Konten dari Pengguna

Satu Nama, Jutaan Tumbuhan: Mengenal POWO dan Cara Dunia Mendokumentasikan Flora

Patmiati

Patmiati

Komunikasi Publik BRIN

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Patmiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah mencari nama sebuah tanaman di internet, tetapi justru menemukan beberapa nama ilmiah yang berbeda?

Hal seperti ini cukup umum terjadi. Satu tumbuhan bisa memiliki nama lokal yang berbeda di berbagai daerah. Dalam literatur lama, nama ilmiahnya pun mungkin tidak sama dengan nama yang digunakan sekarang.

Bagi masyarakat umum, persoalan nama tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi peneliti, pengelola kebun raya, herbarium, mahasiswa, hingga pegiat konservasi, ketepatan identitas tumbuhan merupakan hal yang penting.

Dari kebutuhan untuk menyusun dan memperbarui informasi tentang tumbuhan dunia inilah berkembang berbagai basis data botani. Salah satu yang kini cukup dikenal adalah Plants of the World Online (POWO), portal informasi tumbuhan yang dikembangkan oleh Royal Botanic Gardens, Kew.

Menariknya, perjalanan menuju POWO tidak dimulai pada 2017 ketika portal ini diluncurkan. Sebelumnya, dunia botani telah melalui beberapa tahap penting dalam upaya menyusun daftar tumbuhan dunia.

Sebelum POWO, Ada The Plant List

Pada Desember 2010, Royal Botanic Gardens, Kew bersama Missouri Botanical Garden dan sejumlah kolaborator meluncurkan The Plant List.

Proyek tersebut lahir sebagai respons terhadap kebutuhan global untuk memiliki daftar tumbuhan yang dapat diakses secara luas. Salah satu latar belakangnya adalah Global Strategy for Plant Conservation yang mendorong tersedianya daftar kerja mengenai seluruh jenis tumbuhan yang diketahui sebagai langkah menuju penyusunan World Flora.

The Plant List versi 1.1 kemudian memuat lebih dari 1 juta nama ilmiah tumbuhan tingkat spesies. Namun, tidak semua nama tersebut memiliki status yang sama. Sebagian merupakan nama yang diterima (accepted species names), sebagian merupakan sinonim, dan sebagian lainnya masih belum terselesaikan statusnya (unresolved).

Di sinilah kita bisa melihat bahwa membuat “daftar tumbuhan dunia” ternyata bukan pekerjaan sederhana.

Nama tumbuhan terus berubah mengikuti perkembangan penelitian. Ada spesies yang kemudian diketahui memiliki nama lain yang lebih tepat, ada kelompok tumbuhan yang ditata ulang, dan ada pula nama yang membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Dengan kata lain, daftar tumbuhan bukanlah sesuatu yang selesai dibuat lalu tidak pernah berubah.

Ada WCVP yang Lebih Dulu Dikembangkan

Sebelum The Plant List muncul, Kew sebenarnya telah mengembangkan sumber data taksonomi yang jauh lebih lama.

World Checklist of Vascular Plants (WCVP) mulai diinisiasi pada 1988 oleh Rafaël Govaerts. Program ini kemudian berkembang menjadi kerja kolaboratif internasional yang melibatkan editor, penyusun data, dan penelaah dari berbagai negara.

Tujuan utamanya adalah menyediakan data taksonomi yang ditelaah oleh para ahli mengenai tumbuhan berpembuluh dunia. Salah satu perhatian utamanya adalah menentukan nama spesies yang diterima sehingga dapat menjadi dasar komunikasi ilmiah mengenai keanekaragaman tumbuhan.

WCVP juga terus diperbarui. Kew menyebut basis data tersebut diperbarui secara berkala, kemudian datanya disegarkan ke dalam Plants of the World Online.

Karena itu, sejarah POWO sebenarnya lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perkembangan panjang infrastruktur data botani Kew, bukan sekadar sebuah situs web baru yang muncul pada 2017.

Tahun 2017, POWO Hadir

Pada Maret 2017, Kew meluncurkan Plants of the World Online.

Jika The Plant List lebih dikenal sebagai sebuah working list nama tumbuhan, POWO dikembangkan dengan cakupan informasi yang lebih luas.

Pengguna tidak hanya dapat melihat nama dan status taksonomi. POWO juga menyediakan informasi mengenai persebaran geografis, deskripsi, karakter tumbuhan, gambar, publikasi, serta berbagai informasi lain yang tersedia untuk suatu takson. Kew juga mengembangkan POWO dengan kontribusi data dari berbagai mitra dan sumber ilmiah.

Saat ini, POWO telah berkembang menjadi salah satu portal utama Kew untuk informasi tumbuhan dunia.

Bahkan, Kew sedang mengintegrasikan tiga portal taksonomi—POWO, WCVP, dan World Checklist of Selected Plant Families (WCSP)—menjadi satu portal. POWO dipilih sebagai basis portal tunggal tersebut. Kew menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan agar data lebih terintegrasi dan lebih mudah diakses.

Dengan demikian, POWO bukan sekadar situs untuk mencari nama tanaman. Ia merupakan bagian dari infrastruktur data botani yang terus dikembangkan.

Apa yang Bisa Kita Temukan di POWO?

Cara menggunakannya cukup sederhana. Pengguna dapat memasukkan nama tumbuhan pada kolom pencarian dan memilih hasil yang sesuai.

Di dalam halaman suatu tumbuhan, kita dapat menemukan informasi mengenai nama yang diterima, sinonim, klasifikasi, persebaran geografis, deskripsi, gambar, hingga daftar publikasi yang berkaitan dengan tumbuhan tersebut.

Informasi mengenai sinonim menjadi salah satu hal yang menarik.

Misalnya, seseorang menemukan nama ilmiah sebuah tumbuhan dari buku yang diterbitkan puluhan tahun lalu. Ketika nama tersebut dicari, ternyata statusnya sekarang merupakan sinonim dari nama lain. Informasi seperti ini dapat membantu menghubungkan literatur lama dengan nomenklatur yang digunakan saat ini.

Untuk mahasiswa atau peneliti, fitur tersebut dapat menghemat waktu dalam melakukan penelusuran awal.

Sementara bagi masyarakat umum, POWO dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal tumbuhan secara lebih serius.

Mengapa Ini Penting untuk Konservasi?

Mengetahui nama tumbuhan mungkin terdengar sederhana, tetapi identitas merupakan dasar dari banyak kegiatan ilmiah.

Bagaimana mungkin kita membahas persebaran suatu spesies jika identitas spesiesnya belum jelas? Bagaimana mengetahui apakah suatu tumbuhan termasuk jenis yang terancam jika kita belum memastikan jenisnya?

Karena itu, data taksonomi memiliki hubungan erat dengan penelitian keanekaragaman hayati dan konservasi.

Bagi pengelola kebun raya dan herbarium, informasi mengenai nama, sinonim, klasifikasi, serta persebaran dapat menjadi bagian dari proses pengelolaan dan dokumentasi koleksi.

Hal tersebut juga relevan di Indonesia, negara yang memiliki kekayaan flora sangat besar. Kebun raya, perguruan tinggi, lembaga penelitian, herbarium, dan berbagai institusi konservasi membutuhkan informasi taksonomi sebagai salah satu dasar dalam mendokumentasikan tumbuhan.

Termasuk di lingkungan kebun raya yang dikelola BRIN, informasi mengenai identitas dan taksonomi tumbuhan merupakan bagian penting dari pengelolaan koleksi dan kegiatan penelitian.

Namun, POWO tidak sebaiknya diperlakukan sebagai satu-satunya sumber penentu. Kew sendiri menjelaskan bahwa POWO bersifat advisory dan untuk wilayah atau kelompok tumbuhan tertentu dapat terdapat daftar lain yang lebih otoritatif. Karena itu, peneliti tetap perlu membandingkan dengan literatur, spesimen, database lain, dan penelitian terbaru sesuai kebutuhan.

Dari Nama Tanaman hingga Pengetahuan

Perjalanan dari The Plant List menuju POWO memperlihatkan satu hal menarik: memahami tumbuhan ternyata membutuhkan sistem pengetahuan yang terus diperbarui.

The Plant List pernah menjadi langkah penting untuk menghimpun nama-nama tumbuhan dunia dalam satu daftar. WCVP terus dikembangkan sebagai basis data taksonomi yang ditelaah oleh ahli. Kemudian POWO hadir dengan cakupan informasi yang lebih luas dan kini menjadi basis untuk integrasi berbagai portal taksonomi Kew.

Hari ini, seseorang hanya membutuhkan koneksi internet untuk menelusuri informasi tentang sebuah tumbuhan yang mungkin tumbuh ribuan kilometer dari tempat tinggalnya.

Namun di balik kemudahan tersebut terdapat pekerjaan panjang: penelitian lapangan, koleksi herbarium, pemeriksaan nama, telaah taksonomi, publikasi ilmiah, pengelolaan data, serta kolaborasi para ahli dari berbagai negara.

Itulah yang membuat POWO menarik.

Ia memperlihatkan bahwa sebuah nama tumbuhan bukan sekadar nama.

Di balik kepel, gaharu, cendana, anggrek, atau tumbuhan lain yang kita jumpai di Indonesia, terdapat identitas ilmiah, sejarah penamaan, persebaran geografis, dan pengetahuan yang terus berkembang.

Dan ketika semua itu dapat ditelusuri melalui sebuah portal daring, mengenal tumbuhan menjadi jauh lebih mudah.

Mungkin kita tidak harus menjadi ahli botani untuk memulainya.

Cukup dengan satu nama tanaman dan rasa ingin tahu.

Sumber: Plants of the World Online (Royal Botanic Gardens, Kew), diakses 2 Oktober 2026.

Laman utama POWO (Sumber: https://powo.science.kew.org/)