Gaji Pekerja 5.000 Tahun Lalu: Dibayar dengan Makanan?
Tulisan dari Amelda chronicles tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Periode Uruk, sekitar 3500-2900 SM, masyarakat Mesopotamia telah memiliki sistem ekonomi dan administrasi yang cukup terorganisasi. Salah satu hal yang menarik adalah cara tenaga kerja memperoleh kompensasi. Berbeda dengan sistem modern yang menggunakan uang sebagai pembayaran, pekerja yang berada dalam sistem institusional Uruk memperoleh jatah pangan atau ransum, seperti jelai (barley), bir, minyak, dan komoditas kebutuhan lainnya. Bukti mengenai sistem tersebut dapat ditelusuri melalui tablet tanah liat administratif yang dibuat pada masa Uruk.
Jatah pangan sebagai bentuk kompensasi
Dalam sistem ekonomi Uruk, jelai menjadi salah satu komoditas penting dalam distribusi pangan. Ransum tidak hanya berfungsi sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme kompensasi bagi tenaga kerja yang berada di bawah pengelolaan institusi. Selain jelai, catatan administratif juga memperlihatkan penggunaan komoditas seperti bir dan minyak. Karena masyarakat Uruk belum mengenal uang koin seperti yang digunakan dalam perekonomian modern, barang-barang tersebut memiliki peran penting dalam sistem distribusi dan pemenuhan kebutuhan pekerja.
Bukti dari tablet tanah liat
Bukti paling menarik berasal dari tablet proto-kuneiform yang berasal dari Uruk pada akhir milenium ke-4 SM. Tablet-tablet tersebut berisi tanda-tanda administratif yang digunakan untuk mencatat komoditas, jumlah, dan distribusi. Salah satu contoh yang masih dapat dilihat hingga sekarang adalah “Cuneiform tablet recording barley rations”, sebuah tablet tanah liat yang mendokumentasikan jatah jelai dan menjadi bukti fisik bahwa kegiatan distribusi pangan memang dicatat secara administratif.
Tablet semacam ini penting karena memberikan gambaran bahwa kegiatan ekonomi pada masa Uruk tidak berlangsung secara sederhana atau tanpa pencatatan. Barang yang masuk dan keluar dari suatu institusi dapat dihitung dan dicatat menggunakan sistem tulisan awal. Dengan demikian, tablet tanah liat tersebut dapat dipandang sebagai salah satu bentuk paling awal dari dokumentasi administrasi ekonomi.
Bir juga tercatat dalam sistem ransum
Selain jelai, bir juga muncul dalam catatan administratif Mesopotamia awal. Dalam sistem tersebut, bir bukan sekadar minuman untuk konsumsi pribadi, tetapi juga merupakan komoditas yang dapat dihitung dan didistribusikan. Tanda-tanda pada tablet digunakan untuk menunjukkan jenis komoditas dan jumlah yang diberikan. Hal ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pangan pekerja menjadi bagian dari sistem ekonomi yang dikelola secara terstruktur.
Namun, istilah “gaji” perlu digunakan dengan hati-hati. Bukti yang tersedia lebih tepat menunjukkan adanya sistem ransum atau distribusi barang kepada tenaga kerja daripada sistem gaji dalam pengertian modern. Jadi, lebih aman mengatakan bahwa pekerja menerima kompensasi atau jatah pangan, bukan bahwa mereka memperoleh “gaji” seperti pekerja masa kini.
Dari makanan menjadi sistem administrasi
Hal yang paling menarik dari sistem tersebut justru bukan hanya bentuk pembayarannya, tetapi bagaimana distribusi pangan dapat mendorong berkembangnya administrasi. Ketika sebuah institusi harus menyediakan makanan bagi banyak orang, diperlukan pencatatan mengenai jenis barang, jumlah, penerima, dan distribusinya. Kebutuhan praktis semacam inilah yang membantu menjelaskan mengapa tablet administratif menjadi begitu penting dalam masyarakat Uruk.
Dengan kata lain, ekonomi tidak hanya mendorong produksi dan perdagangan, tetapi juga mendorong manusia untuk menciptakan cara baru dalam menghitung dan menyimpan informasi. Tablet tanah liat yang awalnya digunakan untuk mencatat barang akhirnya menjadi salah satu peninggalan terpenting untuk memahami bagaimana masyarakat Mesopotamia mengelola ekonominya.
Bukti yang masih bisa dilihat hingga sekarang
Warisan sistem ekonomi tersebut masih dapat ditelusuri melalui tablet-tablet tanah liat yang tersimpan dalam koleksi museum dan proyek digital. Salah satunya adalah tablet yang ditampilkan melalui Google Arts & Culture, yang memperlihatkan secara langsung artefak kuneiform berkaitan dengan pencatatan ransum jelai. Artefak seperti ini membuat pembahasan mengenai “gaji” pada masa Uruk tidak hanya berdasarkan cerita sejarah, tetapi juga berdasarkan benda fisik yang masih bertahan sekitar lima ribu tahun kemudian.
Menariknya, sistem ransum ini juga memiliki kesinambungan dalam periode Mesopotamia berikutnya. Tablet dari periode Ur III, misalnya, mencatat pembagian jelai kepada pekerja dengan jumlah yang berbeda berdasarkan kelompok penerima. Akan tetapi, bukti Ur III berasal beberapa abad setelah Periode Uruk, sehingga sebaiknya digunakan sebagai perbandingan perkembangan sistem, bukan sebagai bukti langsung mengenai besaran ransum pada masa Uruk.
Jika sekarang seseorang menerima slip gaji melalui aplikasi atau rekening bank, masyarakat Uruk memiliki bentuk dokumentasi yang sangat berbeda: tablet tanah liat dengan simbol dan angka. Keduanya tentu tidak dapat disamakan secara langsung, tetapi sama-sama menunjukkan satu kebutuhan dasar dalam organisasi ekonomi mencatat siapa yang menerima sumber daya dan berapa jumlahnya.
Karena itu, kisah “gaji” pekerja Uruk bukan sekadar cerita bahwa manusia zaman dahulu dibayar dengan makanan. Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana kebutuhan untuk memberi makan dan mengelola tenaga kerja ikut melahirkan sistem administrasi ekonomi, yang jejaknya masih dapat kita lihat melalui tablet tanah liat hingga sekarang.

