Keren di Luar, Beban di Rumah

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Amila Gulo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial, citra diri sering kali dibangun dari apa yang tampak di permukaan. Outfit terbaru, nongkrong di kafe estetik, liburan singkat, hingga gadget terkini menjadi simbol “keren” yang ingin ditampilkan ke publik. Sekilas, semua terlihat wajar—bagian dari ekspresi diri dan gaya hidup anak muda. Namun di balik layar, ada realitas yang tidak selalu ikut dipamerkan: tekanan ekonomi yang diam-diam ditanggung oleh orang tua.
Fenomena ini bukan sekadar soal tren, tetapi juga soal pola pikir. Banyak anak muda merasa harus “terlihat berhasil” meskipun belum benar-benar mandiri secara finansial. Dorongan untuk mengikuti gaya hidup teman sebaya atau influencer sering kali lebih kuat daripada kesadaran akan kemampuan diri. Akibatnya, kebutuhan berubah menjadi keinginan, dan keinginan diperlakukan seolah-olah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Masalah mulai muncul ketika gaya hidup tersebut tidak sejalan dengan kondisi ekonomi keluarga. Orang tua, yang pada dasarnya ingin melihat anaknya bahagia, sering kali memilih untuk memenuhi permintaan tersebut meskipun harus berkorban. Ada yang mengurangi kebutuhan pribadi, bekerja lebih keras, bahkan berutang demi memenuhi standar hidup yang sebenarnya bukan kebutuhan utama.
Ironisnya, tidak semua anak menyadari pengorbanan itu. Karena yang terlihat hanyalah hasil—barang yang diinginkan, uang yang selalu tersedia, atau kemudahan yang diberikan—banyak yang menganggap itu sebagai hal biasa. Di sinilah letak persoalan utama: kurangnya empati dan kesadaran terhadap realitas di balik kenyamanan yang dirasakan.
Gaya hidup “keren di luar” juga sering kali menciptakan ilusi kebahagiaan. Padahal, kebahagiaan yang bergantung pada validasi eksternal cenderung rapuh. Ketika pujian berkurang atau tren berubah, muncul rasa tidak cukup, yang kemudian mendorong keinginan untuk terus mengikuti standar baru. Siklus ini tidak hanya melelahkan secara mental, tetapi juga semakin membebani kondisi finansial keluarga.
Lebih jauh lagi, kebiasaan ini dapat menghambat proses kedewasaan. Kemandirian bukan hanya soal usia, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan, menentukan prioritas, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Jika seseorang terus bergantung pada orang tua untuk mempertahankan gaya hidup tertentu, maka proses menuju kedewasaan itu akan tertunda.
Namun, penting juga untuk melihat bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya salah individu. Lingkungan sosial dan budaya digital memiliki peran besar dalam membentuk standar “keren” yang sering kali tidak realistis. Paparan konten yang menampilkan kemewahan tanpa konteks membuat banyak orang merasa tertinggal jika tidak mengikuti. Tekanan ini nyata, terutama bagi generasi muda yang sedang mencari jati diri.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Perubahan bisa dimulai dari kesadaran sederhana: memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang terlihat menarik harus dimiliki. Belajar mengatakan “cukup” adalah langkah awal menuju hidup yang lebih seimbang.
Selain itu, komunikasi dalam keluarga juga menjadi kunci. Orang tua dan anak perlu saling terbuka mengenai kondisi finansial dan batasan yang ada. Dengan begitu, anak tidak hanya belajar tentang realitas ekonomi, tetapi juga tentang tanggung jawab dan empati.
Membangun gaya hidup yang sehat bukan berarti harus meninggalkan kesenangan sepenuhnya. Anak muda tetap bisa menikmati hidup, bersosialisasi, dan mengekspresikan diri tanpa harus membebani orang lain. Kuncinya adalah menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan, bukan memaksakan kemampuan demi gaya hidup.
Pada akhirnya, “keren” seharusnya tidak diukur dari apa yang terlihat oleh orang lain, tetapi dari bagaimana seseorang mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Ada nilai yang jauh lebih penting daripada sekadar penampilan: kejujuran terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, dan kemampuan untuk hidup sesuai dengan realitas.
Menjadi “keren” di luar tidak ada salahnya. Namun, jika itu membuat orang tua harus menanggung beban di dalam rumah, maka sudah saatnya kita bertanya ulang: apakah itu benar-benar layak dipertahankan?
