Untag Surabaya Hadirkan Mesin Pencacah Organik untuk Peternak di Desa Wadeng

Mahasiswa - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kinanti Prita R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya terus memperkuat kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat melalui pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat. Melalui program bertajuk "Implementasi Mesin Pencacah Organik Berteknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Produktivitas Mitra Peternak di Desa Wadeng, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik" tim dosen dan mahasiswa menghadirkan inovasi yang mendukung peningkatan produktivitas peternak sekaligus mendorong pemanfaatan limbah organik secara berkelanjutan.
Program yang dilaksanakan selama periode Maret hingga Juli 2026 ini dipimpin oleh I Gde Sandy Satria, S.H., M.H. bersama mahasiswa lintas program studi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna.
Desa Wadeng merupakan salah satu wilayah dengan potensi peternakan ayam yang cukup besar di Kabupaten Gresik. Namun, para peternak masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya pakan komersial yang mencapai sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi. Di sisi lain, limbah pertanian seperti jerami, batang jagung, dan rumput yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal sehingga memiliki nilai ekonomi yang rendah.
Melihat kondisi tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat Untag Surabaya menghadirkan mesin pencacah organik sebagai solusi inovatif untuk mengolah limbah organik menjadi bahan baku pakan ternak alternatif. Melalui teknologi ini, peternak dapat memanfaatkan sumber daya lokal sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas usaha meningkat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada Pemerintah Desa Wadeng, kelompok peternak, dan masyarakat pada 8 Juli 2026. Dalam kegiatan tersebut, tim pelaksana memperkenalkan tujuan program, manfaat penggunaan mesin pencacah organik, mekanisme pelaksanaan kegiatan, serta pentingnya pemanfaatan teknologi tepat guna dalam mendukung kemandirian peternak.
Setelah sosialisasi, peserta mengikuti pelatihan penggunaan mesin pencacah organik yang meliputi pengenalan komponen mesin, prosedur pengoperasian yang aman, teknik pencacahan berbagai jenis limbah pertanian, hingga tata cara perawatan mesin. Pelatihan dilaksanakan melalui metode demonstrasi dan praktik langsung sehingga peserta dapat memahami proses kerja mesin secara menyeluruh.
Selain memberikan pelatihan teknis, tim juga memberikan pendampingan mengenai pengolahan pakan ternak alternatif, manajemen usaha sederhana, serta pemanfaatan limbah organik sebagai sumber daya bernilai ekonomi. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas peternak dalam mengembangkan usahanya secara mandiri dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk implementasi teknologi tepat guna, mesin pencacah organik kemudian diserahkan kepada kelompok peternak Desa Wadeng untuk digunakan dalam kegiatan produksi pakan ternak. Penyerahan alat ini diharapkan menjadi langkah awal terciptanya sistem produksi pakan yang lebih efisien dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di desa.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, I Gde Sandy Satria, S.H., M.H., menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pemberian teknologi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola teknologi tersebut secara mandiri.
“Bagi saya, melalui program ini memberikan kesan yang cukup menarik. Karena selama beberapa periode Pengabdian kepada Masyarakat, sangat minim bagi mahasiswa untuk memberikan alat yang berupa fisik atau nyata. Pada periode inilah, baru ada yang memberikan alat fisik dan saya yang mendampingi. Semoga alat yang sudah dibuat ini, dapat berperan dengan baik dan tepat guna. Jika boleh memberikan masukan, mungkin untuk kedepannya dapat volume dari alat pencacah dapat diperbesar lagi. Tujuannya adalah supaya peternak-peternak berskala kecil, boleh mendapatkan juga terkait bantuan alat pencacah tersebut. Sehingga alat yang dibuat dapat menjadi lebih efisien dan tepat sasaran pengguna”, ujarnya.
Pelaksanaan program menunjukkan hasil yang positif. Sebanyak 12 peternak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Mesin pencacah organik berhasil diimplementasikan sebagai sarana produksi pakan alternatif, sementara pengetahuan peserta mengenai pengolahan limbah organik dan manajemen usaha juga mengalami peningkatan.
Penerapan teknologi tersebut mampu menekan biaya pakan ternak hingga sekitar 30 persen, sehingga memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi dan peningkatan pendapatan peternak. Di sisi lain, limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Kolaborasi dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dalam kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), di mana mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat melalui proses identifikasi masalah, penyusunan solusi, pelaksanaan pelatihan, hingga pendampingan kepada mitra.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Untag Surabaya kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan inovasi melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Diharapkan program serupa dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah lain sehingga semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dari penerapan teknologi tepat guna.
