Konten dari Pengguna

Melupakan Cinta Tak Semudah Katanya

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ammar Kadafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pergulatan hati antara mencintai dan melupakan, saat waktu tak selalu jadi penyembuh (Sumber: Pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pergulatan hati antara mencintai dan melupakan, saat waktu tak selalu jadi penyembuh (Sumber: Pixabay.com)

Katanya, waktu bisa menghapus semua kenangan, bahkan yang paling buruk dari masa lalu. Namun, benarkah waktu bisa menghapus seseorang yang begitu lama mengisi hati, seseorang yang tak pernah meninggalkan jejak buruk dalam hidup?

Melupakan, ternyata, tak pernah sesederhana janji waktu. Ada luka yang tak terlihat, ada kenangan yang tak rela dilepaskan. Dan ada cinta yang meskipun tak berbalas, tetap hidup diam-diam. Tapi, apakah kita akan diam saja, membiarkan harapan indah itu hancur perlahan? Atau, justru bangkit dan mencoba meraih kembali impian yang sempat pudar?

Sejarah penuh dengan kisah perjuangan cinta. Ada mereka yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang yang dicintai. Ada juga yang berjuang habis-habisan demi tetap bersama impian hati. Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan besar yang sering terabaikan "apa sebenarnya hubungan mencintai dan melupakan?"

Mencintai adalah proses yang rumit. Ia tak bisa diarahkan atau dipaksakan. Sebaliknya, dicintai adalah anugerah, sebuah kebahagiaan yang begitu diharapkan. Tapi, sampai kapan orang yang mencintai mampu bertahan jika terus diabaikan? Berapa lama seseorang sanggup bertahan saat dirinya dianggap tak ada, bahkan tak dihargai?

Ada pepatah yang mengatakan, "Jika hadirmu tak dihargai, mungkin hilangmu akan dicari." Tapi, apakah kehilangan itu yang benar-benar dicari? Tentu bukan. Sebab harapan sejati dari mencintai adalah untuk dicintai kembali.

Melupakan memang tak semudah katanya, terutama jika cinta itu tulus. Namun, hidup tak bisa berhenti hanya pada harapan yang tak berbalas. Pada akhirnya, setiap hati akan memilih jalannya sendiri: bertahan atau melepaskan. Dan keduanya, meski berbeda, tetaplah membutuhkan keberanian.