Mimpi Tak Pernah Benar-Benar Gratis: Ada Harga yang Harus Dibayar

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum Prodi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Balqis Al Syifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, kita ditanya tentang mimpi "nanti kalau udah besar cita cita kamu mau jadi apa?" Dengan polosnya, kita menjawab tanpa banyak berpikir tentang bagaimana cara mencapainya. Ingin menjadi dokter, pilot, direktur, polisi, dosen, tentara, guru dan sebagainya sangat mudah sekali terucap saat kita masih kecil. Bagi seorang anak, mimpi terasa sederhana: belajar dengan rajin, mendapatkan nilai bagus, lalu tumbuh menjadi seseorang yang diinginkan. Kita tumbuh dengan kalimat: selama mau berusaha, pasti ada jalan. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Namun, semakin dewasa, ada hal-hal yang baru kita pahami ketika keinginan mulai berhadapan dengan kenyataan. Salah satunya adalah fakta bahwa mimpi juga punya harga. Harga yang di maksud tidak selalu berupa uang. Ada waktu yang harus dikorbankan, kesempatan yang harus dilepaskan, hingga keinginan yang perlahan dipendam karena keadaan. Bagi sebagian orang, harga tersebut mungkin masih bisa dijangkau. Namun, bagi sebagian lainnya, mengejar mimpi berati harus memikirkan sesuatu yang lebih mendasar: apakah mereka mampu membiayai perjalanan untuk bisa sampai ke sana? Kita sering membicarakan keberhasilan dengan menonjolkan kerja keras, kedisiplinan, dan kegigihan seseorang. Akan tetapi, kita terkadang lupa bertanya apakah setiap orang memiliki akses yang setara terhadap sumber daya yang mendukung perjuangan tersebut. Sebab, berusaha keras dan memiliki kesempatan untuk berusaha bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan.
Pendidikan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Sama
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui pemikiran Pierre Bourdieu, seorang sosiolog yang banyak membahas hubungan antara pendidikan, kelas sosial, dan ketimpangan. Bourdieu menjelaskan bahwa individu tidak menjalani kehidupan dengan sumber daya yang selalu sama. la menggunakan konsep modal untuk memahami bagaimana sumber daya yang dimiliki seseorang dapat memengaruhi posisi dan peluangnya dalam masyarakat. Dalam konteks pendidikan, modal ekonomi dan modal budaya menjadi dua konsep yang relevan. Modal ekonomi berkaitan dengan sumber daya material, Modal ini dapat membantu seseorang memperoleh fasilitas pendidikan yang memadai seperti perangkat belajar, transportasi, tempat tinggal, maupun bimbingan tambahan. Sementara itu, modal budaya berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang dapat membantu seseorang menghadapi lingkungan pendidikan. Melalui pemikiran Bourdieu, kita dapat memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak sepenuhnya berlangsung di ruang kelas. Kondisi keluarga dan lingkungan sosial ikut membentuk bekal yang dibawa seorang anak ketika memasuki dunia pendidikan. Ketika perbedaan modal tersebut terus berlangsung, pendidikan berisiko ikut mempertahankan ketimpangan sosial yang telah ada. Inilah yang berkaitan dengan konsep reproduksi sosial: keadaan ketika keunggulan atau keterbatasan yang dimiliki suatu kelompok dapat diwariskan dan terus memengaruhi kesempatan generasi berikutnya.
Apakah Semua Anak Memiliki Kesempatan yang Sama untuk Bermimpi?
Kita tidak perlu menyangkal pentingnya usaha pribadi. Kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk belajar tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan. Namun, mengakui pentingnya usaha tidak berarti kita harus mengabaikan ketimpangan kesempatan. Masalah muncul ketika keberhasilan seseorang dianggap sepenuhnya sebagai hasil kerja kerasnya, sementara kesulitan orang lain dianggap sebagai akibat kurangnya usaha. Cara pandang semacam ini dapat membuat hambatan sosial yang nyata seolah-olah menjadi tanggung jawab individu semata. Padahal, ada perbedaan antara tidak mau berusaha dan tidak memiliki cukup dukungan untuk mengembangkan usaha tersebut. Ada pula perbedaan antara memilih jalan yang diinginkan dan memilih jalan yang paling mungkin dijalani berdasarkan keadaan. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya mendorong setiap anak untuk berprestasi, tetapi juga berupaya memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan yang layak untuk belajar dan berkembang. Beasiswa yang mudah diakses, informasi pendidikan yang menjangkau berbagai kelompok masyarakat, fasilitas belajar yang memadai, serta dukungan akademik bagi siswa yang membutuhkan merupakan beberapa upaya yang dapat membantu memperluas kesempatan tersebut. Keadilan dalam pendidikan bukan berarti semua orang harus memiliki kehidupan yang sama atau memperoleh hasil yang persis serupa. Keadilan berarti setiap orang tidak seharusnya kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuannya hanya karena keterbatasan yang sebenarnya dapat dikurangi melalui dukungan sosial dan kebijakan yang tepat.
Mimpi Tidak Seharusnya Menjadi Hak Istimewa
Pada akhirnya, mungkin benar bahwa setiap mimpi memiliki harga. Ada pengorbanan, proses panjang, kegagalan, dan ketidakpastian yang harus dihadapi. Namun, kita perlu membedakan antara kesulitan yang menjadi bagian dari proses bertumbuh dan hambatan sosial yang membuat seseorang bahkan kesulitan memulai perjalanannya. Tidak semua orang memiliki titik awal yang sama. Ada yang dapat berlari karena segala kebutuhannya telah tersedia, sementara yang lain harus berjalan perlahan sambil memastikan bahwa dirinya dan keluarganya tetap mampu bertahan. Membandingkan keduanya hanya berdasarkan seberapa cepat mereka sampai ke tujuan tentu tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan perjalanan. Karena itu, barangkali yang perlu kita ubah bukanlah ajakan untuk bermimpi, melainkan cara kita memandang orang-orang yang sedang berjuang mewujudkannya. Kita perlu berhenti mengukur seluruh keberhasilan hanya dari hasil akhir tanpa memahami kesempatan dan hambatan yang menyertai prosesnya. Pendidikan semestinya menjadi ruang yang membantu seseorang mengembangkan potensi, bukan ruang yang membuat keterbatasan ekonomi semakin menentukan masa depannya. Perjuangan pribadi memang penting, tetapi dukungan keluarga, lingkungan, lembaga pendidikan, dan kebijakan publik juga memiliki peran dalam membuka kesempatan.
