Mengapa Dukungan Keluarga Itu Kunci?

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Amira Putri Faizety tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah tidak kamu merasa punya mimpi setinggi langit, tetapi lingkungan sekitar justru lebih sibuk menyiapkan tangga untuk membuatmu turun? Di banyak sudut masyarakat, kenyataan seperti ini masih sering terjadi, terutama bagi perempuan.
Nazia Syauqilla menulis cerpen berjudul “Perempuan yang Terbungkam” yang dimuat di Kompas pada 6 Mei 2026. Cerpen ini bukan sekadar fiksi biasa. Ia seperti potret sosial yang jujur tentang bagaimana bias gender dan ekspektasi patriarki sering kali memotong mimpi anak perempuan sejak dini. Namun, jika dibaca lebih dalam memakai teori pengkajian fiksi Burhan Nurgiyantoro, kekuatan cerpen ini sebenarnya bertumpu pada dua unsur intrinsik yang sangat kuat, yaitu penokohan dan sudut pandang. Lewat dua unsur inilah, pembaca diajak memahami mengapa dukungan keluarga, khususnya dari sosok ayah, bisa menjadi kunci penyelamat di tengah ramainya bungkaman sosial.

Penokohan: Karakter yang Membuat Konflik Terasa Nyata
Dalam buku Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiyantoro membedakan tokoh berdasarkan perannya, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan, serta berdasarkan kompleksitas wataknya, yaitu tokoh sederhana dan tokoh bulat. Dalam cerpen “Perempuan yang Terbungkam”, dinamika ini digambarkan dengan sangat menarik. Pertama, tokoh “Aku” dapat dilihat sebagai tokoh bulat. Tokoh utama ini digambarkan sebagai remaja perempuan yang dinamis dan terus berkembang. Di satu sisi, ia adalah anak yang rentan. Ia bisa merasa cemas, tersinggung, bahkan menangis di atas kasur yang digambarkan “seluas samudra” setelah mendengar cemoohan bapak-bapak di teras rumahnya. Namun, di sisi lain, ia tidak mau tunduk begitu saja. Ia membaca isu sosial di internet, mempersiapkan pidato berjudul
“Perempuan dan Ekspektasi Masyarakat”
lalu berani menyuarakan pikirannya di atas panggung. Wataknya yang tidak datar dan tidak satu dimensi inilah yang membuat tokoh “Aku” terasa sangat manusiawi. Kedua, tokoh Ayah dapat dipahami sebagai tokoh tambahan. Dari segi jumlah kemunculan, Ayah memang tidak selalu hadir. Namun, secara fungsi, perannya sangat penting. Ketika bapak-bapak di kampung menyarankan agar si anak berhenti sekolah saja untuk membantu ibunya, Ayah hanya merespons dengan senyum yang seperti menahan badai, lalu berkata pelan,
“Ayah masih mampu.”
Kalimat pendek itu sederhana, tetapi dampaknya besar. Sikap Ayah yang konsisten mendukung pendidikan anak perempuannya menjadi seperti oase di tengah keringnya dukungan sosial. 1 Sosok Ayah dalam cerpen ini mengingatkan kita bahwa dukungan keluarga sering kali jauh lebih menentukan daripada kemampuan seseorang. Banyak anak sebenarnya punya potensi besar, tetapi kehilangan keberanian karena rumah tidak pernah menjadi tempat yang benar-benar mendukung mimpi mereka. Ketiga, masyarakat, baik bapak-bapak kampung maupun netizen, hadir sebagai antagonis. Cerpen ini tidak menghadirkan satu sosok penjahat yang konkret. Sebaliknya, yang menjadi lawan utama tokoh “Aku” adalah cara pandang masyarakat. Ada bapak-bapak tetangga yang meremehkan pendidikan perempuan dengan berkata,
“Sekolah tempat bagus untuk apa? Kan, nanti juga bakal gitu-gitu aja.”
Ada pula komentar miring netizen di media sosial seperti,
“Perempuan selalu mendapat privilege lebih banyak daripada laki-laki.”
Mereka menganggap fasilitas khusus perempuan di ruang publik sebagai bentuk keistimewaan, padahal fasilitas itu justru hadir sebagai bentuk perlindungan karena ruang publik masih belum sepenuhnya aman bagi perempuan.
Sudut Pandang: Kedalaman Batin yang Terluka
Bagaimana cara paling tepat untuk menceritakan sebuah bungkaman? Tentu dengan membiarkan orang yang dibungkam itu berbicara sendiri. Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu “Aku” sebagai tokoh utama. Menurut Burhan Nurgiyantoro, salah satu kelebihan sudut pandang “Aku” tokoh utama adalah kemampuannya mengajak pembaca ikut masuk dan berempati secara lebih dalam. Saat membaca cerpen ini, kita tidak hanya berdiri sebagai pembaca dari luar. Kita seperti diajak masuk ke kepala tokoh “Aku”. Kita ikut merasakan sesak di dadanya ketika diremehkan, ikut merasakan debaran saat ia mengenakan kebaya kuning keemasan, dan ikut membayangkan getaran tangannya ketika memegang mikrofon di atas panggung aula universitas impiannya. Sudut pandang “Aku” memang punya keterbatasan karena tokoh tidak bisa mengetahui isi pikiran orang lain secara langsung. Namun, keterbatasan itu justru dimanfaatkan dengan cerdas melalui pengamatan tokoh sepanjang perjalanan.
“Ia melihat ibu yang menyetir motor sambil menggendong bayi, juga mbak-mbak kantoran yang berdiri di dalam bus.”
Pengamatan kecil seperti ini membangunkan kesadaran kritis tokoh “Aku”, sekaligus kesadaran kita sebagai pembaca, bahwa banyak perempuan di sekitarnya sedang berjuang di garis pertarungan yang sama.
Mengapa Dukungan Keluarga adalah Kunci?
Sekarang, coba kita bayangkan. Bagaimana kalau setelah mendengar cemoohan tetangga, Ayah justru mengiyakan dan menyuruh tokoh “Aku” berhenti sekolah? Bisa jadi, suara tokoh “Aku” benar-benar selesai sebelum sempat terdengar. Ia mungkin akan berakhir persis seperti ekspektasi buruk masyarakatnya:
“Perempuan akan berakhir di dapur dengan bau bawang yang menyengat dan suara tangis bayi yang memekikkan telinga.”
Namun, kalimat singkat
“Ayah masih mampu”
menjadi pelindung yang tidak terlihat. Dukungan Ayah menjadi ruang aman yang menjaga api mimpi tokoh “Aku” tetap menyala, sampai akhirnya ia berani melantangkan suaranya di atas panggung lomba pidato berjudul “Perempuan dan Ekspektasi Masyarakat” pada Hari Kartini. Pada akhirnya, cerpen “Perempuan yang Terbungkam” tidak hanya bercerita tentang seorang anak perempuan yang ingin mempertahankan mimpinya. Cerpen ini juga mengingatkan kita bahwa dukungan keluarga bisa menjadi alasan seseorang tetap bertahan ketika dunia terus meragukannya. Rumah seharusnya menjadi tempat pertama yang menguatkan, bukan tempat pertama yang membungkam. Cerpen ini seperti tamparan yang lembut, tetapi tetap terasa. Mengubah cara pandang dunia luar yang patriarkis memang butuh waktu panjang. Namun, sebelum seorang perempuan mampu membungkam dunia dengan prestasinya, ia perlu lebih dulu diselamatkan dari bungkaman di rumahnya sendiri.
Opini Pribadi: Mimpi Perempuan dan Budaya Patriarki
Sebagai mahasiswa yang bergelut di bidang bahasa dan sastra, saya melihat cerpen “Perempuan yang Terbungkam” bukan hanya sebagai cerita pendek biasa. Bagi saya, karya Nazia Syauqilla ini adalah alarm sosial yang bunyinya cukup keras. Sering kali, kita sebagai masyarakat menuntut perempuan untuk tangguh, berprestasi, dan berani memimpin di ruang publik. Namun, kita juga sering lupa menanyakan satu hal yang sangat mendasar: apakah rumah mereka sudah menjadi tempat yang aman untuk memulai semua mimpi itu? Menurut saya, kekuatan emosional cerpen ini justru terletak pada keberhasilannya membawa isu patriarki ke ruang yang paling dekat dengan kehidupan kita, yaitu rumah dan keluarga. Sosok Ayah di dalam cerpen ini memberi tamparan logis bagi kita semua. Perjuangan kesetaraan gender sering kali disalahpahami sebagai “perang” antara laki-laki dan perempuan. Padahal, lewat karakter Ayah, kita diperlihatkan bahwa perjuangan ini adalah perjuangan bersama demi kemanusiaan. Ketika seorang laki-laki, entah sebagai ayah, saudara laki-laki, atau suami, ikut berdiri melindungi hak perempuan di keluarganya, saat itulah bungkaman sosial mulai retak. Sastra memang berfungsi sebagai cermin masyarakat. Namun, lewat cerpen ini, saya semakin sadar bahwa keluarga, terutama meja makan di rumah, adalah garis pertahanan pertama sekaligus terakhir bagi mimpi-mimpi anak perempuan.
Daftar Pustaka
• Nurgiyantoro, B. (2002). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
• Syauqilla, N. (2026, Mei 6). Perempuan yang Terbungkam [Cerpen]. Kompas.id.
