Lebaran bagi Mereka yang Tak Dapat Liburan

Ammara Nayla
Mahasiswa Jurnalistik di Universitas Padjadjaran
Konten dari Pengguna
20 April 2024 23:16 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ammara Nayla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Potret petugas keamanan yang tengah berjaga di area masuk Masjid Raya Al-Jabbar pada Sabtu (13/4) | Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Potret petugas keamanan yang tengah berjaga di area masuk Masjid Raya Al-Jabbar pada Sabtu (13/4) | Sumber: Dokumentasi Pribadi
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Satu bulan penuh berpuasa di Bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia disambut hangat dengan kedatangan Bulan Syawal yang dibuka oleh Hari Raya Idul Fitri 1445 H. Hari di mana mereka yang pergi ke perantauan diberikan waktu untuk kembali bercengkrama dengan keluarga di kampung halaman.
ADVERTISEMENT
Selepas Salat Idul Fitri selesai dilaksanakan, umat Islam mulai disibukkan dengan persiapan untuk menghidangkan santapan terbaik bagi saudara jauh yang akan datang. Sebagian lainnya ada yang langsung bersiap untuk melakukan perjalanan mudik, atau bahkan sudah berada di kampung halaman sebelum hari raya tiba.
Selain bersilaturahmi sambil bermaaf-maafan, tak sedikit dari mereka yang juga menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat baru yang bermunculan di kampung halaman.
Suasana Masjid Raya Al-Jabbar pada Sabtu (13/4) | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Masjid Raya Al-Jabbar yang terletak di Jalan Cimencrang No.14, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat merupakan salah satu dari banyaknya tempat-tempat baru tersebut. Diresmikan pada tahun 2022 lalu, masjid tersebut telah menjadi salah satu ikon tujuan wisata religi yang banyak menarik wisatawan untuk datang.
Tahun ini merupakan tahun kedua masjid tersebut menyelenggarakan Shalat Idul Fitri. Akan tetapi, warga tampak masih sama antusiasnya dengan pada pelaksanaan perdana di tahun 2023.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya pada waktu pelaksanaan Shalat Idul Fitri, para pengunjung juga terus berdatangan bahkan hingga tiga hari setelahnya. Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari KH. Erdi Hardiman, pengurus Masjid Raya Al-Jabbar di Bidang Imaroh, terhitung telah ada kurang lebih 80 ribu pengunjung yang datang sejak 10-12 April 2024.
Suasana lebaran di Masjid Raya Al-Jabbar benar-benar hidup. Tentu saja hal itu juga dapat terjadi dengan tidak berhentinya pelayanan yang dilakukan oleh para karyawan yang tetap melakukan pekerjaan mereka selama libur lebaran dan cuti bersama hari raya.
Lebaran Sembari Bekerja
Petugas keamanan tengah mengarahkan para pengunjung Masjid Raya Al-Jabbar pada Sabtu (13/4) | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Pada Sabtu (13/4), penulis berkesempatan untuk mengunjungi Masjid Raya Al-Jabbar dan berbincang-bincang kecil bersama beberapa dari mereka. Begitu memasuki gerbang masjid, dapat langsung terlihat para petugas keamanan, atau yang biasa kita sebut sebagai sekuriti, tengah mengatur mobilitas kendaraan dari para pengunjung yang masuk dan keluar area masjid. Beruntungnya salah satu dari mereka ada yang tengah luang waktunya sehingga bisa diajak untuk berbincang.
ADVERTISEMENT
Dia adalah Asep Sulaiman (32), orang-orang terdekatnya biasa memanggilnya Dado. Sudah lebih dari satu tahun beliau bekerja sebagai sekuriti di Masjid Raya Al-Jabbar.
Ketika ditanya mengenai bagaimana sistem pembagian tugas untuk tiap sekuriti yang ada, dirinya menjelaskan bahwa sistem yang diterapkan adalah 4 hari kerja dan 2 hari libur. Para sekuriti diharuskan untuk bekerja 2 hari shift pagi, 2 hari shift malam, kemudian 2 hari selanjutnya untuk libur.
Pada hari penulis berbincang dengan Dado, dirinya tengah menjalankan shift pagi ke-2 nya. Hari libur beliau dapatkan bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1445 H, sehingga dirinya masih sempat melaksanakan Shalat Idul Fitri bersama keluarga.
“ Kebetulan kan saya kemarin pas Hari-H nya itu lepas jaga juga, yah Alhamdulillah untuk kumpul dengan keluarga masih bisa,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Tentu saja itu merupakan sebuah kebetulan yang menguntungkan baginya, karena tidak semua sekuriti bisa mendapatkan kebetulan tersebut. Akan tetapi, menurut Dado, mereka yang tepat pada saat hari raya masih harus bekerja tetap bisa menikmatinya dengan semangat.
Dia menambahkan, “ Karena membuat pengunjung merasa aman dan nyaman itu merupakan sesuatu hal yang sangat mulia.”
Dirinya juga menjelaskan bahwa mereka juga biasanya tetap menjalin komunikasi dengan keluarga walaupun hanya melalui panggilan suara atau video. Mereka pun dapat bertemu keluarga ketika sudah masuk waktunya bagi mereka untuk libur.
Harus bekerja di tengah hari libur seperti ini, tentu saja penulis penasaran terkait apakah ada bonus yang didapatkan dengan melakukan hal tersebut. Berdasarkan informasi dari Dado, bonus biasanya akan diberikan ketika mereka diharuskan untuk masuk kerja tepat di salah satu atau kedua hari libur yang seharusnya didapatkan. Bonus yang diberikan biasanya berupa uang lemburan.
ADVERTISEMENT
Setelah berbincang lebih lanjut dengan Dado, penulis melanjutkan perjalanan dengan memasuki area masjid. Saat itu sekitar pukul 11, matahari sedang panas-panasnya. Lantai di beranda masjid tanpa atap pun menghangat. Walaupun begitu, penulis masih bisa melihat para petugas kebersihan yang dengan gesit membersihkan sampah-sampah yang ada di beranda tanpa peduli akan panas yang menimpa.
Petugas kebersihan Masjid Raya Al-Jabbar tengah membersihkan alat kebersihan pada Sabtu (13/4) | Sumber: Dokumentasi Pribadi
Tentu saja penulis tidak bisa menginterupsi pekerjaan mereka, karena itulah penulis diarahkan oleh salah satu petugas keamanan untuk berbincang dengan mereka yang berada di ruang admin petugas kebersihan.
Di sanalah penulis bertemu Nela (25) yang telah hampir satu tahun bekerja sebagai admin dari bidang kebersihan. Dialah yang bertugas mengatur pergantian shift para petugas kebersihan yang ada di Masjid Al-Jabbar.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan informasi dari Nela, ada sedikit perbedaan antara sistem pembagian tugas di bidang kebersihan dengan bidang keamanan. Petugas kebersihan memiliki tiga pembagian shift setiap harinya dengan hanya satu hari libur yang bukan di akhir pekan. Walaupun begitu, tidak ada pembatasan bagi mereka yang memang ada keperluan di akhir pekan untuk libur terlebih dahulu, asalkan ada rekan lain yang mengisi shift mereka. Begitupun ketika hari raya.
Untuk bagaimana mereka mengatur waktu untuk bercengkrama dengan keluarga dalam kondisi tetap harus bekerja selama libur dan cuti bersama Idul Fitri, Nela mengatakan bahwa mereka dapat memanfaatkan waktu di mana mereka sedang tidak ada shift.
“ Kayak misalkan shift pagi bisa silaturahmi ke keluarga di sore harinya. Terus kalau misalkan yang shift nya siang, di pagi harinya bisa dulu sampai jam 11-an, ” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, para petugas kebersihan turut mendapatkan uang makan selama bekerja di waktu lebaran ini. Bagi mereka yang masuk kerja tepat pada saat hari raya dan satu hari setelahnya, mereka juga akan mendapatkan bonus tambahan
Terlepas dari hal-hal di atas, ada satu hal pasti yang dapat diketahui oleh penulis dari perbincangan dengan Dado dan Nela. Hal itu adalah realita bahwa memang tidak ada kebijakan khusus yang mengatur pemberian libur lebaran bagi mereka. Sistem pembagian shift yang ada tetap diberlakukan tanpa memandang apakah hari tersebut merupakan tanggal merah ataupun waktunya cuti bersama.
Tanggapan dan Harapan Mereka
Menurut pandangan mereka, itu merupakan konsekuensi bagi mereka yang bekerja di fasilitas umum, terutama di bidang yang bersifat pelayanan seperti keamanan dan kebersihan. Apalagi tempat mereka bekerja adalah masjid. Menurut mereka, akan aneh jika masjid justru malah tutup dalam momen hari raya seperti ini.
ADVERTISEMENT
Dado sendiri merasa sudah mendapatkan waktu libur yang cukup dengan sistem pembagian shift yang berlaku, walaupun memang ada keinginan untuk mendapat waktu libur tambahan untuk menyegarkan pikiran. Nela juga memiliki keinginan untuk dapat merasakan hari libur yang utuh dalam waktu-waktu seperti hari raya ini.
Akan tetapi, dibalik keinginan tersebut, keduanya tetap merasa bahwa memang pekerjaan mereka penting untuk tetap dilakukan. Selain karena tanggung jawab dan konsekuensi dari pekerjaan, penulis menemukan jawaban yang terkesan tidak biasa dari keduanya.
Nela mengatakan alasannya dengan sumringah, “ Kita kan di sini udah konsekuensi kerja, yah. Kasarnya mah maklumin aja kalau gak libur. Karena justru hari raya itu makin banyak jama’ahnya. Tapi, banyak pahalanya deh, kalau di masjid mah! Jama’ah juga pada baik-baik.”
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, Dado juga menyampaikan alasan yang kurang lebih sama, dengan penuh binar semangat di matanya.
“ Kalau misalkan kami libur, Al-Jabbar siapa yang ngamanin?”