Konten dari Pengguna

Mahasiswa UNY Dukung SDGs 1 Melalui Pembelajaran Tentang Kemiskinan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natasya aprilia wibowo 156 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto pembelajaran di kelas XI IPS
zoom-in-whitePerbesar
Foto pembelajaran di kelas XI IPS

Yogyakarta – Natasya Aprilia Wibowo, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Program Studi Pendidikan Ekonomi, melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi dengan materi Kemiskinan pada peserta didik kelas XI SMA. Kegiatan pembelajaran ini merupakan salah satu bentuk implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 1 yaitu No Poverty (Tanpa Kemiskinan) melalui pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami permasalahan kemiskinan yang terjadi di masyarakat.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada peserta didik kelas XI selama proses Praktik Kependidikan. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi mengenai kemiskinan secara teoritis, tetapi juga mendorong peserta didik untuk aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, menganalisis permasalahan, dan menghubungkan materi dengan kondisi kehidupan masyarakat. Materi yang diberikan mencakup pengertian kemiskinan, jenis-jenis kemiskinan, penyebab kemiskinan, lingkaran setan kemiskinan, serta berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemiskinan. Materi tersebut disusun agar peserta didik dapat memahami kemiskinan secara lebih menyeluruh, tidak hanya sebagai permasalahan rendahnya pendapatan.

Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik diberikan contoh kasus mengenai kondisi masyarakat yang mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Peserta didik kemudian diarahkan untuk mengidentifikasi jenis kemiskinan, menganalisis faktor penyebab, serta memahami dampak yang ditimbulkan. Berbagai jenis kemiskinan yang dipelajari meliputi kemiskinan subjektif, objektif, kultural, struktural, absolut, dan relatif.

Menurut Natasya Aprilia Wibowo, pembelajaran mengenai kemiskinan penting diberikan kepada peserta didik karena permasalahan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi juga berhubungan dengan pendidikan, kesempatan kerja, akses terhadap modal, kesehatan, dan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan. “Melalui pembelajaran ini, saya ingin peserta didik tidak hanya mengetahui pengertian kemiskinan, tetapi juga mampu memahami mengapa kemiskinan dapat terjadi, bagaimana dampaknya bagi masyarakat, serta apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya,” ujarnya.

Pembelajaran juga membahas teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty) yang menjelaskan bahwa berbagai faktor penyebab kemiskinan dapat saling berhubungan dan membuat masyarakat sulit keluar dari kondisi tersebut. Peserta didik mempelajari hubungan antara rendahnya pendidikan, produktivitas, pendapatan, tabungan, investasi, dan kesempatan kerja. Dengan memahami hubungan tersebut, peserta didik dapat melihat bahwa kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan membutuhkan upaya penanganan secara berkelanjutan.

Salah seorang peserta didik kelas XI juga menyampaikan bahwa pembelajaran menggunakan contoh kasus membuat materi kemiskinan lebih mudah dipahami. “Menurut saya, materi kemiskinan menjadi lebih mudah dipahami karena kami tidak hanya mempelajari pengertiannya, tetapi juga membahas contoh yang terjadi di masyarakat. Dari kegiatan tersebut, saya jadi lebih memahami bahwa kemiskinan memiliki berbagai jenis dan penyebab yang berbeda,” ujarnya.

Selain memahami penyebab kemiskinan, peserta didik juga diberikan pemahaman mengenai berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemiskinan. Upaya tersebut antara lain meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan lapangan pekerjaan, memberdayakan UMKM, memberikan perlindungan sosial, membangun infrastruktur, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan keterampilan kerja. Penanggulangan kemiskinan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.

Kegiatan pembelajaran ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 1 tentang No Poverty, khususnya dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian peserta didik terhadap permasalahan kemiskinan. Melalui pembelajaran Ekonomi, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai konsep kemiskinan, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis dalam mencari alternatif solusi terhadap permasalahan tersebut.

Menurut Natasya Aprilia Wibowo, pembelajaran yang dikaitkan dengan SDGs dapat membantu peserta didik memahami bahwa ilmu Ekonomi memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari. “Saya berharap peserta didik dapat menyadari bahwa permasalahan kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan kontribusi dari masyarakat. Dengan memahami permasalahannya sejak di bangku sekolah, peserta didik dapat memiliki kesadaran untuk ikut berkontribusi dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera,” ujarnya.

Melalui kegiatan pembelajaran ini, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang menghubungkan materi Ekonomi dengan permasalahan nyata di masyarakat. Peserta didik juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menganalisis permasalahan sosial ekonomi.

Pembelajaran materi Kemiskinan diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik sekaligus mendukung pencapaian SDGs 1. Dengan memahami berbagai bentuk, penyebab, dan upaya mengatasi kemiskinan, peserta didik diharapkan memiliki pengetahuan dan kepedulian terhadap permasalahan ekonomi di lingkungan sekitar serta mampu melihat pentingnya peningkatan pendidikan, kesempatan kerja, pemberdayaan masyarakat, dan pemerataan pembangunan dalam upaya mengurangi kemiskinan.