not everyone has to measure success in the same way.

And not every problem given to us has to become our problem.

That may be why Exam still feels relevant even years after its release. The eight people inside the room are not simply trying to solve an examination. They reflect something that often happens in real life: when a problem has already been defined for us, we sometimes forget that the definition itself can be questioned.

We become so busy looking for a way out that we forget to ask who decided where we were supposed to go.

In the end, the most interesting question in Exam is not simply, “What is the answer?”

It is:

“Have we ever chosen the question we are trying to answer?”

Maybe we do not always need a new answer.

Maybe, sometimes, we simply need the courage to ask whether the question was ever ours to begin with.

Thank you.

-----------------------------------------------------------------------------------

Exam: Kita Tidak Pernah Memilih Pertanyaannya

Sejak kecil, kita terbiasa mencari jawaban.

Di sekolah, kita diberi soal lalu diminta menjawab. Di kampus, kita mendapat tugas dan mencari cara untuk menyelesaikannya. Ketika bekerja, kita menerima target dan berusaha mencapainya. Bahkan dalam kehidupan pribadi, kita sering merasa harus menemukan jawaban untuk pertanyaan seperti, “Kapan lulus?,” “Kapan dapat kerja?,” atau “Kapan menikah?”

Namun, ada satu hal yang jarang kita tanyakan:

Siapa yang menentukan pertanyaannya?

Pertanyaan sederhana ini menjadi menarik ketika melihat Exam (2009), film thriller psikologis garapan Stuart Hazeldine. Film ini mempertemukan delapan kandidat dalam sebuah ruangan untuk mengikuti ujian demi mendapatkan satu posisi pekerjaan. Mereka hanya diberi waktu terbatas dan beberapa aturan yang harus dipatuhi.

Masalahnya, ketika lembar ujian dibagikan, mereka tidak menemukan pertanyaan apa pun.

Mereka hanya menemukan kertas kosong.

Tentu saja, tidak ada yang langsung menganggap bahwa mungkin memang tidak ada pertanyaan yang harus dicari. Mereka justru berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan. Mereka memeriksa kertas, mencoba berbagai kemungkinan, berdiskusi, mencurigai kandidat lain, dan semakin lama semakin terjebak dalam situasi yang mereka sendiri tidak pahami.

Penonton pun ikut melakukan hal yang sama.

Kita ikut bertanya: Apa pertanyaannya?

Di situlah film ini diam-diam memainkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar teka-teki.

Para kandidat tidak hanya diuji untuk menemukan jawaban. Mereka terlebih dahulu menerima asumsi bahwa pasti ada sebuah pertanyaan yang harus mereka jawab.

Mereka tidak mempertanyakan kerangka permainannya. Mereka langsung bermain.

Dan bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun mengejar sesuatu hanya karena sejak awal kita diberi tahu bahwa itulah yang seharusnya dikejar.

Seorang mahasiswa mungkin merasa harus mendapatkan IPK tinggi. Setelah lulus, ia merasa harus segera mendapatkan pekerjaan. Setelah bekerja, ia merasa harus mendapatkan jabatan lebih tinggi. Setelah itu, mungkin harus membeli rumah, menikah, memiliki kendaraan, atau mencapai standar tertentu sebelum usia tertentu.

Semua terlihat seperti pertanyaan yang harus dijawab.

“Kapan kamu sukses?”

Lalu kita sibuk mencari jawabannya.

Tetapi jarang berhenti untuk bertanya:

“Mengapa saya harus mendefinisikan sukses seperti itu?”

Inilah bagian dari Exam yang menurut saya lebih menarik daripada twist akhirnya. Film ini menunjukkan betapa mudahnya manusia menerima sebuah kerangka ketika kerangka tersebut datang dari pihak yang dianggap memiliki otoritas.

Sebuah instruksi diberikan. Maka kita mengikuti.

Sebuah target ditetapkan. Maka kita mengejar.

Sebuah standar dibuat. Maka kita berusaha memenuhi.

Padahal, kemampuan mempertanyakan masalah terkadang sama pentingnya dengan kemampuan menyelesaikannya.

Ironisnya, pendidikan sering membuat kita sangat terlatih untuk mencari jawaban benar, tetapi tidak selalu membuat kita nyaman ketika harus mempertanyakan pertanyaannya.

Kita belajar bahwa soal memiliki jawaban. Kita belajar bahwa nilai yang baik berarti berhasil. Kita belajar bahwa ada pilihan yang benar dan salah.

Namun kehidupan tidak selalu bekerja seperti ujian.

Tidak semua orang harus menjawab pertanyaan yang sama.

Tidak semua orang harus menggunakan ukuran keberhasilan yang sama.

Dan tidak semua masalah yang diberikan kepada kita benar-benar harus menjadi masalah kita.

Mungkin karena itu Exam terasa relevan meskipun filmnya sudah cukup lama. Delapan orang di dalam ruangan tersebut tidak hanya sedang mencari jawaban untuk sebuah ujian. Mereka sedang menunjukkan sesuatu yang sering terjadi dalam kehidupan: ketika sebuah masalah sudah didefinisikan untuk kita, kita sering lupa bahwa definisi itu sendiri boleh dipertanyakan.

Kita begitu sibuk mencari jalan keluar sampai lupa melihat siapa yang menentukan arah perjalanan.

Pada akhirnya, pertanyaan paling menarik dari Exam bukan hanya “Apa jawaban ujiannya?”

Melainkan:

“Apakah kita pernah memilih pertanyaan yang sedang kita coba jawab?”

Mungkin kita tidak selalu membutuhkan jawaban baru.

Mungkin, sesekali, kita hanya perlu keberanian untuk bertanya apakah pertanyaannya memang milik kita.

Terima kasih.