Konten dari Pengguna

Layanan Kesehatan Mental Melalui Platform Digital

Amira Fitri HN

Amira Fitri HN

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amira Fitri HN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Namun yang sangat disayangkan dengan keadaan yang terjadi saat ini, masyarakat justru tidak menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan mental. Khususnya di Indonesia, isu tentang kesehatan mental cenderung bersifat negative. Banyak orang yang memiliki pandangan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan mental adalah orang gila dan tidak waras, padahal hal tersebut tidak benar. Pandangan tersebut secara tidak langsung juga berdampak pada profesi seorang psikolog atau psikiater yang merupakan ahli dalam bidang psikis atau kejiwaan. Masih banyak orang yang memiliki pandangan bahwa datang dan meminta pertolongan kepada psikolog atau psikiater adalah orang gila.

Kerugian dari adanya stigma tersebut ialah, apabila ada seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan seorang psikolog atau psikiater menjadi tidak akan melakukan hal tersebut agar terhindar dari stigma “orang gila”. Disisi lain, seseorang yang membutuhkan pertolongan professional namun tidak mendapatkannya hanya akan memperburuk kondisi kesehatan mentalnya, hal terburuk yang mungkin terjadi ialah tindakan bunuh diri.

Melihat hal tersebut justru memuncul kan ide dari kreatifitas anak bangsa dengan menciptakan aplikasi berbasis layanan kesehatan. Aplikasi yang berkembang dan mempelopori kesadaran terhadap kesehatan mental ialah, Riliv yang menyediakan jasa layanan konseling dengan psikolog, dan Halodoc yang menyediakan jasa layanan konseling dengan psikiater. Adanya aplikasi tersebut mempermudah akses layanan kesehatan mental bagi setiap orang yang membutuhkannya. Aplikasi tersebut menciptakan “teman curhat” yang profesional untuk kita yang siap membantu kita tanpa menghakimi. Mengingat biasanya kita sering kali bertukar cerita atau mencurahkan masalah-masalah kita kepada teman sering kali lewat chat saja. Namun yg sering terjadi apabila kita bercerita kepada teman, mereka akan menghakimi cerita kita dengan memihak pada salah satu sisi saja dan bahkan terkadang kita tidak mendapat solusi yang tepat justru menjadi merasa lebih stress atau depresi. Jadi melalui aplikasi layanan kesehatan mental tersebut kita tidak perlu khawatir lagi karena kita sebagi pengguna akan langsung berhubungan dengan professional yang tepat.

Aplikasi seperti Riliv tidak hanya menyediakan jasa konseling saja tapi juga meditasi, bahkan kita dapat menulis pengalaman kita berbentuk artikel pada fasilitas aplikasi tersebut yang bernama Riliv story. Adanya aplikasi layanan kesehatan mental juga dapat mengurangi tingkat self diagnose atau diagnosa pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya ia alami. Karena pada kenyataannya self diagnose hanya menambah tingkat kecemasan seseorang, karena banya orang mencari di google tentang penyakit-penyakit terkait kesehatan mental dan membaca ciri-cirinya lalu mendiagnosa dirinya sendiri, padahal hal tersebut belum tentu benar jika kita tidak melakukan konseling kepada psikiater. Riliv atau aplikasi serupa seharusnya dapat menekan angka self diagnose tersebut. Adanya aplikasi layanan kesehatan mental seharusnya membuat kita tidak lagi mempunyai alasan untuk malu melakukan konseling atau mencari pertolongan kepada professional. Dan sekarang lebih dari 300 ribu orang telah tertolong oleh aplikasi riliv.

Saat ini juga banyak sekali para professional (psikolog/psikiater) yang memberikan edukasi tidak hanya pada platform berbasis kesehatan mental, namun juga aplikasi lainnya seperti twitter, Instagram dan youtube yang pada dasarnya terbilang sebagai aplikasi sejuta umat, dimana mayoritas masyarakat mengakses media sosial tersebut setiap hari. Hal tersebut juga banyak menarik perhatian orang untuk lebih peduli dengan pentingnya menjaga mental kita. Riliv sebagai aplikasi yang memiliki layanan kesehatan mental pun menggunakan media sosial tersebut untuk lebih menjangkau masyarakat luas agar memiliki pengetahuan mengenai kesehatan mental. Bahkan yang terbaru, riliv dan aplikasi serupa lainnya juga menggunakan tik-tok untuk menjadikan sarana edukasi bagi para penggunanya. Pada saat ini kita semua tahu bahwa tik-tok sedang digilai seluruh kalangan masyarakat, jadi hal tersebut merupakan hal yang tepat dilakukan untuk memperluas lagi jangkauan edukasi kesehatan mental.

Namun yang sangat disayangkan dengan keadaan yang terjadi saat ini, masyarakat justru tidak menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan mental. Khususnya di Indonesia, isu tentang kesehatan mental cenderung bersifat negative. Banyak orang yang memiliki pandangan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan mental adalah orang gila dan tidak waras, padahal hal tersebut tidak benar. Pandangan tersebut secara tidak langsung juga berdampak pada profesi seorang psikolog atau psikiater yang merupakan ahli dalam bidang psikis atau kejiwaan. Masih banyak orang yang memiliki pandangan bahwa datang dan meminta pertolongan kepada psikolog atau psikiater adalah orang gila.

Kerugian dari adanya stigma tersebut ialah, apabila ada seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan seorang psikolog atau psikiater menjadi tidak akan melakukan hal tersebut agar terhindar dari stigma “orang gila”. Disisi lain, seseorang yang membutuhkan pertolongan professional namun tidak mendapatkannya hanya akan memperburuk kondisi kesehatan mentalnya, hal terburuk yang mungkin terjadi ialah tindakan bunuh diri.

Melihat hal tersebut justru memuncul kan ide dari kreatifitas anak bangsa dengan menciptakan aplikasi berbasis layanan kesehatan. Aplikasi yang berkembang dan mempelopori kesadaran terhadap kesehatan mental ialah, Riliv yang menyediakan jasa layanan konseling dengan psikolog, dan Halodoc yang menyediakan jasa layanan konseling dengan psikiater. Adanya aplikasi tersebut mempermudah akses layanan kesehatan mental bagi setiap orang yang membutuhkannya. Aplikasi tersebut menciptakan “teman curhat” yang profesional untuk kita yang siap membantu kita tanpa menghakimi. Mengingat biasanya kita sering kali bertukar cerita atau mencurahkan masalah-masalah kita kepada teman sering kali lewat chat saja. Namun yg sering terjadi apabila kita bercerita kepada teman, mereka akan menghakimi cerita kita dengan memihak pada salah satu sisi saja dan bahkan terkadang kita tidak mendapat solusi yang tepat justru menjadi merasa lebih stress atau depresi. Jadi melalui aplikasi layanan kesehatan mental tersebut kita tidak perlu khawatir lagi karena kita sebagi pengguna akan langsung berhubungan dengan professional yang tepat.

Aplikasi seperti Riliv tidak hanya menyediakan jasa konseling saja tapi juga meditasi, bahkan kita dapat menulis pengalaman kita berbentuk artikel pada fasilitas aplikasi tersebut yang bernama Riliv story. Adanya aplikasi layanan kesehatan mental juga dapat mengurangi tingkat self diagnose atau diagnosa pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya ia alami. Karena pada kenyataannya self diagnose hanya menambah tingkat kecemasan seseorang, karena banya orang mencari di google tentang penyakit-penyakit terkait kesehatan mental dan membaca ciri-cirinya lalu mendiagnosa dirinya sendiri, padahal hal tersebut belum tentu benar jika kita tidak melakukan konseling kepada psikiater. Riliv atau aplikasi serupa seharusnya dapat menekan angka self diagnose tersebut. Adanya aplikasi layanan kesehatan mental seharusnya membuat kita tidak lagi mempunyai alasan untuk malu melakukan konseling atau mencari pertolongan kepada professional. Dan sekarang lebih dari 300 ribu orang telah tertolong oleh aplikasi riliv.

Saat ini juga banyak sekali para professional (psikolog/psikiater) yang memberikan edukasi tidak hanya pada platform berbasis kesehatan mental, namun juga aplikasi lainnya seperti twitter, Instagram dan youtube yang pada dasarnya terbilang sebagai aplikasi sejuta umat, dimana mayoritas masyarakat mengakses media sosial tersebut setiap hari. Hal tersebut juga banyak menarik perhatian orang untuk lebih peduli dengan pentingnya menjaga mental kita. Riliv sebagai aplikasi yang memiliki layanan kesehatan mental pun menggunakan media sosial tersebut untuk lebih menjangkau masyarakat luas agar memiliki pengetahuan mengenai kesehatan mental. Bahkan yang terbaru, riliv dan aplikasi serupa lainnya juga menggunakan tik-tok untuk menjadikan sarana edukasi bagi para penggunanya. Pada saat ini kita semua tahu bahwa tik-tok sedang digilai seluruh kalangan masyarakat, jadi hal tersebut merupakan hal yang tepat dilakukan untuk memperluas lagi jangkauan edukasi kesehatan mental.