Seberapa Jauh Kita Harus Skeptis terhadap Sinema Barat?

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia @amiraaufa
Tulisan dari Amira Aufa Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam itu, terjadi percakapan antara saya dengan seorang kawan mengenai film favorit dari seorang sutradara Amerika. Wes Anderson, tepatnya. Saat itu, saya menyebutkan bahwa The Darjeeling Limited adalah karyanya yang paling saya suka. Alasannya simpel. Jika berbicara mengenai keartistikan visual nya, film tersebut jelas sangat artistik. Mise en scène yang sangat apik di tiap gerbong kereta, di tempat-tempat suci peribadatan, di jalanan padat penuh manusia, berpadu dengan palet warna dan pengambilan gambar simetris yang memanjakan mata. Dialog-dialog komedi sepanjang film berjalan begitu saja bersamaan dengan berpindahnya para aktor ke latar yang lain. Menonton film ini tidak akan membosankan. Poin-poin tersebut lah yang saya kira akan saya diskusikan dengan kawan saya itu. Namun, di luar reaksi-reaksi yang dapat saya perkirakan, dia justru berkomentar:
“Ih, film itu kan, orientalis banget!”
Komentar tersebut membuat saya cukup berpikir. Mengapa ya, sebagai orang Asia menyukai karya-karya yang dibilang ‘orientalis’ tersebut seakan-akan merupakan sebuah dosa? Bukannya setiap penonton punya perspektif masing-masing dalam mengapresiasi sebuah karya? Tulisan ini tidak dibuat untuk membuktikan apakah The Darjeeling Limited memang orientalis atau bukan. Yang akan saya bahas di sini adalah fenomena meresahkan di mana film barat selalu dipandang memiliki maksud terselubung.
Istilah orientalisme mulai dikenal melalui pemikiran Edward Said, seorang intelektual Palestina-Amerika yang mengkaji studi postkolonial. Sekarang ini, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan apa-apa yang berbau ‘rasis’ ataupun sebagai bahasan dalam retorika beragama di wilayah timur. Orientalisme menjadi musuh bersama yang wajib diberantas demi hilangnya hegemoni barat atas dunia timur. Dalam kajian sinema, orientalisme sudah tampak sejak masa kolonialisme dan perang dunia. Ketika film mulai dikembangkan, Amerika mulai membuat film propaganda anti Jepang, dan seniman-seniman barat menghasilkan karya-karya yang mengalieanasi budaya ketimuran. Budaya timur digambarkan seakan-akan sebagai budaya inferior, di mana nilai-nilai tradisionalisme kalah dengan modern nya budaya barat. Pasca perang bersenjata, bentuk baru dari kolonialisme belum juga selesai. Para kolonialis mulai bermain lebih halus, dan orientalisme di dalam sinema dapat digambarkan secara tersirat dan samar, membentuk konsep dan pola pikir bangsa Timur sebagai bangsa inferior.
The Darjeeling Limited memang mengambil latar budaya India. Ketiga tokoh utama yang diperankan oleh Owen Wilson, Jason Schwartzman, dan Adrien Brody melakukan perjalanan kereta melintasi kawasan Himalaya, menyajikan budaya-budaya dan penampakan orang India yang dipandang oleh sebagian orang, cukup meresahkan. Menyebutnya sebagai film orientalis atau bukan, itu pendapat masing-masing individu. Namun, memutuskan bahwa film tersebut patut diapresiasi atau tidak hanya berdasarkan satu hal tersebut agaknya cukup berlebihan. Begini, selama film tersebut tidak menyerang atau menggambarkan secara keliru suatu budaya, tidak ada salahnya untuk menikmati saja apa yang disajikan di layar. Lagipula, esensi sebuah film memang seharusnya untuk dinikmati bagaimana adanya kan? Justru perspektif para pegiat film lah yang mampu memberi warna pada berbagai topik sosial yang ada. Melalui kacamata sang sutradara, kita mampu memahami jiwa zaman suatu masa sekaligus menerima pandangan yang tidak mesti seperti yang kita bayangkan.
Lalu, apa kah kita harus membiarkan orientalisme tetap merasuk pada berbagai bidang di kehidupan sehari-hari? Jawabannya, iya dan tidak. Iya, karena selama kolonialisme masih ada, produk turunan darinya akan terus beredar dan ditemui di mana saja. Kita tidak bisa mengubahnya dengan cepat. Tidak, karena tentu saja kritik akan orientalisme dan upaya dekolonisasi harus terus disuarakan. Namun, bukan berarti kita harus menjadi kaum skeptis yang berlebihan dalam segala hal. Terus menjadi kritis adalah solusi yang lebih baik. Masih banyak hal yang lebih bijak dan mudah dilakukan dibanding mencibir dan terus berprasangka kepada film-film barat. Kita selalu bisa melihat kembali dari kacamata pribumi. Dengan begitu, yang kita lihat adalah realita, tanpa adanya bias orientalisme. Jika merasa bahwa budaya dan orang India dialienasi dalam The Darjeeling Limited, maka beralihlah ke Satyajit Ray misalnya. Hal ini berlaku juga untuk film-film lain. Tengok Abbas Kiarostami untuk memahami kompleksnya kehidupan di Iran, Akira Kurosawa untuk melihat peran orang Jepang sebagai tokoh utama dan bukan hanya tambahan, ataupun Nadine Labaki untuk mengingatkan kita akan kenyataan yang terjadi di Lebanon. Tontonlah film-film masa kini ataupun masa lalu. Bandingkan penyajian kultural di tiap tahun yang berbeda. Dengan begini, perspektif kita akan makin kaya, kita dapat lebih sedikit memahami alasan-alasan dan gaya seorang sutradara dalam berkarya. Sehingga, tidak melulu kita terus memberi stigma negatif pada segala produk barat. Bahkan, dalam beberapa kasus budaya-budaya menakjubkan dari timur justru terangkat berkat kinerja sinema barat.
Sebelum berkoar-koar menentang orientalisme, coba pikirkan lagi, apakah kita masih melakukan praktik yang tidak jauh beda dengannya? Apakah kita masih tertawa dan menikmati komedi yang mengandung SARA kepada sesama saudara sebangsa di dalam sinema Indonesia? Kenyataannya, praktik rasisme di dalam film-film atau bahkan sinetron di Indonesia masih sering dilakukan. Dan parahnya, hal ini masih belum dianggap keterlaluan oleh sebagian dari kita.
