Konten dari Pengguna

Baritan dan Cerita Para Nabi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amirudin Mahmud tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baritan di Kertasmaya Kab. Indramayu (Gambar dari Kertasemaya.desa.id)
zoom-in-whitePerbesar
Baritan di Kertasmaya Kab. Indramayu (Gambar dari Kertasemaya.desa.id)

Di kampung saya ada acara makan bersama yang dilakukan di perempatan jalan. Warga berkumpul membaca doa bersama. Memohon keselamatan, kesuksesan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Pembacaan doa dipimpin oleh sesepuh warga. Kemudian mereka menikmati makanan yang dihidangkan. Makanan dikumpulkan dari warga. Mereka membawa berbagai macam makanan secara sukarela. Pertama kali menyaksikan kegiatan tersebut saya sempat bertanya kepada salah satu orangtua yang ada tentang kebiasaan tersebut. Baritan, jawabannya.

Ya, baritan ucap salah satu sesepuh masyarakat. Belakangan saya berpikir apa sebenarnya baritan itu? Saya tertarik membuka kamus bahasa Arab, mencari akar kata dan artinya. Sebab beberapa tradisi Jawa mengambil nama dari bahasa Arab, misalnya nadzran konon dari kata nadzar yang berarti ikrar atau janji melakukan sesuatu. Masyarakat nelayan biasa melakukan nadran dengan membuang kepala sapi atau kerbau dan sesajen lainnya ke tengah laut untuk menebus janji karena diberikan kelancaran berlayar mencari ikan.

Dalam bahasa Arab ada kata bari'an / baroah (براءة): Berasal dari kata bari'an atau baroah, yang artinya kebaikan, pembebasan, atau terlepas dari dosa/kesalahan. Menurut Mahmud Yunus (1972), baroatan berasal dari baria-yabrou yang artinya lepas, bebas dan bersih. Dengan demikian baritan dapat diartikan sebagai syukuran atas keselamatan, bebas dari musibah, atau terlepas dari dosa dan kesalahan.

Memang jika diamati latar belakang tradisi baritan diselenggarakan antara lain pertama syukuran atas nikmat yang telah diterima seperti selesai membangun jalan, jembatan atau lainnya. Kedua, ungkapan kegembiran memperoleh sesuatu yang sangat dinanti seperti panen. Ketiga, selamat dari tertimpa musibah seperti bebas banjir, gempa atau lainnya.

Baritan merupakan tradisi yang dilaksanakan lebih simpel dibanding adat istiadat yang lain. Dalam baritan tidak ada arak-arakan maupun hiburan kesenian. Baritan lebih menekankan pada doa bersama. Makanan yang dibawa oleh peserta adalah nasi beserta lauknya. Setiap orang pasti memilikinya. Ada juga yang membawa makanan selain nasi. Makan bersama, dikemas secara sederhana menggunakan baki atau piring. Baritan biasanya diselenggarakan sore hari menjelang magrib. Tempat yang digunakan bisa balai desa, tanah lapang, simpang jalan maupun kebuyutan sesuai kesepakatan.

Cerita Para Nabi

Satu lagi, tradisi baritan dilakukan setiap bulan Muharam dalam kalender Hijriyah atau bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Kenapa harus di bulan Muharam? Ternyata jika membuka sejarah Islam, Muharam adalah bulan yang agung, mulia dan istimewah. Di dalamnya terdapat beberapa peristiwa yang senantiasa dikenang dan diingat oleh umat Islam.

Menurut Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin ada banyak peristiwa luar biasa yang dilakoni oleh para nabi di bulan Muharam. Di antaranya adalah : 1) Diterimanya taubat Nabi Adam as setelah diturunkan dari surga. 2 ) Diangkatnya Nabi Idris as ke tempat yang tinggi. 3) Diturunkannya Nabi Nuh as dari kapal, setelah baniir bandang. 4) Diselamatkannya Nabi Ibrahim as dari bakaran apinya raja Namrud. 5) Diturunkannya kitab Taurat pada Nabi Musa as. 6) Dikeluarkannya Nabi Yusuf as dari penjara. 7) Disembuhkannya kebutaan Nabi Ya’qub as dari wasilah pakaiannya Nabi Yusuf as. 8) Disembuhkannya Nabi Ayyub as dari sakit kulit yang berkepanjangan. 9) Dikeluarkannya Nabi Yunus as dari perut ikan Nun. 10) Disibakkannya lautan bagi Bani Israil yang melarikan diri dari kejaran raja Fir’aun Mesir yang kejam. 11) Diampuninya Nabi Dawud as dari kesalahannya. 12) Diberinya Nabi Sulaiman as kekuasaan berupa kerajaan. 13) Diangkatnya Nabi Isa as ke langit setelah dikepung bangsa Romawi. 14) Diampuninya kesalahan yang telah lewat dan yang akan datang dari Nabi Muhammad saw.

Sejarah di atas bisa jadi merupakan sebab dipilihnya bulan Muharam dalam penyelenggaraan tradisi baritan. Asumsi ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Pertama, fakta sejarah bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak dengan peperangan atau kekerasan. Islam masuk ke nusantara melalui jalur perdagangan. Pada tataran tersebut akulturasi budaya terjadi.

Kedua, banyak tradisi dalam masyarakat Jawa dan suku lainnya di Indonesia yang berakar pada nilai, norma dan sejarah Islam. Kaitan dengan hal tersebut, tradisi bubur merah putih di bulan Sura atau Muharam juga terkait dengan cerita-cerita di atas.

Ketiga, kajian bahasa seperti dijelaskan sebelumnya. Baritan diyakini berasal dari bahasa Arab. Tidak atau setidaknya belum ditemukan baritan dalam bahasa lain.

Sekarang muncul pertanyaan perlukah tradisi baritan dipertahankan atau dikembangkan? Saya kira sangat perlu. Kenapa? Pertama, selagi sesuatu itu bertujuan baik, dilakukan dengan cara yang baik maka sepatutnya dipertahankan dan dilestarikan. Tentu dengan menjaganya agar tidak melenceng dari tujuan awal serta merawatnya jangan sampai tradisi baik itu menjadi rusak. Baritan sebanarnya ungkapan rasa syukur atas segala yang diterima dan selamat dari musibah atau bencana.

Kedua, menjaga tradisi seperti baritan tak lain adalah menjaga dan mengembangkan peradaban serta sejarah kemanusian. Sebab itu secara otomatis menjadi tanggungjawab bersama manusia sebagai pemiliki peradaban.

Ketiga, layak dikembangkan dan dilestarikan karena tidak ada yang ditabrak. Baritan tak melanggar hukum, norma, adat istiadat yang ada. Baritan sejalan dengan nilai-nilai agama, budaya masyarakat pedesaan. Lebih jauh, baritan dikaitkan dengan sejarah para nabi as seperti yang disinggung sebelumnya.

Ringkasnya, baritan adalah wujud rasa syukur manusia atas kenikmatan yang diterima. Selamat dari berbagai bencana. Tradisi baritan pantas mendapat apresiasi. Layak dijaga dan dikembangkan. Wa Allahu Alam Bishawab.