Optimalisasi Fungsi Taman Kota Waduk Ria Rio : Lebih dari Sekadar Penahan Banjir
Tulisan dari Zufar Abdurrahman Arrozy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Taman Kota Waduk Ria Rio yang terletak di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, adalah salah satu aset Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Biru yang sangat berharga bagi ibu kota. Kawasan Taman Waduk Ria Rio di Pulogadung, Jakarta Timur, adalah aset Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Biru yang penting bagi Ibu Kota, dengan total luas yang signifikan. Secara keseluruhan, luas Waduk (perairan) Ria Rio sendiri tercatat sekitar 26 Hektar (dikutip dari Ambisius Wiki). Sementara itu, area Taman Kota (daratan) yang mengelilingi waduk dan dimanfaatkan sebagai ruang rekreasi publik memiliki luas sekitar 51.000 meter persegi (atau ± 5,1 Hektar) (dikutip dari Ambisius Wiki). Seluruh lahan di kawasan ini merupakan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Pengelolaan kawasan ini terbagi di antara dua instansi utama : Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta bertanggung jawab atas fungsi perairan waduk, pengendalian banjir, dan sistem pintu air (dikutip dari berita DSDA Jakarta mengenai pembangunan pintu air), sedangkan pemeliharaan vegetasi, fasilitas daratan taman, serta keasrian RTH merupakan tanggung jawab utama dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (HutKot) DKI Jakarta (sebagaimana yang pernah diberitakan oleh SINDOnews terkait penganggaran pepohonan di kawasan tersebut). Setelah direvitalisasi, Waduk Ria Rio kini menjadi ruang publik multifungsi dan estetis. Secara ekologis, waduk ini berperan penting sebagai penampung air utama untuk mencegah banjir di Jakarta saat curah hujan tinggi.
Sumber dan Aliran Air : Sumber utama air yang mengisi waduk ini berasal dari drainase Pulo Nangka dan sumber alami lainnya, serta menerima masukan dari buangan penduduk atau limbah domestik dari masyarakat sekitar, menurut Dinda (2015). Terkait aliran keluarnya, Waduk Ria Rio memiliki pintu air outlet yang terhubung langsung ke Kali Sunter, sehingga air di waduk dapat mengalir ke sungai tersebut. Selain itu, Kali Sunter juga berperan sebagai jalur pembuangan ketika terjadi pengoperasian pompa, seperti pada saat Rumah Pompa Polder Pulomas dinyalakan untuk mengosongkan air waduk guna mengantisipasi potensi banjir. Dengan demikian, Kali Sunter berfungsi sebagai jalur pembuangan air (outflow) waduk dan juga sebagai penerima luapan air waduk dalam fungsi pengendalian banjir kawasan tersebut.
Fungsi Pintu Air Sisi Utara: Pintu air yang berada di sisi utara waduk (outlet) memegang peran pengendali kunci. Fungsinya adalah untuk mengatur debit (volume) air yang dilepaskan dari waduk. Dengan membuka atau menutup pintu secara terkendali, petugas memastikan bahwa pelepasan air tidak menyebabkan lonjakan aliran yang justru akan memicu potensi banjir di saluran hilir. Ini merupakan mekanisme penting dalam menjaga keseimbangan antara menampung air dan mengalirkannya secara aman.
Meskipun fungsi ekologisnya berjalan baik, Taman Waduk Ria Rio saat ini dihadapkan pada berbagai masalah operasional dan sosial yang mengancam kenyamanan dan merusak keasrian yang telah dicapai :
1. Isu Pengelolaan Sampah dan Dampaknya pada Estetika
Meskipun area utama taman terlihat bersih, terdapat keluhan mengenai pojokan-pojokan taman yang kerap dimanfaatkan sebagai tempat penumpukan sampah liar. Penumpukan ini tidak hanya merusak nilai estetika kawasan yang seharusnya asri, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kebersihan dan kesehatan.
Bau tidak sedap dan pemandangan tumpukan sampah jelas mengurangi motivasi masyarakat untuk berkunjung dan menikmati fungsi Ruang Terbuka Hijau tersebut.
2. Vandalisme: Ancaman terhadap Keasrian
Keindahan dan keasrian tanaman yang ditanam di Taman Waduk Ria Rio, termasuk keberadaan pohon ikonik seperti Adansonia digitata atau yang kerap di sebut Baobab, terancam oleh tindakan vandalisme yang tidak bertanggung jawab. Vandalisme berupa coretan atau perusakan terhadap tanaman dan fasilitas taman tidak hanya merusak keindahan visual, tetapi juga menghambat fungsi ekologis tanaman sebagai peneduh dan penyerap polutan. Budidaya tanaman yang sudah dilakukan dengan susah payah menjadi sia-sia karena minimnya pengawasan dan kesadaran pengunjung.
3. Aroma Pengerukan Lumpur yang Mengganggu Pengunjung
Salah satu keluhan terbesar adalah aroma tidak sedap yang timbul dari aktivitas pengerukan ampas dan sampah di dasar waduk. Bau menyengat ini sering tercium pada jam-jam ramai pengunjung, seperti saat bersantai dari siang hingga sore, yang akan mengganggu pengalaman rekreasi pengunjung taman.
Aspirasi utama terkait masalah ini adalah pengaturan ulang jam kerja petugas pengeruk ampas. Secara rasional, kegiatan pengerukan yang berbau ini harus dijauhkan dari jam-jam produktif dan rekreasi masyarakat. Kami mengusulkan agar pengerukan dijadwalkan secara ketat pada rentang waktu mulai pukul 08.00 pagi dan selesai maksimal pada pukul 11.00 siang (atau paling maksimal pukul 12.00 siang jika memungkinkan). Dengan menjadwalkannya di pagi hingga jelang siang hari, proses pengangkatan lumpur dapat diminimalkan sebelum pengunjung sore mulai berdatangan dan sebelum jam makan siang, sehingga kualitas udara dan kenyamanan publik selalu terjaga.
Untuk mengembalikan dan mengoptimalkan fungsi Taman dan Waduk Ria Rio sebagai ruang publik yang ideal, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah Provinsi Jakarta, melalui instansi terkait (seperti Dinas SDA dan DLH), harus mengambil peran utama dengan mengeluarkan instruksi resmi mengenai pembatasan jam operasional alat berat pengerukan lumpur (direkomendasikan pukul 08.00 hingga 12.00 WIB) guna menjamin kenyamanan pengunjung.
Selain itu, perlu dilakukan Penguatan Pengawasan melalui pemasangan CCTV di titik rawan dan peningkatan patroli keamanan, disertai penegakan sanksi yang tegas. Manajemen Taman harus fokus pada Optimalisasi Fasilitas Pendukung dengan menambah dan mendistribusikan tempat sampah berstandar pemilahan, serta menyediakan fasilitas umum (seperti gazebo) yang memadai. Terakhir, program edukasi harus diperkuat dengan memanfaatkan waduk sebagai pusat wisata ramah lingkungan, mengajarkan pentingnya kualitas air dan fungsi pohon. Seluruh upaya budidaya fasilitas dan tanaman harus memprioritaskan spesies lokal yang tahan lama dan mudah dirawat.

