Konten dari Pengguna

Percaya pada 5 cm di Depan Kening Kamu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari 13 Hafizhah Az Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potongan scene di film 5 cm (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Potongan scene di film 5 cm (dokumentasi pribadi)

Identitas Film

Judul : 5 cm

Sutradara : Rizal Mantovani

Produser : Sunil Soraya, Ram Soraya

Penulis Naskah : Donny Dirgantoro

Pemeran Utama : Herjunot Ali, Fedi Nuril , Raline Shah, Pevita Pearce, Igor Saykoji, Denny Sumargo.

Genre : Roman, Drama, Petualangan

Tanggal Rilis : 12 Desember 2012

Durasi : 2 jam 6 menit

Pembahasan

“Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi.”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu cara paling sederhana untuk menggambarkan 5 cm. Film yang diadaptasi dari novel karya Donny Dirgantoro ini tidak hanya membawa penonton mengikuti perjalanan lima sahabat menuju Gunung Semeru, tetapi juga mengajak melihat kembali arti persahabatan, mimpi, perjuangan, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Dirilis pada 12 Desember 2012 dan disutradarai oleh Rizal Mantovani, 5 cm menceritakan Genta, Arial, Zafran, Riani, dan Ian yang telah lama bersahabat. Rutinitas dan hubungan mereka yang terasa berjalan begitu saja membuat Genta mengusulkan agar mereka tidak saling berkomunikasi selama tiga bulan. Setelah masa tersebut berakhir, kelimanya kembali bertemu dan memutuskan melakukan perjalanan menuju Gunung Semeru. Mereka memilih 17 Agustus sebagai waktu pendakian sekaligus untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi Jawa.

Dari situlah perjalanan mereka dimulai. Namun, perjalanan menuju puncak ternyata tidak hanya berbicara tentang gunung, jalur pendakian, atau bagaimana mencapai tujuan. Ada hubungan, perasaan, dan persoalan lama yang kembali muncul di antara mereka.

Lalu, bagaimana 5 cm menyampaikan perjalanan tersebut?

Sejak opening, perhatian saya sudah cukup mudah tertarik. Soundtrack yang langsung terdengar membuat film terasa hidup sejak awal. Ditambah dengan footage-footage yang menggambarkan suasana Indonesia pada masa itu, 5 cm terasa seperti membawa penonton kembali ke suatu periode kehidupan anak muda Indonesia.

Kelima tokoh utamanya juga diperkenalkan dengan karakteristik yang cukup jelas. Penonton jadi relatif mudah membedakan Genta, Arial, Zafran, Riani, dan Ian. Interaksi antarpemain terasa cair, terutama dengan penggunaan bahasa gaul khas Jakarta yang memang sesuai dengan latar anak muda dalam cerita.

Namun, di antara para pemeran utama, akting Pevita Pearce sebagai Dinda menurut saya terasa paling kurang konsisten. Beberapa dialog terdengar datar dari segi intonasi dan pelafalan sehingga ekspresi emosional Dinda tidak selalu tersampaikan sekuat karakter lainnya.

Menariknya, meskipun Zafran menjadi salah satu pusat cerita, saya justru melihat Genta sebagai karakter yang paling dominan. Ia bukan hanya menjadi bagian dari kelompok, tetapi juga sosok yang menggerakkan perjalanan mereka. Genta menyusun rencana, menjaga semangat teman-temannya, sekaligus beberapa kali menjadi penghubung di antara karakter lain. Tanpa Genta, perjalanan lima sahabat ini mungkin tidak akan bergerak dengan cara yang sama.

Lalu, mengapa 5 cm begitu laris pada masanya?

Menurut saya, salah satu jawabannya ada pada kombinasi cerita persahabatan, petualangan, dan nasionalisme yang dibawa secara bersamaan. Pada 2012, film yang menggabungkan perjalanan menyusuri pegunungan, pemandangan alam, dan cerita persahabatan anak muda seperti ini terasa cukup berbeda.

Tema persahabatan juga terasa dekat dengan kehidupan anak muda pada masa itu. Karena itu, ketika ditonton kembali beberapa tahun kemudian, 5 cm tidak hanya menjadi cerita tentang lima orang yang mendaki gunung, tetapi juga dapat menjadi gambaran mengenai bagaimana anak muda pada masa tersebut memandang persahabatan, mimpi, dan perjalanan hidup.

Tidak sedikit pula anak muda yang kemudian tertarik mencoba aktivitas pendakian setelah film ini populer. Setidaknya, 5 cm ikut membuat aktivitas mendaki gunung terlihat dekat dengan kehidupan anak muda dan menjadi bagian dari gambaran petualangan yang ingin mereka coba.

Buat saya, hal lain yang membuat film ini sulit dilupakan adalah musiknya. Soundtrack seperti “Di Atas Awan” dan “Rahasia Hati” dari NIDJI terasa begitu melekat dengan 5 cm. Ketika mendengarkan kembali lagu-lagu tersebut, suasana filmnya seperti ikut muncul lagi. Musiknya bukan hanya menjadi pengiring visual, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan penonton terhadap film.

Begitu pula dengan beberapa dialog yang sampai sekarang masih mudah dikenali. Salah satunya ketika Genta mengatakan:

“Temen-temen, selamat datang di Ranu Kombolo. Surganya Gunung Semeru.”

Kalimat sederhana tersebut menjadi salah satu bagian yang khas dari 5 cm. Potongan-potongan adegan dan dialog dari film ini pun masih dapat ditemukan kembali di media sosial ketika orang-orang ingin bernostalgia dengan film tersebut.

Herjunot Ali sebagai Zafran dalam film 5 cm (dokumentasi pribadi)

Ada pula dialog yang menurut saya menjadi salah satu bagian paling kuat dalam film:

“Yang kita perlu sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,” – Genta

“Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,” – Ian

“Leher yang akan lebih sering melihat ke atas,” – Arial

“Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,” – Riani

“Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,” – Zafran

“Serta mulut yang akan selalu berdoa.” – Dinda

Saya sengaja tidak ingin mengambil satu kalimat saja dari dialog tersebut karena menurut saya kekuatannya justru terletak pada keseluruhan rangkaian. Kaki, tangan, mata, leher, tekad, hati, hingga mulut seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan mereka tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik. Ada keberanian untuk melihat, merasakan, berusaha, dan menghadapi apa yang ada di depan.

Menariknya, dialog tersebut kembali muncul ketika mereka mulai kelelahan dalam perjalanan. Pengulangan itu membuat kalimat yang awalnya terdengar sederhana menjadi lebih kuat karena hadir dalam situasi yang berbeda.

Namun, 5 cm juga bukan film yang sempurna.

Beberapa bagian teknis masih terasa kurang. Adegan ketika para pemain berada di trek curam dengan batu yang berjatuhan, misalnya, menurut saya masih terlihat kurang realistis karena editing-nya belum sepenuhnya meyakinkan. Dari sisi cerita, perjalanan lima pendaki pemula hingga mencapai puncak Gunung Semeru dalam pendakian pertama mereka juga terasa cukup sulit untuk dipercaya.

Secara visual, 5 cm memiliki color grading yang dominan kekuningan dan abu-abu. Warna tersebut memang memberikan karakter tersendiri, tetapi pada beberapa bagian justru membuat suasana petualangan terasa kurang kuat. Jika dibandingkan dengan film petualangan yang lebih modern, eksplorasi warnanya mungkin terasa tidak terlalu beragam.

Perekaman suara dalam beberapa adegan juga belum sepenuhnya konsisten. Ada dialog yang terdengar keras, sementara bagian lainnya terdengar lebih pelan. Ketika tokoh bergerak, suara yang ikut bergoyang juga cukup kentara.

Selain persoalan teknis tersebut, film ini memiliki bagian akhir yang cukup kontroversial. Pilihan tersebut membuat akhir cerita terasa membekas, meskipun bagi sebagian penonton justru meninggalkan kekecewaan.

Terlepas dari itu semua, saya melihat 5 cm sebagai film yang lebih besar daripada sekadar cerita tentang lima sahabat yang mendaki Gunung Semeru. Film ini menangkap semangat anak muda pada masanya. Ada persahabatan yang membuat perjalanan terasa berarti, mimpi yang membuat seseorang terus bergerak, nasionalisme yang hadir melalui perjalanan menuju puncak pada 17 Agustus, serta keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang sudah terlalu nyaman.

Pada akhirnya, mungkin inti dari 5 cm memang sesederhana judul dan pesan yang terus diingat dari film ini: letakkan mimpi sekitar lima centimeter di depan kening. Jangan terlalu dekat hingga membuat kita kehilangan arah, tetapi juga jangan terlalu jauh hingga sulit untuk dikejar.

Karena terkadang, yang membuat seseorang sampai ke puncak bukan hanya seberapa tinggi tujuan yang ingin dicapai, tetapi seberapa kuat ia percaya bahwa tujuan itu memang layak untuk diperjuangkan.

Hafizhah Az Zahra, mahasiswa aktif Sarjana Ilmu Komunikasi UNS.