Maraknya Kekufuran di Akhir Zaman

Halo...Saya Ammar Luthfi Ramadhan Mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
Tulisan dari AMMAR LUTHFI RAMADHAN 2021 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai umat Islam yang taat kepada Allah SWT dan Rasulnya, sudah seharusnya bagi kita untuk menjaga ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala bentuk perintahnya dan menjauhi segala larangannya, karena ketakwaan adalah sebaik-baiknya bekal untuk kehidupan kita di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah SWT :
وَ تَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى (البقرة : 197 )
“ Dan persiapkanlah bekalmu, karena sebaik-baiknya bekal (untuk akhirat) adalah ketakwaan” (QS. Al-Baqarah : 197)
Dalam ayat tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa takwa adalah bekal yang harus dipersiapkan oleh setiap muslim untuk menghadapi kehidupan selanjutnya yang kekal abadi yaitu akhirat, karena dengan ketakwaannya seorang muslim akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.
Allah SWT juga sudah mewanti-wanti kepada umat manusia agar senantiasa menjaga iman islamnya hingga akhir hayatnya, dan ternyata terbukti, hari ini sangat banyak perbuatan atau prilaku yang tidak disadari dan dapat membawa seorang muslim kepada kekufuran atau murtad.
Kufur atau menyekutukan Allah SWT adalah suatu perbuatan yang sangat Allah benci, bahkan termasuk dosa yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT, karena dari sekian banyak dosa yang Allah ampuni hanya dosa kekufuran yang Allah tidak pernah memberikan pengampunan kepadanya, akan tetapi fenomena yang kita rasakan saat ini, hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dan dianggap normal oleh masyarakat khususnya umat Islam itu sendiri.
Ketika saya di pesantren dulu saya mempelajari sebuah kitab, yaitu kitab Sullam At-Taufiq karangan Al-Allamah Asy-Syaikh Salim bin Abdulloh bin Sa’ad bin Abdulloh bin Sumair Al-Hadhromi Asy-Syafi’I, seorang ulama yang berasal dari Yaman, kitab ini termasuk kitab mukhtasar atau kitab yang ringkas agar mudah difahami oleh masyarakat awam, didalam kitab tersebut dijelaskan bahwa murtad terbagi menjadi 3 bagian, yaitu murtad keyakinan, murtad perbuatan, dan murtad perkataan, dari setiap bagian, semuanya memiliki cabang masing-masing, yaitu :
1.Riddah I’tiqad (kepercayaan)
Riddah (murtad) ini menyangkut akan keyakinan kita didalam hati, contohnya :
Meragukan adanya Allah SWT
Meragukan utusan Allah SWT
Meragukan kebenaran isi Al-Qur’an
Meragukan hari akhir
Meragukan surga dan neraka
Meragukan adanya balasan dari Allah SWT diakhirat kelak berupa nikmat dan adzab
2.Riddah Af’al (perbuatan)
Riddah (murtad) af’al ini menyangkut perbuatan yang kita lakukan, contohnya seperti sujud kepada sesuatu selain Allah SWT
3.Riddah Aqwal (perkataan)
Riddah (murtad) Aqwal ini menyangkut perkataan yang kita ucapkan, dan contohnya sangat banyak sekali, salah satu contohnya yaitu memanggil sorang muslim dengan sebutan “hai kafir!”, “hai nasrani!”, “hai yahudi!”, “hai orang yang tidak beragama!”, dengan maksud bahwa orang tersbut adalah kafir.
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini banyak muslim yang dengan mudahnya melakukan ketiga hal tersebut mulai dari riddah i'tiqad, seperti yang sedang viral belakangan ini di beberapa platform media sosial di mana ada banyak video yang menggunakan backsound seakan-akan dia meminta segala sesuatu kepada selain Allah SWT, begitupun riddah af’al ada sebuah video yang menayangkan 2 orang yang bersaing memasukkan pensil kedalam gelas dengan jarak tertentu dan yang berhasil memasukkannya dia bisa menentukan nasib dan keinginannya, dari kedua contoh di atas riddah aqwal adalah riddah yang sangat rentan dan banyak dilakukan oleh seorang muslim seperti contohnya mentakfirkan sesama muslim hanya karena berbeda pendapat, bahkan terkadang menjadi sebuah lelucon yang dianggap normal ditengah-tengah masyarakat, bahkan Nabi Muhammad SAW sudah memperingatkan kepada umatnya agar tidak sembarangan dalam mentakfirkan sesama muslim, karena imbasnya akan sangat berat bagi yang mentakfirkan dan yang ditakfirkan.
Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seseorang berkata kepada orang lan kafir, maka kafirlah salah satu dari keduanya”.
Dari hadits tersebut dapat disimpulkan apabila seseorang yang divonis kafir tersebut memang benar kafir keadaannya maka dia telah berkata benar, akan tetapi sebaliknya, jika orang yang dia vonis kafir tersebut tidak kafir, maka kekafiran itu kembali kepadanya, sehingga dia murtad tanpa dia sadari wallahu a’lam.
