Bukan Cuma Lewat Ketikan, Ini Alasan Suara Manusia Makin Berharga di Era AI
Tulisan dari Firli Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berani berbicara adalah keterampilan yang bisa dilatih oleh siapa saja. Setiap orang yang berani menyampaikan pikiran dengan baik, pantas untuk didengar.
Minat generasi muda terhadap kemampuan berbicara di depan umum juga terlihat dari hasil survei Jakpat yang dilakukan pada 24–25 Februari 2025. Dari sejumlah responden Gen Z yang tertarik mengikuti kursus pengembangan diri, sebanyak 54% memilih materi public speaking. Angka ini menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi secara langsung semakin dianggap penting. Generasi yang tumbuh terbiasa dengan layar pun mulai menyadari: berkomunikasi tidak cukup hanya lewat ketikan.
Namun, minat yang tinggi belum tentu dibarengi dengan rasa percaya diri yang sama kuat. Kecemasan saat berbicara di depan umum dialami oleh banyak orang; dalam istilah yang lebih spesifik, kondisi ini dikenal sebagai glossophobia. Seperti dilansir Hello Sehat dari berbagai penelitian, sekitar 77 persen orang merasakan kegugupan saat harus berbicara di hadapan orang lain. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi mengingatkan bahwa merasa gugup itu hal yang wajar, dan kamu tidak sendirian.
Pada kegiatan Mini Bootcamp “Jago Tampil” yang diselenggarakan oleh Suara Surabaya Academy pada 9–10 Juli 2025, sebanyak 76 peserta berlatih mempraktikkan kemampuan berbicara di depan umum. Penyiar sekaligus mentor, Adit Jufriansyah, mengamati bahwa banyak peserta merasa terbebani karena berpikir harus tampil lucu atau menarik perhatian sepanjang waktu. Saran yang ia sampaikan sederhana: kenali siapa audiens dan di mana acara berlangsung, susun alur pembahasan, siapkan pilihan kata yang tepat, dan bagi pemula, menuliskan naskah terlebih dahulu sangat membantu. Sementara itu, Maulina Pia Wulandari, pakar komunikasi dari Universitas Brawijaya, menegaskan bahwa kemampuan berbicara di depan umum memiliki tekniknya sendiri, sehingga perlu dilatih secara berkelanjutan, idealnya dimulai sejak dini.
Di tengah perkembangan teknologi dan kehadiran AI, banyak orang khawatir pekerjaan mereka akan tergantikan oleh mesin. Padahal justru di sinilah letak keunggulan kita: suara manusia semakin berharga. Rangkuman Viva berdasarkan laporan CNBC pada 29 Mei 2026 menempatkan kemampuan komunikasi sebagai salah satu keterampilan yang paling sulit digantikan oleh kecerdasan buatan. Mesin mampu menghasilkan tulisan dalam waktu singkat, tetapi memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pendengar dan membangun hubungan yang tulus itu masih keistimewaan manusia.
Lalu, bagaimana cara melatihnya agar kita semakin nyaman tampil berbicara? Berikut saya rangkum saran para praktisi menjadi rumus sederhana 3K:
Pertama, Kenali. Pahami dengan siapa kamu berbicara dan di mana kamu berada. Cara menyampaikan sesuatu tentu berbeda saat berbicara di rapat kantor dibandingkan saat berbagi cerita dengan teman.
Kedua, Konsepkan Pesannya. Tentukan satu pesan utama yang ingin kamu sampaikan, lalu siapkan tiga poin pendukung yang memperkuatnya. Bagi kamu yang baru belajar, menuliskan kerangka atau naskah bisa sangat membantu agar penyampaian tetap terarah.
Ketiga, Komunikasikan dengan Tenang. Bicaralah dengan kecepatan yang pas, tulus, dan hormat kepada pendengar. Kamu tidak harus selalu lucu atau heboh, yang terpenting adalah apa yang kamu sampaikan dapat dimengerti dan terasa tulus.
Terakhir, latihlah sampai kamu merasa nyaman. Cobalah merekam dirimu sendiri berbicara selama satu menit, dengarkan kembali, lalu perbaiki satu hal saja di kesempatan berikutnya. Perlahan tapi pasti, kemampuanmu akan tumbuh seiring dengan keberanianmu untuk terus mencoba.

