Konten dari Pengguna

Rahasia Senyawa Aktif Daun Kemangi yang Bermanfaat Bagi Kesehatan

Amandha Noperia

Amandha Noperia

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amandha Noperia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber:  foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: foto pribadi

Makanan bukan hanya untuk mengisi perut. Makanan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah mengonsumsi lalapan sebagai pelengkap makanan. Salah satu lalapan yang sering dikonsumsi ialah kemangi. Daun kemangi memiliki berbagai khasiat bagi tubuh. Namun, di balik kelezatannya, ada ancaman seperti pertumbuhan mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan kebersihan dan manfaat dari bahan makanan yang dikonsumsi.

Mengenal Lebih Dekat Daun Kemangi

Tanaman kemangi berasal dari daerah tropis Asia dan kepulauan di daerah Pasifik. Namun kini, tanaman ini tersebar di Amerika Tengah dan Selatan. Selain itu, tanaman ini juga secara komersial banyak dibudidayakan di Eropa bagian Selatan, Mesir, Maroko, Indonesia dan California. Di Indonesia, tanaman kemangi banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa dan Maluku. Namun, banyak dibudidayakan di daerah Jawa Barat untuk dicari kandungan minyak atsirinya (Kamilatinnisa, 2014; Kurniasih, 2012).

Tanaman kemangi memiliki tinggi antara0,3-0,6 m. Sistem perakaran kemangi adalah akar tunggang. Memiliki batang berkayu, segi empat, beralur, dan bercabang serta memiliki bulu hijau halus. Daun berbentuk telur hingga lonjong, menggulung, pangkal runcing, tepi sedikit bergerigi, ujung runcing sampai meruncing, pertulangan menyirip, kedua permukaan agak kasar, berwarna hijau, berbau khas, dan rasa yang khas. Memiliki permukaan daun yang berbulu, daging daun tipis seperti kertas, susunan daun kemangi adalah bentuk folia sparsadan berwarna hijau. Bunga tanaman kemangi merupakan bunga majemuk tandan yang terletak diujung batang dan bunga berwarna putih. Buah tanaman kemangi berukuran kecil berbentuk bulat telur (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017; Kurniasih, 2012; Nita Utami dkk., 2023).

Manfaat dan Cara Kerja Senyawa Aktif dalam Daun Kemangi Di dalam daun kemangi terdapat kandungan senyawa-senyawa aktif seperti flavonoid, eugenol, saponin, dan tanin. Kandungan minyak atsiri yang terkandung dalam daun kemangi adalah methyl chavicol dan lonalool yang berpotensi sebagai anti fungi. Methyl chavicol dan linalool bekerja dengan cara bereaksi dengan membran sel dan pengurangan yang signifikan pada jumlah ergosterol (Kadian & Parle, 2012; Sabrina dkk., 2014).

Daun kemangi dapat bersifat antimikroba karena di dalamnya terkandung senyawa flavonoid dan eugenol yang mampu mencegah masuknya bakteri, virus, atau jamur yang membahayakan tubuh. Pada wanita, senyawa eugenol dapat membunuh jamur penyebab keputihan. Selain itu, adanya stigmasterol dapat merangsang ovulasi (pematangan sel telur). Flavonoid dan eugenol juga berperan sebagai antioksidan yang dapat menetralkan radikal bebas, menetralkan kolesterol, dan bersifat anti kanker (Hendarto, 2020).

Dalam konsentrasi yang tinggi, flavonoid dapat menyebabkan kerusakan membran sel bakteri, sedangkan dalam konsentrasi rendah dapat menyebabkan kebocoran sel bakteri sehingga keluarnya metabolit-metabolit penting dari sel bakteri. Flavonoid juga dapat menghambat enzim DNA girase bakteri. Enzim DNA girase berperan dalam membuka pilinan DNA untuk proses replikasi DNA. Jika enzim DNA girase terhambat maka proses replikasi DNA dan transkripsi juga terhambat sehingga mengakibatkan kerusakan pada sel bakteri dan akhirnya kematian sel bakteri (Mufti dkk., 2017).

Daun kemangi dapat bersifat antibakteri karena di dalamnya mengandung saponin yang dapat menurunkan tegangan permukaan dinding sel bakteri. Setelah tegangan permukaan dinding sel bakteri menurun, saponin membentuk kompleks dengan sterol yang menyebabkan pembentukan single ion channel. Single ion channel menyebabkan ketidakstabilan membran sel sehingga menghambat aktivitas enzim dalam transport ion yang berperan dalam kehidupan bakteri dan menyebabkan kematian bakteri. Tegangan permukaan dinding sel bakteri yang menurun juga dapat menyebabkan kebocoran sel sehingga senyawa intraseluler keluar. Hal ini menyebabkan pertumbuhan sel bakteri terhambat. Saponin memiliki komponen aktif aglycone yang bersifat membranolitik yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan tegangan permukaan dinding sel bakteri (Melati Yulia Kusumastuti dkk., 2021; Mufti dkk., 2017; Syams, 2015).

Sifat antibakteri pada daun kemangi juga dapat berasal dari senyawa tanin. Senyawa tanin dapat menghambat enzim reverse transkriptase dan DNA topoisomerase yang berperan dalam proses multiplikasi bakteri sehingga sel bakteri tidak dapat terbentuk dan memperbanyak diri. Selain itu, senyawa tanin bekerja sebagai antibakteri dengan menghambat pembentukan polipeptida dinding sel bakteri yang menyebabkan lisisnya dinding sel bakteri. Komponen tanin dan sengnya yang ada pada daun kemangi juga dapat mengurangi sekresi cairan vagina, sedangkan asam amino triptofan dapat menunda menopause. Tanin juga mempunyai efek spasmolitik yang selain dapat mengurangi gerak peristaltik usus, juga dapat mengerutkan dinding sel bakteri, sehingga menyebabkan terganggunya permeabilitas sel bakteri (Hendarto, 2020; Mufti dkk., 2017; Mukhriani, 2014).

Kandungan arginin pada daun kemangi dapat memperkuat daya tahan sperma dan mencegah kemandulan. Senyawa anetol dan boron juga sangat berperan dalam menjaga kesehatan reproduksi pria dan wanita. Anetol dan boron dapat merangsang kerja hormon estrogen dan androgen, serta mencegah pengeroposan tulang. Hormon estrogen dan androgen berperan dalam sistem reproduksi wanita (Hendarto, 2020).

Cara Memanfaatkan Daun Kemangi

1. Sebagai lalapan

Di Indonesia, daun kemangi sering dikonsumsi langsung sebagai lalapan bersama dengan hidangan lain seperti ayam bakar, ayam goreng, ikan bakar, dan sebagainya, tidak lupa juga dengan sambalnya. Cara ini merupakan cara yang paling populer dikarenakan kombinasi hidangan tersebut menghasilkan rasa yang sangat nikmat.

2. Minuman herbal

Bagi sebagian orang, daun kemangi dapat dijadikan sebagai minuman herbal yang dipercaya dapat menurunkan kolesterol, asam urat, dan asam lambung. Cara membuatnya yaitu dengan mencuci bersih terlebih dahulu daun kemangi, kemudian direbus dalam air mendidih selama 5-10 menit. Air rebusan kemudian disaring dan diminum. Minuman ini dapat pula dikombinasikan dengan bahan lain seperti jahe atau madu.

3. Campuran makanan

Daun kemangi sering juga digunakan sebagai campuran dalam masakan seperti pepes, urap, tumisan, atau dapat dibuat menu makanan ayam kemangi. Beberapa resep tersebut dapat dicari di beberapa sumber internet.

Daftar Pustaka

Hendarto, D. (2020). Daun Kemangi, Bawang Putih, Bawang Merah, dan Bengkuang bagi Kesehatan (A. Kurniawan, Ed.). Laksana.

Kadian, R., & Parle, M. (2012). Therapeutic Potential and Phytopharmacology of Tulsi. International Journal of Pharmacy & Life Sciences, 32(3), 422–426.

Kamilatinnisa, I. (2014). Perbandingan Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Antara Berbagai Konsentrasi Perasan Daun Kemangi (Ocimum sanctum Linn.). Universitas Muhammadiyah Surabaya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II 2017 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 615.1 Ind f (2 ed.).

Kurniasih. (2012). Khasiat Dahsyat Kemangi Untuk Kebugaran Daya Tahan Tubuh dan Kesembuhan Penyakit. Pustaka Baru Press.

Melati Yulia Kusumastuti, Debi Meilani, & Suhendra Tawarnate. (2021). Aktivitas Antibakteri Ekstrak, Fraksi Kloroform dan Fraksi n-Heksan Daun Kemangi terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. Jurnal Indah Sains dan Klinis, 2(1), 17–22. https://doi.org/10.52622/jisk.v2i1.11

Mufti, N., Bahar, E., & Arisanti, D. (2017). Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Sawo terhadap Bakteri Escherichia coli secara In Vitro. Dalam Jurnal Kesehatan Andalas (Vol. 6, Nomor 2). http://jurnal.fk.unand.ac.id

Mukhriani, N. (2014). Uji Aktivitas Antimikroba dan Identifikasi Ekstrak Buah Sawo Manila (Achras zapota L.) terhadap Berapa Mikroba Patogen dengan Metode Difusi Agar. JF FIK UINAM, 2(2), 69–74.

Nita Utami, D., Rosanti, D., & Kartika, T. (2023). Karakteristik Morfologi Jenis-Jenis Tanaman Obat Di Kelurahan Prabujaya Kecamatan Prabumulih Timur Kota Prabumulih. Jurnal Indobiosains (Vol. 5, Nomor 2).

Sabrina, T. I., Dan, S., & Suprapto, H. (2014). Antifungal Activity Test of Basil Leaves Juice (Ocimum Sanctum Linn.) Against Aspergilllus terreus by In Vitro. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan (Vol. 6, Nomor 2).