Toleransi dengan Alam

Tulisan dari Aming Soedrajat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita terlalu sibuk membicarakan toleransi kerukunan antarumat beragama, hingga kita lupa membicarakan dan menyelesaikan hubungan manusia dengan alam.
Tuhan menciptakan alam ini dengan keseimbangan dan ketelitian. Tugas manusia dilahirkan kebumi menurut para ahli adalah untuk menjaga alam ini supaya tetap lestari. Alam diciptakan Tuhan dengan milyaran hal menakjubkan di dalamnya. agar manusia sadar, betapa 'mahanya' kekuasaan Tuhan.
Karena Tuhan menciptakan alam semesta untuk dijadikan tempat merenung bagi orang-orang yang berpikir dan berserah diri. Toleransi bukan sebatas saling menghargai antar manusia dengan manusia lainnnya, tetapi juga bagaimana manusia 'toleran' dengan alam. Dari saling menghargai tersebut, manusialah yang paling membutuhkan alam. Tanpa alam, manusia tidak akan lama bertahan hidup, Tanpa manusia, alam akan baik-baik saja
Dalam ajaran Sunda, ratusan tahun bahkan mungkin ribua tahun sebelum kita lahir, kita sudah diajarkan tentang menjaga alam. Hutan, gunung, sawah, lembah, sungai, lautan dan sebagainya apabila di jaga dengan baik, maka alam akan memberikan yang baik pula untuk masyarakatanya.

Semua kebutuhan manusia sudah tersedia di alam. Alam memberikan semuanya untuk manusia. Sedangkan manusia, apa yang sudah di berikan kepada alam selain kerusakan dan ketamakan.
Saat alam marah, jangan salahkan alam. Salahkanlah diri kita, tidak mungkin alam marah apabila tidak di perkosa oleh manusia sendiri.
Satu gunung, satu sungai, satu hektare sawah, satu lembah dan satu laut cukup untuk menghidupi jutaan umat manusia. Tapi satu orang manusia tamak, tidak akan pernah cukup memiliki itu semua.
'Satu biji apel bisa membuat seluruh umat manusia tetap hidup, Satu manusia serakah bisa membuat hutan lebat menjadi semakin tak terlihat'
