Konten dari Pengguna

Menoreh Rasa di Atas Kain: Kisah Siswa SLB Wiyata Dharma 1 Membatik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari 18 Muhammad Zufar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto: Dok. Pribadi

Sleman – Suasana khusyuk menyelimuti ruang praktik keterampilan SLB Wiyata Dharma 1 Sleman pagi ini. Tidak ada suara riuh, hanya aroma malam yang dipanaskan dan goresan halus canting di atas kain putih bersih. Di sudut ruangan,para peserta didik berkebutuhan khusus tampak serius mengikuti sesi pembelajaran vokasional membatik.

Membatik merupakan salah satu program keterampilan unggulan di SLB Wiyata Dharma 1 Sleman. Melalui program ini,sekolah berkomitmen untuk membekali siswa dengan keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal kemandirian mereka di masa depan. Kegiatan ini melatih kehalusan motorik, konsentrasi, kesabaran, dan kreativitas siswa.

Pendampingan Visual yang Intensif

Pembelajaran membatik bagi siswa berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan yang unik. Guru pendamping harus sabar memberikan contoh secara visual dan perlahan.

“Untuk anak-anak kami, instruksi lisan saja tidak cukup. Kami harus mendemonstrasikan setiap tahapan, mulai dari cara memegang canting, mengambil malam panas, hingga menorehkannya pada kain dengan tekanan yang pas,” ujar salah satu guru pendamping. “Kami menggunakan bahasa isyarat dan contoh gerakan langsung agar mereka dapat memahami prosesnya.”

sumber foto: Dok. Pribadi

Proses Teliti Menuju Karya

Proses membatik diawali dengan tahap nyungging (membuat pola) dan nyorek (memindahkan pola ke kain). Dalam salah satu foto, terlihat seorang siswa dengan saksama mengerjakan tahap nembok (menutup bagian kain yang tidak ingin diwarnai) dan nglowong (menggambar garis pola utama) menggunakan malam. Setiap goresan canting harus presisi agar motif bunga berwarna merah, ungu, dan hijau terbentuk dengan sempurna di atas kain primisima.

Tingkat fokus yang tinggi terlihat jelas pada raut wajah siswa yang sedang menorehkan malam. Hambatan pendengaran tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berkarya. Mereka justru lebih peka secara visual dan motorik dalam menyelesaikan setiap motif secara bertahap.

Dari Latihan Menuju Karya Nyata

Kerja keras para siswa terbayar ketika kain batik hasil karya mereka mulai terlihat bentuknya. Sebuah kain batik dengan motif bunga berwarna-warni tampak sedang dijemur (diangin-anginkan) pada gawangan. Hasil karya ini bukan sekadar kain berhias, melainkan simbol semangat pantang menyerah dari para siswa.

sumber foto: Dok. Pribadi

Membangun Kemandirian Lewat Karya

Program keterampilan vokasional seperti membatik ini diharapkan terus berlanjut di SLB Wiyata Dharma 1 Sleman.Tujuannya bukan sekadar menghasilkan pembatik profesional, melainkan menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian pada diri setiap siswa. Dengan menguasai sebuah keterampilan, mereka diharapkan dapat lebih berdaya dan mandiri dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat kelak.