Konten dari Pengguna

FYP TikTok Mengubah Cara Kita Mengonsumsi Informasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alvinka Nuraini Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi budaya scrolling TikTok dan FYP. (Sumber foto: Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi budaya scrolling TikTok dan FYP. (Sumber foto: Pexels)

“Cuma mau scroll TikTok sebentar.” Kalimat sederhana yang mungkin sering kita ucapkan, tetapi justru membuat kita mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak ingin kita cari. Belum selesai melihat satu video, muncul berita tentang politik, ada informasi kesehatan, scroll lagi ada kasus yang sedang viral. Tanpa sadar, dengan “scroll sebentar” kita sudah menerima begitu banyak informasi hanya dengan menggerakkan jari.

Menurut saya, kebiasaan scrolling TikTok menunjukkan perubahan cara kita mendapatkan informasi. Jika dulu kita aktif mencari informasi melalui Google atau portal berita, kini informasi justru datang melalui FYP (Hendrickx, 2025). Algoritma menentukan apa yang muncul di hadapan kita berdasarkan perilaku kita. Lalu, apakah yang disajikan FYP benar-benar yang kita butuhkan, atau hanya yang membuat kita terus scroll?

Pertanyaan ini penting karena TikTok bukan lagi sekadar tempat hiburan. Digital News Report 2026 mencatat 64% responden di Indonesia mendapatkan berita melalui platform sosial, dan 48% menjadikan media sosial dan video sebagai sumber utama berita. Artinya, cara kita menemukan informasi mulai bergeser. Informasi memang semakin mudah didapat, tetapi jangan sampai kemudahan itu membuat kita terbiasa menerima begitu saja apa yang dipilihkan algoritma.

Algoritma TikTok dan FYP

Algoritma tidak menentukan informasi berdasarkan apa yang penting bagi kita, tetapi berdasarkan apa yang membuat kita tertarik dan terus menonton (Gunasekara et al. (2026)). Ketika kita berinteraksi dengan suatu konten, konten serupa dapat kembali muncul. Perlahan, kita yang awalnya menggunakan media untuk mencari informasi justru membiarkan algoritma menentukan apa yang kita lihat.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah disaat informasi yang terus muncul ternyata tidak benar, tidak sesuai fakta dan tidak memiliki konteks yang sesuai. Interaksi pengguna dengan informasi yang salah dapat mempengaruhi rekomendasi berikutnya dan berpotensi membawa pengguna pada informasi menyesatkan lainnya.

Contohnya, pada September 2026 Kementerian Komunikasi dan Digital mengklarifikasi video TikTok yang menggunakan potongan video Tom Lembong dan mengklaim adanya pendaftaran bantuan modal usaha, rumah, dan biaya sekolah. Setelah ditelusuri, video tersebut ternyata berasal dari unggahan Oktober 2025 dan konteks aslinya tidak berkaitan dengan pendaftaran bantuan tersebut. Bagi saya, kasus ini menunjukkan bahwa persoalan budaya scrolling bukan sekadar seberapa lama kita menggunakan TikTok, tetapi bagaimana kita menyikapi informasi yang muncul di hadapan kita.

Kita sering menganggap sesuatu benar karena muncul berkali-kali di FYP. Padahal, sering muncul bukan berarti benar, banyak ditonton bukan berarti kredibel, viral juga bukan berarti penting. Menurut saya, hal-hal tersebut bukan menjadi patokan kita dalam menentukan benar atau tidaknya informasi yang kita terima, justru itu seharusnya membuat kita semakin pandai dalam menyaring informasi yang diterima. Terlebih lagi, sekarang kita tidak hanya mendapatkan informasi dari media berita. Reuters Institute mencatat bahwa 44% responden di Indonesia secara rutin memperhatikan creator atau influencer di media sosial dan video, sedangkan yang rutin memperhatikan merek berita atau jurnalis berada pada angka 25%.

Menurut saya, hal ini bukan berarti influencer atau kreator tidak boleh membahas berita. Justru mereka dapat membuat informasi lebih mudah dipahami dan menjangkau audiens yang lebih luas. Namun, di tengah budaya scrolling, kemampuan yang penting bukan hanya menggunakan media sosial, tetapi berhenti sejenak sebelum percaya. Saat menemukan informasi, kita perlu bertanya siapa sumbernya, kapan dibuat, apakah ada sumber lain yang membenarkan, dan apakah itu fakta atau sekadar opini?

TikTok memang membuat informasi terasa lebih dekat dan cepat. Namun, jangan sampai karena semuanya terasa mudah, kita juga menjadi mudah percaya. Pada akhirnya, kita mungkin sudah berada di zaman ketika informasi tidak lagi harus dicari. Informasi justru mencari kita melalui FYP. Dan menurut saya, semakin mudah informasi datang kepada kita, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memilih mana yang layak dipercaya. Kalau dulu tantangannya adalah mencari informasi, sekarang tantangannya adalah tidak mudah percaya pada semua informasi yang kita temukan. (Alvinka Nur'aini Ramadani)