Konten dari Pengguna

Fenomena FOMO Kuliner Viral: Antara Validasi dan Rasa Biasa Saja

Raras Citrahayi Pasya

Raras Citrahayi Pasya

Mahasiswa Statistika Universitas Airlangga

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raras Citrahayi Pasya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi makanan (sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan (sumber: https://pixabay.com/id/)

Pemandangan antrean pembeli yang sangat panjang di luar toko mulai menjadi fenomena biasa yang sering ditemui, khususnya di pusat-pusat kota.

Dari kemunculan tren cromboloni, dubai chewy cookie, dan gohyong, hingga puluhan orang rela berdiri berjam-jam untuk mencoba makanan yang sedang viral dibicarakan di media sosial.

Sayangnya, terkadang tidak sedikit pembeli yang merasa perjuangan mengantre tidak sebanding dengan rasa yang didapatkan. Cita rasa yang disajikan kerap tergolong biasa dan tidak seistimewa seperti yang diberitakan hingga mengundang kehebohan yang luar biasa di ruang digital.

Bukan Sekadar Makanan

Fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan kondisi psikologis yang disebut FOMO (Fear of Missing Out) alias ketakutan dianggap ketinggalan zaman. Jadi, sebetulnya dorongan terbesar masyarakat untuk meramaikan keviralan tersebut bukan terletak pada rasa semata, tetapi pada ketakutan untuk ketinggalan tren.

Di era masifnya penggunaan media sosial, fungsi kuliner mengalami pergeseran makna. Makanan tidak hanya dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi juga berkembang untuk menegaskan eksistensi diri.

Ketika foto atau video tersebut diunggah, secara tidak langsung konten tersebut menandai bahwa sang pemilik akun adalah orang yang trendy dan relevan dengan masa kini

Tekanan Teman Sebaya dan Scarcity Marketing

Selain faktor digital, ada dua alasan lain mengapa tren ini begitu kuat menggulung masyarakat kita:

  1. Bahan Obrolan Tongkrongan: Karakter masyarakat Indonesia yang suka berkumpul membuat topik viral jadi modal penting. Saat teman-teman sibuk membahas satu makanan dan kita belum mencobanya, muncul perasaan asing dalam percakapan.

  2. Strategi Kelangkaan: Pelaku usaha kuliner masa kini makin punya banyak trik strategi pemasaran. Mereka sengaja membatasi kuota harian atau membuat narasi "cepat habis" atau "cuman sampai hari ini". Rasa takut kehabisan inilah yang mendorong calon pembeli bertindak impulsif.

Pelajaran untuk Pelaku Bisnis Lokal

Situasi viralnya berbagai jenis kuliner yang ada, sebetulnya menjadi kabar baik karena menunjukkan betapa beragamnya industri kreatif lokal. Namun, bagi pemilik usaha, hal ini adalah strategi yang berisiko tinggi untuk berbisnis.

Bisnis yang hanya mengandalkan keviralan tanpa adanya usaha untuk memperkuat kualitas maupun pelayanan, biasanya cenderung langsung redup setelah gelombang viral itu selesai. Begitu ada tren baru, konsumen akan langsung beralih tanpa ragu.

Pada akhirnya, berburu makanan viral memang bisa digunakan sebagai salah satu bentuk hiburan di tengah padatnya aktivitas. Namun, fenomena ini menjadi pengingat bahwa keputusan membeli sering kali didominasi oleh pengaruh media sosial daripada kebutuhan perut yang sebenarnya.