Solusi Demensia dengan Pendekatan Interior Ramah Penderita Demensia
Tulisan dari Sienny Ivanalie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah Anda mengenal istilah demensia? Demensia/kepikunan adalah suatu sindrom yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan daya ingat sehingga berdampak pada kemampuan penderita melakukan aktivitasnya sehari-hari. Demensia banyak diderita oleh kaum lansia (lanjut usia), yaitu mereka yang berusia lebih dari 60 tahun. Menurut data statistik, jumlah penderita demensia di Indonesia maupun global diprediksi akan terus mengalami peningkatan dan menyerang kategori usia yang lebih muda. Hampir semua orang akan mengalami demensia dan belum ditemukan pengobatannya, sehingga hal yang bisa dilakukan adalah tindakan preventif melalui tindakan terapi.
Salah satu bentuk terapi yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan desain interior yang ramah penderita demensia. Desain interior yang ramah penderita demensia, dapat membantu memperlambat munculnya gejala kepikunan dan mengurangi gejala demensia yang dialami. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan.
1. Desain Wayfinding dan Rambu
Penderita demensia pada stadium tertentu memiliki kesulitan untuk mengindentifikasikan ruang, mereka cenderung sering tersesat. Maka dari itu, perlu adanya sistem wayfinding dan rambu untuk membantu penderita demensia bergerak dari ruang ke ruang. Sistem wayfinding adalah proses seorang menentukan jalan dengan mengumpulkan informasi dan memutuskan untuk mengarahkan dirinya menuju tujuan tertentu. Rambu adalah sebuah simbol/tanda yang memberikan pesan, baik menunjukkan arah atau informasi lainnya.
Wayfinding penderita demensia harus memperhatikan 2 hal yaitu, pemilihan rute yang singkat dan minimnya momen dimana penderita harus membuat keputusan tentang arah.
Rambu diletakkan untuk menandai ruang-ruang, terutama ruang yang sering diakses oleh penderita seperti kamar tidur, toilet, ruang makan, dll. Desain rambu haruslah memperhatikan 3 hal ini yaitu : rambu dengan warna yang kontras, menggunakan font yang jelas dan mudah dibaca, serta rambu diletakkan sejajar dengan mata (eye-level).
Pemilihan Material dan Warna
Pemilihan material dan warna untuk desain fasilitas lansia memiliki pertimbangan khusus. Lansia memiliki kondisi fisik dan psikis yang cukup berbeda dari kategori usia lainnya, seperti kepekaan indera penglihatan dan peraba yang menurun.
Lensa mata lansia umumnya akan mengalami penguningan seiring berjalannya usia, sehingga tidak begitu bisa membedakan kroma warna dingin (hijau-biru-ungu). Penggunaan warna yang berseberangan pada roda warna akan menyebabkan kebingungan pada penderita demensia. Penderita demensia juga kesulitan untuk membedakan warna pastel/soft. Jadi kesimpulannya penggunaan warna pada ruang yang baik untuk penderita demensia adalah warna yang kontras, namun berada pada satu sisi pada roda warna, seperti merah dan kuning.
Material yang dikategorikan yang ramah penderita demensia adalah material yang sederhana dan terkesan bersih, tidak memiliki pola yang rumit dan kontras, serta tidak bersifat reflektif karena dapat menimbulkan kebingungan bagi penderita demensia.
Penggunaan Cahaya
Cahaya merupakan salah satu unsur yang penting juga untuk menciptakan rumah yang ramah penderita demensia. Penurunan indera penglihatan pada lansia menyebabkan kurangnya kemampuan mata untuk menangkap cahaya. Untuk itu, pencahayaan yang baik bagi penderita demensia antara lain: pencahayaan yang merata, pencahayaan dengan intensitas yang tinggi (rata-rata 30 lux), dan banyak akses untuk pencahayaan alami (cahaya matahari) pada ruang.
Salah satu masalah kesehatan pada lansia, terkhusus penderita demensia, adalah kesulitan untuk tidur. Penggunaan warna cahaya yang kebiruan dapat mengurangi efek gelisah dan memperbaiki kualitas tidur. Pada area-area tertentu yang penting untuk diperhatikan oleh penderita, seperti pintu masuk, harus diberikan intensitas cahaya yang lebih tinggi (100 lux).
Stimulasi Sensori
Latihan stimulasi sensori mungkin banyak kita dengar pada iklan pendidikan anak usia dini, namun sebenarnya hal ini juga sangatlah penting bagi lansia, terutama penderita demensia. Sensori dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu sensori positif (musik, cahaya natural) dan sensori negatif (kebisingan). Sangatlah penting untuk mendesain interior fasilitas lansia dengan banyak sensori positif, serta mengurangi adanya sensori negatif. Selain itu penting juga untuk merancang ruang yang dapat mengintegrasikan area outdoor dan indoor, serta memberikan akses untuk cahaya matahari ke dalam ruang.
Stimulasi sensori positif seperti musik dan aroma yang familiar dan menyenangkan bagi penderita juga dapat berfungsi sebagai media terapi yang cukup efektif memperlambat timbulnya gejala demensia.
Inilah beberapa tips praktis bisa Anda terapkan. Perhatian kecil terhadap 4 aspek desain interior ramah penderita demensia ini, dapat membantu menciptakan lingkungan hidup yang lebih suportif dan nyaman bagi kaum lansia.
Penulis : Sienny Ivanalie (Program Studi Interior Desain-Universitas Kristen Petra)

