Unschooling atau Putus Sekolah?

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Qessa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan telah lama menjadi modal sosial bagi masyarakat untuk meningkatkan status sosialnya yang dilegitimasi oleh lembaga pendidikan resmi. Namun, belakangan ini, ruang kelas tidak lagi menjadi tempat bersaing untuk memperebutkan masa depan, melainkan telah bergeser kedalam arena persaingan baru di dunia digital yang memanfaatkan popularitas, skill bermain game, engagement hingga algoritma media sosial sebagai modal untuk bersaing untuk masa depan.
Pada era digital seperti ini, generasi muda tumbuh bersama ekosistem algoritma media sosial yang begitu luas dan cepat setiap waktunya. Ekosistem media sosial ini dirancang untuk menyajikan konten yang dapat memikat perhatian terutama yang memiliki tingkat popularitas tinggi. Namun, dibalik itu seringkali algoritma sosial media hanya menyajikan puncak kesuksesan seseorang, sambil menyembunyikan rapat-rapat resiko kegagalan, perjuangan dan depresi yang dialami oleh pelakunya pada awal karirnya.
Jika dibedah menggunakan kacamata sosiologi pendidikan, fenomena “Unschooling” ini dapat dipahami karena terdapat pergeseran radikal dalam cara generasi muda mengumpulkan modal sosial. Selama ini sekolah formal telah diakui sebagai institusi utama untuk memvalidasi modal budaya terinstitusi, seperti ijazah dan gelar akademik sebagai modal mobilitas sosial di masa depan. Namun, pada dunia digital telah melahirkan jenis modal dan field baru yang dianggap jauh lebih likuid tanpa memikirkan konsekuensinya.
Dalam situasi seperti ini kita seharusnya bertanya “kenapa pandangan modal sosial ini dapat bergeser maknanya dari sekolah dan ruang kelas menjadi ke dalam dunia digital oleh generasi muda?”
Memang perlu diakui jika pendidikan formal membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengonversi ijazah dan gelar akademik sebagai modal sosial di masyarakat dibandingkan modal sosial yang dibutuhkan di dunia digital yang lebih likuid. Hal ini tentunya dapat menjadi alasan mengapa sebagian generasi muda lebih tertarik untuk meninggalkan pendidikan formalnya demi berkarir di dunia digital sebagai Pro Player, Content Creator, Streamer atau bahkan Trader Crypto.
Pergeseran makna unschooling menjadi putus sekolah
Kata “Unschooling” sendiri merujuk pada metode pendidikan alternatif yang dipopulerkan oleh pendidik sekaligus penulis asal Amerika yaitu John Holt, yang dimana anak dapat belajar secara mandiri yang didorong oleh rasa ingin tahu, minat dan bakat alami anak tanpa harus bergantung kepada kurikulum kaku, ujian ataupun aturan formal pendidikan. Namun, belakangan ini penggunaan kata “Unschooling” telah mengalami pergeseran makna pada kehidupan dunia digital sebagai cara seseorang untuk memutuskan berhenti dari sekolah formal demi mengejar karirnya di dunia digital.
Konsep dari metode pendidikan alternatif ini membebaskan anak dari pembelajaran pendidikan formal yang bergantung pada kurikulum yang kaku, ujian ataupun aturan sekolah formal dengan mengedepankan rasa ingin tahu, minat dan bakat anak untuk belajar hal yang ingin dia pelajari. Sekilas metode Unschooling mirip dengan metode Self-Directed Learning hanya yang membedakan keduanya adalah Unschooling sendiri merupakan metode yang berada diluar sistem pendidikan formal dengan kata lain anak sama sekali tidak terikat pada institusi pendidikan formal, sedangkan Self-Directed Learning yang dipopulerkan oleh Malcolm Knowles dapat berjalan diluar ataupun didalam institusi pendidikan.
Pergeseran makna yang dialami oleh sebagian generasi muda adalah mereka beranggapan bahwasannya dengan mereka melakukan “unschooling” dan fokus mengejar karir mereka di dunia digital, mereka merasa tidak perlu lagi meraih modal sosial dari pendidikan formal yang membutuhkan waktu yang lama dibandingkan mereka membangun karir mereka hingga sukses.
Jelas bahwa hal ini sebenarnya merupakan ilusi kebebasan yang ditawarkan oleh algoritma media sosial sebagai ajakan secara tidak langsung bahwa “sukses itu tidak perlu sekolah tinggi”, “menjadi kaya raya di usia muda jauh lebih membanggakan dibanding menghabiskan waktu dibangku sekolah” ataupun “kebebasan finansial bisa diraih diumur muda”
Usia muda berpendidikan vs berkarir
Dilema dalam memilih antara menyelesaikan pendidikan formal atau melompat langsung kedalam dunia kerja memang seringkali kita temui pada kehidupan remaja yang masih menempuh pendidikan. Bagi sebagian remaja, desakan ekonomi dan keinginan untuk segera mandiri secara finansial seringkali menjadi alasan utama dibalik dilema yang meraka alami. Sekolah sering kali dianggap menjadi penghambat seseorang untuk bekerja, selain itu modal sosial yang ditawarkan oleh pendidikan formal mengharuskan seorang anak untuk menempuh sekitar 16 hingga 17 tahun pendidikan formal yang pada akhirnya ijazah dan gelar akademik dapat menjadi peluang dalam bersaing pasar tenaga kerja.
Sedangkan pada zaman sekarang, industri digital telah melahirkan modal dan field persaingan baru yang tidak lagi bergantung pada pendidikan formal, melainkan menciptakan modal baru berupa followers, subscribers, engagement hingga popularitas. Dalam kasus ini banyak remaja yang tergiur untuk melompat langsung ke industri digital seperti gaming, streaming ataupun trading yang tidak lagi memperlukan ijazah ataupun gelar sebagai modal sosialnya. Bagi mereka, menghabiskan waktu sekitar 16 tahun untuk menempuh pendidikan formal terasa sebagai investasi yang terlalu lama dan penuh ketidakpastian. Sedangkan di sisi lain, industri digital menawarkan jalan pintas untuk mengonversi modal budaya menjadi modal ekonomi secara “instan”, tanpa birokrasi dan batasan usia.
Namun juga perlu diketahui, bahwa pada industri digital juga menawarkan ketidakpastian. Keberhasilan atau kesuksesan pada industri digital tidak bersifat linier atau permanen karena dikendalikan oleh algoritma yang tak kasat mata dan bisa sewaktu-waktu berubah. Jika kita bayangkan, mungkin saja hari ini seorang kreator bisa viral dan meraup ratusan hingga jutaan rupiah, namun bisa saja besok akun kreator tersebuh sepi penonton.
Di lain sisi, pendidikan formal tidak hanya menawarkan ijazah ataupun gelar akademik, melainkan juga kemampuan lainnya melalui hidden curriculum. Dalam sosiologi pendidikan terdapat istilah hidden curriculum atau kurikulum tersebunyi yaitu berupa sekolah formal secara tidak langsung menempa dan menciptakan karakter siswa melalui penanaman nilai seperti kedisiplinan, etika bermasyarakat hingga pembentukan sifat-sifat baik yang dapat diterapkan dikehidupan sosial nyata.
Selain itu, interaksi yang terjadi dilingkungan sekolah dapat melatih soft skill seperti kemampuan public speaking, kerja sama antarindividu hingga melatih penalaran kritis dalam memecahkan permasalahan. Secara tidak langsung, sebenarnya pendidikan formal atau sekolah telah menjadi laboratorium sosial bagi peserta didik.
