Konten dari Pengguna

Mengagumi Bintang Film dari Tanah Hindia

Amira Aufa Fitri

Amira Aufa Fitri

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia @amiraaufa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amira Aufa Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Charles Farrel dan Janet Gaynor mengucapkan "Selamat Lebaran" untuk pembaca (Doenia Film dan Sport no. 5, 1 Maret 1930)
zoom-in-whitePerbesar
Charles Farrel dan Janet Gaynor mengucapkan "Selamat Lebaran" untuk pembaca (Doenia Film dan Sport no. 5, 1 Maret 1930)

Istilah fangirl ataupun fanboy sepertinya sudah familiar di telinga masyarakat saat ini. Globalisasi menjadikan industri hiburan dari berbagai belahan dunia dapat diakses oleh semua orang. Sebut saja drama Korea ataupun video klip dari idol group Korea yang sekarang telah dinikmati berbagai kalangan, mulai dari remaja putri hingga orang dewasa. Derasnya Korean wave ini mengakibatkan sebagian fangirl ataupun fanboy merasakan kebutuhan untuk mengikuti perkembangan berita terbaru dari idolanya. Kegiatan mengikuti perkembangan idola ini dilakukan dengan berbagai cara, seperti follow akun media sosial, membaca berita di media daring, dan lain-lain.

Jika ditelisik lebih jauh ke era kolonial, aktivitas ini bukannya tidak ada sama sekali. Sebagai akibat modernisasi yang terjadi sejak abad ke-19, timbul suatu bentuk masyarakat urban di perkotaan. Percampuran berbagai individu dengan latar budaya dan profesi yang berbeda melahirkan suatu jenis kebudayaan baru, yang lebih lanjut dapat disebut sebagai budaya India. Menurut Abduh Aziz dalam buku Dari Balik Layar Perak: Film di Hindia Belanda 1926-1942, modernisasi di dunia kesenian ditandai dengan hadirnya produk mass culture atau yang akrab disebut popular arts. Bentuk kesenian baru ini tidak lagi berorientasi pada kebudayaan tinggi, dalam hal ini kebudayaan kraton atau klasik. Masyarakat kota membutuhkan jenis hiburan yang lebih cair, murah, tidak membutuhkan waktu panjang, dan tingkat apresiasi yang sekadarnya.

Ilustrasi Industri Film Foto: Indra Fauzi/kumparan

Masuknya film cerita ke Hindia Belanda merupakan suatu perkembangan besar sebagai bentuk hiburan yang langsung melejit dan bisa ditonton siapa saja. Pada tahap-tahap awal masuknya film cerita ke Hindia Belanda, film Hollywood menjadi film favorit di masyarakat. Hal ini dikarenakan jalan ceritanya yang menghibur dan derasnya arus impor film saat itu. Dalam Politik Film di Hindia Belanda, M. Sarief Arief menyebutkan adanya kesukaran untuk membatasi masuknya film-film Amerika ke Hindia Belanda. Hal ini disebabkan oleh belum adanya negara pilihan lain yang dapat mengimbangi film produksi Amerika.

Antusiasme masyarakat terhadap film Hollywood ini diikuti oleh kemunculan majalah film berbahasa Melayu, Doenia Film. Majalah ini diterbitkan pada 1929 dan dipimpin oleh Andjar Asmara, seorang wartawan sekaligus anggota grup sandiwara yang terkenal pada tahun 1930-an, Dardanella. Majalah film ini bukan hanya berisi informasi mengenai film-film yang sedang tayang atau berita mengenai produksi film, tetapi juga kehidupan pribadi para aktor dan aktris Hollywood. Hal ini jelas merupakan hal yang menarik dan mendongkrak popularitas majalah, terbukti dengan banyaknya surat pembaca yang mengomentari berita-berita “hangat” tersebut, juga tuntutan untuk memperluas segmen berita ke dunia olahraga. Pada 1930, majalah ini berganti nama menjadi Doenia Film dan Sport.

Aktivitas “fans” pada era kolonial dapat dilihat dalam rubrik “correspondentie” majalah Doenia Film dan Sport. Rubrik ini berisi balasan redaksi kepada surat pembaca, mulai dari menanyakan kemunculan suatu aktris hingga permintaan untuk memuat gambar aktris favorit. Cuplikan balasan tersebut antara lain:

Tentoe sadja, djika toean poenja hati soeda ada sama Janet Gaynor, kerna sabelonnja film “Vadertje Langbeem” toean tida katemoe lagi Janet Gaynor penja roepa, sampe rasanja tidak enak makan maoepoen tidoer bagi toean. Milioenan soeda menjadi tergila-gila sama Janet Gaynor jang ketjil, itoe saja pertjaja, dan diantara itoe milioenan ada teritoeng djoega si Patjar Mecca alias Belieng sampe tergila-gila dengan patjar djoega. Memang djika perasahan soeka itoe masoek ka dalem, djangan kata ongkost zegel jang harga tida seberapa, djangan-djangan pegi soesoel ka tempatnja jang terletaknja ratoesan kilo meter dari sini. Charles Farrel dan Janet Gaynor aken katemoe lagi di beberapa film jang bakal dateng.” (Doenia Film dan Sport No.3, 1 Februari 1932)

Sajang sekali, boeat sekarang tida ada gambar baroe dari Janet Gaynor boeat omslag. Janet Gaynor soeda perna di moeat boeat omslag di taon jang baroe liwat, jaitoe nommer 15, tanggal 1 Agustus 1931. Adres dari Janet Gaynor dan Charles Farrell ada sama Fox Studios, 1401 N. Western Ave.” (Doenia Film dan Sport No.12, 15 Juni 1932)

Dilansir dari Los Angeles Times, Janet Gaynor merupakan aktris yang populer sejak era film bisu hingga era film bicara. Gaynor memenangkan piala Oscar pada 1929 untuk tiga film bisu, yaitu “Seventh Heaven”, “Sunrise” dan “Street Angel”. Setelah menerima Oscar, Gaynor melakukan debutnya pada film bicara, di mana tidak seperti bintang film bisu yang lain, popularitasnya meningkat. Gaynor bersama Charles Farrel merupakan aktris dan aktor Hollywood yang dipasangkan dalam berbagai film. Keromantisan keduanya mampu membuat penonton di berbagai belahan dunia terkagum, tak terkecuali di Hindia Belanda.

Selain majalah film, di Batavia terbit pula buku-buku yang berisi informasi mengenai para bintang film idola. Pada tahun 1932 terbit buku Bintang Film yang berisi 15 riwayat hidup bintang film lengkap beserta foto-fotonya. Selain itu, buku ini memberi informasi mengenai tanggal lahir dan status hubungan para bintang film. Jumlah halaman dari buku ini adalah 106 halaman dan dijual dengan harga f. 1,25. Jika mencari buku yang lebih murah, terbit pula Film Stars, yang berisi 25 riwayat singkat beserta foto dari para bintang film. Harganya hanya 80 sen.

Tipe majalah dan buku berisi riwayat bintang film semacam ini masih cukup familiar bagi generasi 90-an. Namun, sekarang sepertinya barang seperti ini sudah cukup langka dan tergantikan dengan bentuk yang lebih modern. Majalah film yang sekarang sudah memiliki fungsi sebagai kritik film dan bukan hanya sebagai majalah hiburan. Walaupun pada masa kolonial sudah ditemukan tulisan yang berisi kritikan terhadap film, fungsi dan isi utama dari majalah film tersebut memang berbentuk hiburan berupa informasi para bintang film. Ditemukannya bukti dari aktivitas “fans” pada masa kolonial ini menunjukkan bahwa film merupakan salah satu produk dari proses modernisasi dunia yang keberadaannya telah memberi corak budaya baru dalam kehidupan sosial di masyarakat.