Apakah Luka Batin yang Diwarisi Menjadi Tanggung Jawab Anak?
Tulisan dari Syafa Aulitya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Dulu mama sama papa hidupnya jauh lebih susah dari kamu, tapi kita ga pernah ngeluh, inget kamu harus jadi anak yang kuat.” Kalimat ini sering terdengar seperti nasihat agar anak tumbuh menjadi kuat. Tetapi, di balik itu, ada perasaan yang sering kali terabaikan. Anak belajar untuk bertahan, tetapi tidak pernah benar-benar diajarkan bahwa dirinya juga boleh merasa lelah, sedih, dan membutuhkan pertolongan.
Kadang, hal yang paling menyakitkan dari sebuah keluarga bukan hanya luka yang pernah dialami, melainkan luka yang tanpa sadar diajarkan kembali kepada anak-anaknya.
Tanpa disadari, pengalaman menyakitkan yang belum selesai dapat terbawa ke cara seseorang membangun keluarga. Pola ini dikenal sebagai trauma antargenerasi. Pengalaman menyakitkan yang belum selesai bisa terbawa ke cara seseorang memperlakukan anaknya, membangun hubungan, dan menjalani kehidupan keluarga.
Ketika Luka Menjadi Kebiasaan
Luka tidak selalu muncul dari air mata atau cerita tentang masa lalu. Terkadang, luka justru muncul dalam kebiasaan sehari-hari, seperti sulit mengungkapkan perasaan, takut melakukan kesalahan, atau merasa harus menyelesaikan semua masalah sendirian.
Bayangkan seseorang yang sejak kecil terbiasa dimarahi ketika menangis. Ia kemudian belajar bahwa menunjukkan kesedihan hanya akan membuat keadaan semakin buruk. Ketika dewasa dan memiliki anak, ia mungkin melakukan hal serupa, bukan karena tidak menyayangi anaknya, melainkan karena tidak mengenal cara lain untuk menghadapi emosi.
Anaknya pun tumbuh dengan pemahaman bahwa menangis adalah kelemahan dan masalah harus disimpan sendiri. Pola tersebut terus berulang, bahkan ketika tidak ada yang sengaja berniat menyakiti.
Lama-kelamaan, sesuatu yang dulu menyakitkan justru dianggap biasa. Bukan karena rasa sakit itu hilang, tetapi karena orang-orang sudah terbiasa hidup dengannya.
Memahami Orang Tua Tanpa Membenarkan Luka
Membicarakan trauma antargenerasi bukan berarti menyalahkan orang tua atas segala kesulitan yang dialami anak. Orang tua juga memiliki masa lalu, pengalaman pahit, dan keterbatasan yang membentuk cara mereka mendidik keluarga.
Dalam artikel di jurnal World Psychiatry pada 2018, Rachel Yehuda dan Amy Lehrner membahas bagaimana pengalaman traumatis orang tua dapat berdampak pada generasi berikutnya. Pengaruhnya dapat muncul melalui pola pengasuhan, hubungan dalam keluarga, dan kemungkinan mekanisme biologis.
Meski begitu, trauma tidak otomatis diwariskan melalui gen. Pengalaman buruk yang dialami orang tua bisa memengaruhi cara mereka memperlakukan anak, menghadapi masalah, dan mengungkapkan perasaan. Tanpa disadari, anak bisa tumbuh dengan kebiasaan yang sama, lalu mengulanginya ketika dewasa. Sebab, terkadang yang diwariskan bukan lukanya, melainkan cara seseorang belajar bertahan dari luka itu.
Memutus Luka, Membangun Cara Baru
Masa lalu memang membentuk seseorang, tetapi tidak harus menentukan seluruh kehidupannya. Mengenali kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, belajar mengungkapkan perasaan, dan membangun komunikasi yang lebih terbuka merupakan langkah untuk menciptakan hubungan keluarga yang lebih sehat.
Tidak semua perubahan harus dimulai dengan percakapan besar. Terkadang, perubahan hadir ketika orang tua bersedia mendengarkan tanpa menghakimi, meminta maaf setelah melakukan kesalahan, atau memberi anak ruang untuk mengungkapkan kesedihan.
Pada akhirnya, setiap generasi mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya. Warisan itu tidak harus berupa ketakutan, tuntutan, dan kebiasaan memendam perasaan.
Anak tidak seharusnya menghabiskan hidupnya untuk menyembuhkan luka yang bahkan tidak pernah ia sebabkan. Ia berhak tumbuh dengan memahami bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak boleh menangis, dan menyayangi keluarga bukan berarti harus menerima semua rasa sakit dalam diam.
Sebab, salah satu bentuk kasih sayang yang paling berarti adalah keberanian untuk tidak meneruskan hal-hal yang dahulu pernah menyakiti kita.

