Jika Al-Quran Sudah Sempurna, Mengapa Masih Butuh Hadis?

Mahasiswi Arsitektur Universitas Gunadarma
Konten dari Pengguna
2 Agustus 2022 12:45
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ami Pertiwi Suwito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Taken By Yuz Ayub on Unsplah
zoom-in-whitePerbesar
Taken By Yuz Ayub on Unsplah
ADVERTISEMENT
Terkadang saat mempelajari Islam, para pelajar memiliki banyak kegundahan mengenai hadis. Mereka bingung mengapa harus mempelajari hadits padahal Al-Quran adalah wahyu dari Allah azza wa jala yang isinya tidak perlu diragukan lagi. Apalagi hadis itu merupakan kata-kata manuisa, bukan dari Allah SWT. Belum lagi riwayat hadis yang harus diteliti seketat mungkin untuk menghindari keberedaran kekeliruan.
ADVERTISEMENT
Argumen seperti ini bukan sesuatu yang baru. Pada zaman Rasulullah SAW, para mualaf di Madinah pernah meragukan perkataan beliau. Salah satu alasannya bermula pada pertanyaan:“Bagaimana kita tahu bahwa perkataan Nabi Muhammad datang dari Allah? Jangan-jangan perkataan Rasulullah hanya dibuat-buat.”
Pertama-tama kita harus memahami dulu kenapa harus menaati Nabi Muhammad SAW? Jawaban tersebut tertuang dengan sangat jelas pada surat An-Nisa ayat 65. Keistimewaan ayat ini terlihat dari kata-kata awalnya yakni (فَلَا وَرَبِّكَ) yang berarti maka demi Tuhanmu. Allah bersumpah atas namanya sendiri saat menyeru kepada Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, Allah SWT menerangkan bahwa seseorang tidak dianggap beriman sampai mereka menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam perselisihkan perkara. Selain itu, hati kita harus senantiasa dijaga supaya tidak keberatan terhadap keputusan yang diambil oleh Rasulullah SAW.
ADVERTISEMENT
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang Engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana kita tahu bahwa perkataan Nabi Muhammad SAW itu berasal dari Allah? Jika kita pelajari kemali kehidupan Rasulullah, beliau baru mendapatkan wahyu sekaligus diangkat sebagai Rasul saat sudah berumur 40 tahun. Maka, Rasulullah pun butuh mukjizat sebagaimana para Rasul terdahulu guna meyakinkan orang lain terhadap keberadaan Allah. Maka Allah SWT menurunkan dua mukjizat kepada Rasulullah, yakni kepribadian Nabi Muhammad SAW yang mulia dan Al-Quran.
ADVERTISEMENT
1. Kepribadian Rasulullah
Taken bu Abdullah Oguk on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Taken bu Abdullah Oguk on Unsplash
Kepribadian mulia Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan mukjizat dari Allah. Bahkan sebelum beliau diangkat sebagai Rasul, kepribadian mulia ini sudah nampak sejak Muhammad SAW masih dalam usia dini. Al-Quran pun mengakui keistimewaan dari kepribadian Rasulullah, salah satunya ada di surah Al-Qalam ayat 4 yang berbunyi:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
Segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW itu merupakan panduan untuk menjadi seorang muslim sejati, sekaligus menerapkan Islam secara sempurna. Di situlah pentingnya hadis/As-Sunnah sebagai riwayat kehidupan Rasulullah SAW, agar kita paham caranya menerapkan Islam dengan sempurna. Selain itu, kepribadian Muhammad SAW merupakan kemudahan untuk menarik orang lain ke Islam. Apalagi saat masa jahiliah Makkah dahulu, sosok mulia seperti Rasulullah sangat langka dalam suasana kota yang penuh kebiadaban.
ADVERTISEMENT
2. Al-Quran
Taken by GR Stocks on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Taken by GR Stocks on Unsplash
Awalnya, Al-Quran tidak berbentuk buku seperti yang kita pegang hari ini. Al-Quran itu merupakan perkataan langsung dari Allah SWT. Lalu mukjizat Allah itu diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana para Rasul sebelumnya mempunyai mukjizatnya masing-masing.
Perkataan Allah dalam Al-Quran tidak mungkin sebanding dengan karya sastra manusia. Maka saat Rasulullah menyampaikan ayat-ayat Al-Quran secara lisan, orang-orang kafir Quraisy mengetahui bahwa perkataan seperti itu tidak mungkin diciptakan oleh manusia.
Dari sini persoalan tentang perkataan Nabi Muhammad sudah terjawab. Ketika Rasulullah mengucapkan ayat-ayat Al-Quran, itu berasal dari Allah mengingat bahasa Al-Quran yang tak ada tandingannya dengan karya sastra manusia. Adapun perkataan Rasulullah selain Al-Quran, itu memang perkataan beliau sendiri yang tetap diilhami oleh Allah SWT. Karena keberadaan Rasulullah SAW sendiri adalah mukjizat, maka sudah sewajarnya kita meneladani segala perkataan dan perbuatan beliau.
ADVERTISEMENT
Sebagai analogi, ketika kita belajar sesuatu pasti ada bagian teori dan praktik. Begitupun saat belajar Islam, ada teorinya berupa Al-Quran dan praktik dalam kehidupan sehari-hari yakni teladan Nabi Muhammad SAW. Maka sangat jelas bahwa Al-Quran dan Hadis/As-Sunnah itu tak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, mempelajari hadis itu justru tanda keseriusan kita dalam mempelajari Al-Quran.
Sekian penjelasan penulis mengenai pentingnya Hadis meskipun sudah ada Al-Quran. Semoga tulisan ini bisa menjadi bekal pembaca supaya lebih semangat mempelajari Al-Quran dan Hadis.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020