Anak Pertama Selalu Diminta Mengerti, Tapi Siapa Yang Mengerti Dirinya?
Tulisan dari Syafa Aulitya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ngalah dong, Kak. Kamu kan sudah besar, harus bisa jadi contoh yang baik buat adik kamu.” Kalimat itu perlahan menjadi tuntutan yang melekat sejak kecil. Seolah-olah, karena lahir lebih dahulu, mereka juga harus lebih siap menghadapi kehidupan.
Saat adiknya menangis, mereka diminta mengalah. Ketika terjadi pertengkaran, mereka harus memahami keadaan lebih dulu. Bahkan, ketika mereka merasa kecewa, mereka tetap dituntut untuk bersikap dewasa. Lama-kelamaan, kekecewaan itu dipendam dan perasaan mereka disembunyikan di balik kata ‘tidak apa-apa’, meski sebenarnya ada sesuatu yang ingin disampaikan."
Perasaan itu semakin melelahkan ketika anak pertama merasa bersalah karena mendahulukan dirinya sendiri. Ingin beristirahat terasa seperti mengabaikan keluarga, sedangkan menolak permintaan terasa seperti menjadi kakak yang buruk. Tanpa sadar, mereka bisa tumbuh dengan kebiasaan mengukur dirinya dari seberapa banyak yang mampu dilakukan untuk orang lain, bukan dari siapa dirinya sebenarnya.
Dalam artikel Antara Tuntutan dan Harapan, Beban Emosional Seorang Anak Pertama yang ditulis Ayu Yustitia di Pijar Psikologi, dibahas bagaimana anak pertama kerap menghadapi tuntutan untuk memenuhi harapan orang tua dan menjadi panutan bagi adik-adiknya. Hal ini memperlihatkan bahwa tanggung jawab keluarga tidak selalu berhenti pada tugas sehari-hari. Ada pula tekanan untuk menjadi sosok yang membanggakan, bahkan ketika dirinya sendiri sedang membutuhkan dukungan.
Pengalaman ini dipahami sebagai peranan sosial, yaitu harapan yang melekat pada seseorang berdasarkan kedudukannya dalam kelompok masyarakat. Dalam keluarga, anak pertama ditempatkan sebagai peran yang harus dewasa dan bisa diandalkan. Anak pertama merasa harus selalu memenuhi peran tersebut agar dianggap sebagai anak yang baik. Padahal, menjadi kakak adalah salah satu bagian dari dirinya, bukan kewajiban untuk selalu benar dalam segala hal.
Mungkin, yang paling dibutuhkan anak pertama bukanlah pujian karena dianggap paling kuat atau paling dewasa. Mereka hanya perlu diberi ruang untuk bercerita tanpa langsung diminta mengalah, didengarkan tanpa dibandingkan, dan dipahami tanpa harus menunggu sampai benar-benar tidak sanggup lagi. Sebab, orang yang terbiasa diandalkan pun tetap membutuhkan tempat untuk bersandar.
Pada akhirnya, anak pertama juga sedang menjalani kehidupan pertamanya. Mereka tidak otomatis tahu cara menghadapi masalah hanya karena lahir lebih dahulu. Mereka pun masih belajar, masih bisa salah, dan masih membutuhkan kasih sayang yang tidak bergantung pada seberapa baik mereka memenuhi harapan keluarga.
Sebab, menjadi anak pertama seharusnya berarti mendapat kesempatan untuk tumbuh sebagai kakak, bukan kehilangan kesempatan untuk tetap menjadi anak yang juga ingin dimengerti.

