Konten dari Pengguna

Independent Woman dalam Perspektif Teori Konstruksi Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Balqis Al Syifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi independent woman. Sumber : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi independent woman. Sumber : Pixabay

Istilah independent woman kini sangat populer dikalangan wanita modern. Di media sosial Istilah ini menjadi label yang sangat melekat pada perempuan yang mandiri secara finansial, mampu mengarahkan hidupnya sendiri, mandiri secara finansial, memiliki karier yang sukses, serta mengandalkan diri sendiri dan stabil dalam emosional. Label ini bahkan sering sekali dijadikan standar perempuan masa kini, banyak sekali perempuan yang ingin menjadi independent woman. Pada dasarnya, konsep independent woman merupakan hal yang positif. Ia lahir dari perjuangan panjang perempuan dalam mendapatkan akses yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan ruang sosial. Kemandirian perempuan menjadi simbol penting dari meningkatnya kesempatan dan kebebasan memilih jalan hidup. Namun, dibalik popularitas nya yang mampu membuat banyak sekali perempuan berlomba lomba agar dianggap sebagai independent wowan, memunculkan sebuah pertanyaan penting: apakah independent woman benar - benar mencerminkan kebebasan dan kesejahteraan perempuan atau justru merupakan konstruksi sosial yang dibentuk dan diperkuat oleh masyarakat?

Independent woman sebagai konstruksi sosial yang berkembang di era media sosial

Fenomena ini dapat dibedah melalui sudut pandang teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, teori ini menjelaskan bahwa realitas sosial tidak dapat terbentuk sendiri melainkan dibentuk melalui proses interaksi manusia yang berlangsung secara terus-menerus. Proses ini terdiri dari tiga tahap: ketika manusia menciptakan makna dalam kehidupan sehari-hari (eksternalisasi), ketika makna itu kemudian dianggap sebagai kenyataan yang objektif dan wajar (objektivasi), dan akhirnya ketika individu menerima kembali makna tersebut sebagai bagian dari cara mereka memandang diri dan dunia (internalisasi). Dalam konteks ini, konsep independent woman tidak muncul begitu saja, tetapi merupakan hasil dari proses pembentukan realitas sosial tersebut. Sebelum istilah independent woman sepopuler sekarang, masyarakat dahulu menganggap perempuan tempat nya sebatas di dapur, dan hanya mengurus rumah tangga. Tahap Eksternalisasi dimulai ketika sekelompok perempuan mulai merasa gelisah dengan batasan tersebut. Mereka memulai perjuangan dalam memperjuangkan kesetaraan terutama dalam pendidikan dan dunia kerja. Mereka nekat menempuh pendidikan tinggi, melamar pekerjaan yang dulunya didominasi laki-laki, dan belajar mengelola finansial mereka sendiri. Seiring berjalannya waktu, makna independent woman mengalami proses objektivasi. makna ini tidak lagi berhenti sebagai nilai perjuangan, melainkan berkembang menjadi standar sosial baru yang dianggap ideal bagi perempuan modern. Media sosial memperkuat proses ini dengan menampilkan perempuan-perempuan yang sukses secara karier, mandiri secara finansial, dan terlihat mampu mengatur hidupnya sendiri dengan baik. Representasi ini kemudian membentuk persepsi kolektif bahwa perempuan yang ideal adalah perempuan yang serba bisa dan tidak bergantung pada siapa pun. Ketika makna independent woman di anggap menjadi standar sosial yang ideal bagi perempuan, hal ini membuat banyak perempuan muda yang merasa terdorong untuk memenuhi standar dan merasa tertinggal jika belum bisa memenuhi standar tersebut. Hal ini yang dinamakan proses internalisasi, yaitu ketika individu mulai menerima dan menganggap standar tersebut sebagai bagian dari identitas diri yang harus dicapai. Akibatnya, menjadi mandiri bukan lagi sekadar pilihan hidup, tetapi seolah menjadi kewajiban sosial. Pada titik ini, independent woman tidak lagi sekadar identitas, tetapi berubah menjadi tekanan sosial yang tidak selalu disadari. Media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat konstruksi sosial ini. konten yang ditampilkan biasanya hanya sisi terbaik dari kehidupan seseorang seperti pencapaian, kesuksesan, dan kemandirian. Sementara proses jatuh bangun di baliknya sering kali tidak terlihat. Hal ini membuat banyak sekali perempuan yang membandingkan proses hidupnya dengan pencapaian orang lain yang hanya terlihat sisi terbaiknya. Padahal, jika dilihat lebih kritis, konsep independent woman bukanlah realitas yang tunggal. Dalam perspektif konstruksi sosial, makna tersebut dapat berubah sesuai konteks budaya dan waktu. Kemandirian tidak selalu berarti harus sukses secara finansial atau karier yang tinggi. Bagi sebagian perempuan, kemandirian bisa berarti kemampuan mengambil keputusan, menjalani pendidikan, atau membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai dan kondisi masing-masing. Di sisi lain, konsep independent woman juga membawa banyak dampak positif. Ia dapat menjadi sumber inspirasi bagi perempuan untuk lebih percaya diri, berani mengambil peluang, dan memperluas akses dalam pendidikan maupun dunia kerja. Namun, masalah muncul ketika konsep ini berubah menjadi standar tunggal yang mengabaikan kondisi, latar belakang, dan kesempatan yang berbeda-beda pada setiap perempuan. Oleh karena itu, penting untuk menafsirkan ulang makna kemandirian perempuan. Menjadi independent woman seharusnya tidak dimaknai sebagai kewajiban untuk selalu kuat dan berhasil dalam standar tertentu, melainkan sebagai kebebasan untuk memilih jalan hidup tanpa tekanan sosial yang kaku. Pada akhirnya, teori konstruksi sosial mengingatkan bahwa realitas tidak pernah netral. Ia dibentuk, disepakati, dan diwariskan oleh masyarakat. Begitu pula dengan independent woman, yang tidak hanya mencerminkan perubahan peran perempuan, tetapi juga hasil dari proses sosial yang terus berkembang.

Tantangannya adalah bagaimana menciptakan pemaknaan yang lebih inklusif, sehingga setiap perempuan dapat menjadi dirinya sendiri bukan sebagai tuntutan yang seragam, tetapi sebagai ruang pilihan yang luas bagi setiap perempuan untuk menentukan jalannya sendiri.