Konten dari Pengguna

Pulau Sempu Tak Hanya Segara Anakan: Ada 366 Jenis Tumbuhan di Dalamnya

Patmiati

Patmiati

Komunikasi Publik BRIN

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Patmiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hutan Pulau Sempu (Sumber:  buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya)
zoom-in-whitePerbesar
Hutan Pulau Sempu (Sumber: buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya)

Ketika Pulau Sempu disebut, sebagian orang mungkin langsung membayangkan Segara Anakan, laguna yang berada di tengah kawasan hutan dan menjadi salah satu lanskap yang paling dikenal dari pulau kecil di selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur itu.

Namun, ada kekayaan lain yang tidak kalah menarik untuk dibicarakan, yaitu tumbuhan. Di balik hutan Pulau Sempu, para peneliti menemukan sedikitnya 366 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 237 marga dan 94 suku. Angka tersebut menunjukkan bahwa Pulau Sempu bukan sekadar bentang alam dengan panorama menarik, tetapi juga menyimpan kekayaan flora yang penting bagi ilmu pengetahuan dan konservasi.

Temuan tersebut terdokumentasi dalam buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya. Buku tersebut merupakan dokumentasi ilmiah hasil penelitian dan kajian para peneliti Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI selama lebih dari dua tahun, pada 2015-2016. Isinya tidak hanya mendata tumbuhan, tetapi juga membahas status konservasi, potensi tumbuhan, karakter ekosistem, serta gangguan ekologis yang mengancam kawasan Pulau Sempu (Rindyastuti dkk., 2018).

Pulau kecil dengan kekayaan flora yang besar

Pulau Sempu telah ditetapkan sebagai cagar alam sejak 15 Maret 1928. Letaknya yang berdekatan dengan Pulau Jawa membuat kawasan ini memiliki arti penting dalam konservasi ekosistem hutan daerah rendah.

Menariknya, penelitian Rindyastuti dkk. (2018) menunjukkan bahwa keanekaragaman tumbuhan Pulau Sempu tergolong tinggi jika dibandingkan dengan beberapa pulau kecil lain di sekitar Jawa.

Sebanyak 366 jenis tumbuhan yang telah teridentifikasi tersebut hadir dalam berbagai bentuk kehidupan. Ada pohon, semak, liana, tumbuhan bawah, bambu, tumbuhan paku, hingga tumbuhan epifit seperti anggrek dan Hoya. Keragaman bentuk hidup ini turut menggambarkan corak vegetasi dan ekosistem hutan daerah rendah Pulau Jawa, sebab posisi Pulau Sempu yang berdekatan dengan daratan Jawa membuat kekayaan jenisnya mewakili kekayaan jenis tumbuhan di pulau utama tersebut.

Dengan kata lain, keanekaragaman Pulau Sempu tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya pohon besar yang membentuk kanopi hutan. Di bawah kanopi, pada batang pohon, di tepian pantai, hingga kawasan basah, terdapat komunitas tumbuhan dengan karakter dan fungsi ekologis yang berbeda.

Kondisi tersebut membuat Pulau Sempu memiliki nilai lebih dari sekadar kawasan berhutan. Ia merupakan sebuah sistem ekologis yang terdiri atas banyak komponen yang saling berhubungan.

Empat ekosistem dalam satu pulau

Hamparan pantai Pulau Sempu (sumber: Sumber buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya)

Keunikan Pulau Sempu semakin terlihat ketika kita melihat ekosistem yang menyusunnya. Dalam buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya, diuraikan sedikitnya empat tipe ekosistem utama, yaitu hutan bakau, hutan pantai, hutan tropis daerah rendah kering, dan danau. Masing-masing memiliki karakter lingkungan dan komunitas tumbuhan yang berbeda.

Hutan bakau, misalnya, berhubungan erat dengan kawasan pesisir dan kondisi perairan. Sementara hutan pantai berkembang pada lingkungan yang dipengaruhi oleh kondisi pantai, termasuk substrat berpasir maupun berkarang.

Di bagian lain, hutan daerah rendah kering menyimpan keragaman tumbuhan yang tinggi. Buku tersebut mencatat sedikitnya 263 jenis tumbuhan di dalam hutan daerah rendah Pulau Sempu. Keberadaan berbagai tipe ekosistem tersebut menjadikan Pulau Sempu seperti potret kecil keragaman ekosistem tropis, khususnya ekosistem daerah rendah Pulau Jawa.

Bukan hanya banyak, tetapi juga bernilai konservasi

Jumlah jenis yang tinggi tentu menarik. Namun, bagi dunia konservasi, pertanyaan berikutnya lebih penting: jenis tumbuhan apa saja yang ditemukan dan bagaimana statusnya?

Inventarisasi tumbuhan tersebut mencatat adanya jenis tumbuhan yang memiliki nilai konservasi tinggi. Sedikitnya empat jenis tercatat dalam Daftar Merah IUCN, sementara satu jenis termasuk tumbuhan yang dilindungi berdasarkan peraturan yang dirujuk dalam buku tersebut.

Artinya, keberadaan Pulau Sempu penting bukan hanya karena banyaknya jenis tumbuhan, tetapi juga karena kawasan tersebut menjadi tempat tumbuh bagi jenis-jenis yang memerlukan perhatian dalam upaya konservasi. Di sinilah inventarisasi tumbuhan memiliki peran penting.

Proses ini bukan sekadar membuat daftar nama spesies. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengetahui kondisi suatu kawasan, menentukan jenis yang perlu dipantau, memahami habitatnya, sekaligus membantu pengelola dalam mengambil keputusan konservasi.

Bahkan 13 jenis bakau ditemukan di Pulau Sempu

Salah satu temuan menarik lainnya adalah keberadaan 13 jenis tumbuhan bakau sejati di Pulau Sempu, dimana jumlah tersebut mewakili sekitar separuh jenis tumbuhan bakau yang terdapat di Indonesia.

Temuan ini memperlihatkan bahwa ekosistem bakau Pulau Sempu memiliki nilai ilmiah yang penting. Bakau bukan hanya tumbuhan yang tumbuh di tepi laut, tetapi juga merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang berperan dalam menjaga berbagai fungsi ekologis.

Keberadaan hutan bakau juga menunjukkan bahwa konservasi sebuah pulau tidak bisa hanya melihat ekosistem daratan. Pesisir, pantai, hutan bakau, dan ekosistem lainnya harus dipandang sebagai satu kesatuan.

Ancaman tidak selalu terlihat sebagai kerusakan hutan

Ada hal lain yang menarik dari penelitian Pulau Sempu. Ancaman terhadap ekosistem tidak selalu hadir dalam bentuk penebangan pohon atau pembukaan hutan. Perubahan komposisi tumbuhan juga dapat menjadi persoalan.

Penelitian ini mencatat keberadaan 15 jenis tumbuhan asing invasif di delapan lokasi di Pulau Sempu. Keberadaan tumbuhan asing invasif tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, termasuk aktivitas wisata.

Tumbuhan asing invasif menjadi perhatian karena jenis yang berasal dari luar habitat alaminya dapat berkembang dan menyebar dengan cepat. Dalam kondisi tertentu, keberadaannya dapat mendesak tumbuhan asli.

Temuan ini memberikan pelajaran penting: menjaga kawasan konservasi bukan hanya soal menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga mengawasi perubahan yang terjadi di dalam ekosistem.

Dari LIPI hingga BRIN: Pengetahuan yang terus berlanjut

Ada konteks sejarah kelembagaan yang juga penting untuk dicatat. Buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya diterbitkan pada 2018 oleh LIPI Press, ketika penelitian tersebut dilakukan oleh Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI.

Namun, pembaca saat ini mungkin lebih mengenal lembaga tersebut dalam konteks Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sejak 3 September 2021, LIPI melebur bersama sejumlah lembaga pemerintah lainnya dalam pembentukan BRIN. Dalam konteks penerbitan, LIPI Press kemudian bertransformasi menjadi Penerbit BRIN. Hal tersebut juga tercermin pada laman resmi Penerbit BRIN yang kini memuat buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya sebagai salah satu koleksinya.

Dengan demikian, ketika kita membaca hasil penelitian LIPI yang diterbitkan pada 2018, kita sedang membaca bagian dari perjalanan panjang riset yang kini berada dalam ekosistem kelembagaan BRIN.

Pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti pada saat buku diterbitkan. Justru data dan dokumentasi tersebut dapat menjadi pijakan bagi penelitian, konservasi, dan pengelolaan keanekaragaman hayati pada masa berikutnya.

Pulau Sempu dan pelajaran tentang konservasi

Pulau Sempu memberikan satu pelajaran sederhana tetapi penting: ukuran sebuah pulau tidak selalu menentukan besarnya kekayaan hayati yang dikandungnya.

Di kawasan yang secara geografis relatif kecil, para peneliti berhasil mendokumentasikan ratusan jenis tumbuhan, berbagai tipe ekosistem, jenis-jenis yang memiliki nilai konservasi, sekaligus ancaman ekologis yang perlu diperhatikan.

Karena itu, menjaga Pulau Sempu tidak cukup hanya dengan mempertahankan tutupan hutannya. Pengetahuan mengenai jenis tumbuhan, kondisi habitat, perubahan ekosistem, serta keberadaan tumbuhan asing invasif juga harus terus diperbarui.

Penelitian menjadi bagian penting dari proses tersebut

Bagi masyarakat, informasi ilmiah tentang Pulau Sempu juga dapat mengubah cara pandang. Pulau ini tidak semata-mata sebuah tempat dengan pemandangan indah, tetapi sebuah ruang kehidupan yang menyimpan informasi biologis yang mungkin belum seluruhnya terungkap.

Sebanyak 366 jenis tumbuhan yang telah teridentifikasi bukan sekadar angka

Di dalam setiap jenis terdapat informasi tentang ekologi, evolusi, potensi pemanfaatan, dan hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Sebagian mungkin sudah diketahui manfaatnya, sementara sebagian lainnya masih menunggu penelitian lebih lanjut.

Karena itu, tantangan konservasi Pulau Sempu pada akhirnya bukan hanya bagaimana menjaga hutan tetap hijau, tetapi bagaimana memastikan keanekaragaman kehidupan di dalamnya tetap bertahan dan terus dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Sampul Buku: (Sumber: buku Keanekaragaman Tumbuhan Pulau Sempu dan Ekosistemnya)