Konten dari Pengguna

Cinta yang Tak Sampai, tetapi Tak Mudah Dilupakan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amira Putri Faizety tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita menyukai seseorang, tetapi keadaan membuat kita tidak bisa bersama dengannya? Terkadang, perasaan saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan. Ada dua orang yang saling menyimpan perasaan, tetapi keadaan membuat mereka tidak bisa bersama. Bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Perasaan seperti inilah yang saya temukan ketika membaca novel Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka, sebuah kisah tentang cinta, pengorbanan, dan kenyataan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi, diambil dan diedit sendiri menggunakan canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Dokumentasi pribadi, diambil dan diedit sendiri menggunakan canva

Cerita ini berpusat pada Hamid, seorang pemuda dari keluarga sederhana, dan Zainab, anak perempuan dari keluarga berada yang telah banyak membantu kehidupan Hamid dan ibunya. Sejak kecil, Hamid dan Zainab tumbuh dalam lingkungan yang sama. Kedekatan yang awalnya terasa seperti hubungan saudara perlahan menyimpan perasaan yang lebih dalam. Namun, perasaan itu tidak mudah mereka ungkapkan. Ada perbedaan kedudukan sosial yang membuat Hamid merasa dirinya tidak pantas berharap terlalu jauh.

Bagi Hamid, keluarga Zainab bukan orang asing. Haji Jaafar dan Mak Asiah telah memberikan pertolongan yang berarti bagi kehidupannya. Karena itu, ketika perasaannya terhadap Zainab semakin dalam, Hamid justru berada dalam keadaan yang sulit. Ia harus berhadapan dengan keinginan hatinya sendiri sekaligus rasa hormat dan terima kasih kepada keluarga yang telah membantunya. Bahkan, ketika diminta membantu membujuk Zainab mengenai masa depannya, Hamid harus menghadapi keadaan yang bertentangan dengan perasaannya sendiri.

Bagian inilah yang membuat kisah Hamid terasa menyedihkan. Ia bukan tidak memiliki perasaan, tetapi ia terlalu banyak memikirkan keadaan dan orang-orang di sekitarnya. Ada hal-hal yang ingin disampaikan, tetapi sulit diucapkannya. Sebagai pembaca, saya merasa bahwa penderitaan Hamid bukan hanya berasal dari cinta yang terhalang, melainkan juga dari kebiasaannya memendam perasaan dan menanggung semuanya seorang diri.

Ketika hidup terasa semakin berat, Hamid pergi ke Makkah. Di sana, ia berusaha menemukan ketenangan melalui ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, berada di tempat suci tidak serta-merta membuat seluruh kesedihannya hilang. Ia tetap membawa kenangan dan kegelisahan yang selama ini dipendamnya. Bagian ini memperlihatkan sisi lain Hamid, bahwa di balik sikapnya yang tenang, ada kesedihan yang begitu dalam.

Akhir cerita menjadi bagian yang paling menyayat hati. Hamid akhirnya mengetahui bahwa Zainab telah meninggal dunia. Dalam keadaan yang lemah, ia dibawa ke Masjidil Haram dan meminta agar tandunya dihentikan di dekat Ka'bah. Di tempat itu, ia berdoa sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Kisah Hamid pun berakhir di bawah lindungan Ka'bah, tempat ia menyerahkan segala kesedihan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Menurut saya, kekuatan novel ini terletak pada cara Hamka menggambarkan perasaan yang tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kisah Hamid dan Zainab memang tragis, tetapi persoalan yang mereka hadapi membuat pembaca berpikir bahwa cinta tidak selalu saling menyukai. Ada keadaan keluarga, pandangan masyarakat, dan keputusan hidup yang turut memengaruhi hubungan seseorang.

Meski menggunakan bahasa yang terasa klasik dan beberapa bagian berjalan cukup lambat, novel ini tetap menarik untuk dibaca. Gaya bahasanya membawa suasana yang berbeda dari cerita modern, sementara konflik batinnya membuat pembaca memahami kesedihan tokoh secara perlahan. Bagi saya, kekurangan tersebut tidak menghilangkan kekuatan ceritanya, justru menjadi bagian dari pengalaman membaca karya sastra dari masa yang berbeda.

Setelah membaca Di Bawah Lindungan Ka'bah, saya menyadari bahwa novel ini bukan hanya tentang dua orang yang gagal bersatu. Cerita ini juga mengajak kita memikirkan bagaimana perbedaan keadaan dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk memperjuangkan perasaannya. Kisah Hamid mengingatkan saya bahwa terlalu lama memendam sesuatu juga dapat menjadi beban, sementara kehidupan tidak selalu memberi kesempatan untuk mengungkapkan semua yang ingin kita katakan.

Pada akhirnya, novel karya Hamka ini meninggalkan kesedihan sekaligus renungan. Kita mungkin tidak mengalami kisah yang sama dengan Hamid dan Zainab, tetapi perasaan takut kehilangan, sulit mengungkapkan isi hati, dan harus menerima kenyataan adalah hal yang dekat dengan kehidupan manusia. Bagi saya, itulah yang membuat Di Bawah Lindungan Ka'bah tetap layak dibaca: kisahnya boleh berasal dari masa lalu, tetapi perasaan yang ditinggalkannya masih dapat kita pahami hingga sekarang.