Inggris Berikan Bantuan sebesar £88 Juta untuk Gaza, Bagaimana Efektivitasnya?

mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nima shanny Mufida Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 24 September 2026, Pemerintah Inggris mengumumkan paket dukungan untuk bantuan kemanusiaan dan pemulihan awal bagi masyarakat Palestina di Gaza. Pengumuman tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, dalam rangkaian agenda Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dukungan tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan akses kemanusiaan, layanan kesehatan, dan pemulihan di Gaza. Bantuan yang diberikan mencakup sejumlah kebutuhan masyarakat terdampak konflik, seperti layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, dan perlindungan.
Menurut Pemerintah Inggris, dukungan yang didanai tersebut memungkinkan penyediaan konsultasi medis melalui fasilitas kesehatan hingga mencapai 900.000 orang. Selain itu, terdapat layanan rehabilitasi dan prostetik bagi 1.000 anak yang mengalami cedera akibat ledakan.
Bantuan tersebut juga mencakup layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial bagi sekitar 21.000 orang, penyediaan air melalui emergency water trucking bagi sekitar 150.000 orang, serta pengelolaan sampah bagi hingga 900.000 orang.
Perlu dicatat, angka £88 juta tersebut tidak seluruhnya merupakan dana baru yang diumumkan pada September 2026. Pemerintah Inggris menyebut paket tersebut juga mencakup sejumlah dukungan yang sebelumnya telah diumumkan melalui UNRWA dan UN Horizon Fund.
Bantuan Tidak Hanya Berfokus pada Kebutuhan Dasar
Bantuan yang diberikan Inggris tidak hanya berfokus pada kebutuhan darurat, tetapi juga mencakup upaya pemulihan awal atau early recovery.
Dukungan tersebut mencakup sektor kesehatan, sanitasi, air bersih, pendidikan, hingga penanganan risiko dari senjata yang belum meledak. Pada Juli 2026, Pemerintah Inggris sebelumnya telah mengumumkan bantuan sebesar £10 juta untuk UN Horizon Fund.
Melalui mekanisme yang dikoordinasikan oleh PBB dan melibatkan pihak Palestina, bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung pemulihan awal di Gaza. Inggris juga bergabung dalam Team Gaza Initiative bersama Uni Eropa untuk mendukung koordinasi bantuan internasional.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam situasi darurat. Bantuan juga dapat diarahkan untuk mempertahankan dan memulihkan layanan dasar yang terdampak konflik.
Dalam prosesnya, terdapat berbagai aktor yang terlibat, mulai dari negara donor, organisasi internasional, hingga lembaga kemanusiaan yang berperan dalam pelaksanaan bantuan.
Besarnya Anggaran Tidak Menjamin Bantuan Sampai kepada Penerima
Meskipun anggaran yang diberikan cukup besar, penyaluran bantuan kemanusiaan di wilayah konflik tetap menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu persoalan utama adalah akses terhadap bantuan. Pemerintah Inggris bersama Yordania, Qatar, dan sejumlah negara lainnya menyerukan peningkatan akses masyarakat terhadap bantuan kemanusiaan melalui Call to Action on Humanitarian Access and Health.
Seruan tersebut menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana. Keamanan, akses terhadap wilayah, kondisi infrastruktur, serta koordinasi antarpihak juga dapat memengaruhi proses penyaluran bantuan.
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara dana yang telah dialokasikan, bantuan yang berhasil disalurkan, dan manfaat yang akhirnya diterima masyarakat.
Perbedaan tersebut menjadi penting ketika membahas efektivitas bantuan luar negeri. Sebab, keberhasilan sebuah program bantuan tidak cukup diukur berdasarkan besarnya dana yang dikeluarkan oleh negara donor.
Riddell: Bantuan Perlu Dilihat dari Dampaknya
Persoalan mengenai efektivitas bantuan tersebut dapat dilihat melalui pemikiran Roger C. Riddell dalam bukunya Does Foreign Aid Really Work? (2007).
Riddell membahas pertanyaan mengenai sejauh mana bantuan luar negeri benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat penerima. Keberadaan bantuan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa bantuan tersebut berhasil.
Dalam kasus bantuan Inggris untuk Gaza, Pemerintah Inggris telah mencantumkan sejumlah target penerima manfaat. Misalnya, hingga 900.000 orang ditargetkan memperoleh dukungan layanan kesehatan, 1.000 anak mendapatkan layanan rehabilitasi dan prostetik, serta 150.000 orang mendapatkan akses air melalui emergency water trucking.
Namun, angka tersebut merupakan target program, bukan angka aktual penerima manfaat.
Pemerintah Inggris juga menyebut bahwa sejak Oktober 2023, bantuan yang diberikan telah membantu menyediakan bantuan pangan bagi lebih dari 1,4 juta orang serta mendukung layanan air, sanitasi, dan kebersihan bagi lebih dari 830.000 orang.
Angka-angka tersebut dapat memberikan gambaran mengenai cakupan program bantuan. Namun, angka penerima manfaat saja belum cukup untuk menunjukkan dampak bantuan secara menyeluruh.
Diperlukan informasi lebih lanjut mengenai bagaimana program dilaksanakan, apakah target benar-benar tercapai, serta perubahan apa yang dirasakan masyarakat setelah menerima bantuan.
Karena paket bantuan senilai £88 juta tersebut baru diumumkan pada September 2026, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa bantuan tersebut telah berhasil atau gagal.
Efektivitas Bantuan Tidak Berhenti pada Besarnya Dana
Kasus bantuan Inggris untuk Gaza menunjukkan bahwa humanitarian aid merupakan proses yang melibatkan pendanaan, penyaluran, koordinasi, pelaksanaan, hingga evaluasi.
Negara donor dapat menyediakan dana dalam jumlah besar, tetapi efektivitas bantuan tetap dipengaruhi oleh kondisi di lapangan. Dalam situasi konflik, akses wilayah, keamanan, infrastruktur, dan koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam menentukan apakah bantuan dapat benar-benar diterima oleh masyarakat.
Pemikiran Riddell membantu menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai bantuan tidak berhenti pada “berapa banyak yang diberikan?”, tetapi berlanjut pada “apa yang dihasilkan dari bantuan tersebut?”
Dalam konteks bantuan Inggris untuk Gaza, jawaban atas pertanyaan tersebut masih membutuhkan waktu dan evaluasi lebih lanjut.
Pada akhirnya, keberhasilan bantuan kemanusiaan bukan hanya ditentukan oleh besarnya dana yang disalurkan, tetapi juga oleh sejauh mana bantuan tersebut dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan dan memberikan manfaat sesuai dengan tujuan program.
Sumber :
Pemerintah Inggris, UK announces major package of support for humanitarian relief and early recovery in Gaza, 24 September 2026.
Pemerintah Inggris, UK backs Gaza recovery as Foreign Secretary urges renewed push for peace, 2026.
Pemerintah Inggris, Gaza: A Call to Action on Humanitarian Access and Health, 24 September 2026.
Riddell, Roger C. (2007). Does Foreign Aid Really Work? Oxford University Press.
