Konten dari Pengguna

Dari Inovasi Padi Menuju Zero Stunting

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Rizki Khoiri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ilustrasi Generasi Bangsa Anti Stunting (Sumber : Freepick)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi Generasi Bangsa Anti Stunting (Sumber : Freepick)

Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan dikonsumsi hampir setiap hari. Sebagai sumber pangan utama, beras memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Namun, di tengah tingginya konsumsi beras, persoalan pemenuhan gizi masih menjadi tantangan, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pangan tidak hanya perlu tersedia dalam jumlah cukup, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas gizinya.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 19,8%, menurun dari 21,5% pada 2023. Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting masih perlu diperkuat. Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, tetapi juga berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalah pemenuhan gizi, terutama pada masa awal kehidupan.

Anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan, termasuk zinc atau seng. Mineral ini berperan dalam pembelahan sel, sintesis protein, perkembangan jaringan, dan menjaga daya tahan tubuh. Kekurangan zinc dapat mengganggu pertumbuhan serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Oleh karena itu, pemenuhan zinc perlu didukung melalui konsumsi makanan bergizi dan beragam. Selain melalui sumber pangan seperti ikan, telur, daging, dan kacang-kacangan, kebutuhan ini juga dapat didukung melalui pengembangan bahan pangan pokok yang memiliki kandungan gizi lebih baik.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dari sektor pertanian adalah melalui biofortifikasi, yaitu peningkatan kandungan zat gizi pada tanaman melalui proses pemuliaan. Pendekatan ini menghasilkan varietas tanaman yang memiliki keunggulan kandungan nutrisi sejak proses pengembangannya. Pada tanaman padi, inovasi tersebut diwujudkan melalui Padi Inpari IR Nutri Zinc yang resmi dilepas pada 2019.

Gambar 2. Panen Padi Bersama (Sumber : Freepick)

Padi Inpari IR Nutri Zinc memiliki kandungan zinc sekitar 34,51 ppm pada beras pecah kulit. Varietas ini memiliki umur panen sekitar 115 hari setelah semai, tinggi tanaman sekitar 95 cm, rata-rata hasil 6,21 ton per hektare, serta potensi hasil mencapai 9,98 ton per hektare. Keunggulan tersebut menjadikannya salah satu alternatif varietas padi yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung ketersediaan pangan bergizi.

Untuk menerapkannya, petani dapat memulai dengan memperoleh benih bermutu dan bersertifikat dari sumber terpercaya. Selanjutnya, dilakukan persiapan lahan, persemaian, dan penanaman sesuai teknik budidaya padi. Selama masa pertumbuhan, tanaman perlu dirawat melalui pemupukan berimbang, pengaturan pengairan, serta pengendalian hama dan penyakit. Setelah mencapai umur panen, padi dipanen dan ditangani dengan baik melalui pengeringan, penggilingan, serta penyimpanan. Setiap tahapan perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan rekomendasi penyuluh pertanian agar hasil budidaya optimal.

Peran petani tidak harus berhenti ketika hasil panen dijual. Sebagian beras Nutri Zinc dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga sebagai salah satu sumber zinc. Hasil panen lainnya dapat dipasarkan dan dikenalkan kepada masyarakat sebagai alternatif pangan yang memiliki keunggulan gizi. Konsumsinya tetap perlu dilengkapi dengan sumber protein, sayuran, buah-buahan, dan pangan bergizi lainnya. Dengan demikian, petani dapat memulai kontribusi dari lingkungan terdekat, yaitu menyediakan pangan bergizi bagi keluarga sekaligus memberikan contoh kepada masyarakat.

Agar pengembangannya semakin luas, petani dapat mengajak kelompok tani untuk mengenal dan membudidayakan varietas ini bersama-sama. Penyuluh pertanian berperan memberikan pendampingan teknis, sedangkan pemerintah dapat mendukung ketersediaan benih, pengembangan budidaya, dan akses pemasaran. Kerja sama dengan pemerintah desa serta tenaga kesehatan juga diperlukan agar beras Nutri Zinc semakin dikenal dan dapat dimanfaatkan masyarakat. Meski demikian, pengembangannya masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan akses benih, pengetahuan budidaya, dan penerimaan pasar. Karena itu, sosialisasi serta pendampingan menjadi langkah penting agar inovasi ini dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Padi Inpari IR Nutri Zinc bukan obat maupun solusi tunggal untuk stunting. Pencegahan stunting tetap membutuhkan pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang baik, sanitasi layak, serta pelayanan kesehatan yang memadai. Namun, inovasi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat mengambil bagian dalam mendukung upaya tersebut. Petani memiliki kesempatan untuk memulai perubahan dari sawahnya sendiri, memanfaatkan hasil panen bagi keluarga, dan mengajak masyarakat mengenal pangan bergizi. Sebab, petani bukan hanya penghasil bahan pangan, tetapi juga dapat menjadi pelopor dalam membangun generasi Indonesia yang lebih sehat.