Indonesia First “Mangu”: Romansa Beda Agama di Balik Megahnya Candi Plaosan

Mahasiswi dari Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kanaya Sifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Plaosan, yang berdiri di Klaten, Jawa Tengah sejak abad ke-9, menyimpan kisah yang melampaui nilai arsitektur dan sejarahnya. Artikel ini mengkaji Candi Plaosan bukan semata sebagai objek arkeologis, melainkan sebagai artefak dari sebuah relasi manusia yang kompleks, pernikahan antara Rakai Pikatan, penguasa Hindu dari Wangsa Sanjaya, dan Pramodhawardhani, putri Buddha dari Dinasti Syailendra.
Kemudian kisah inilah terlahir di sebuah candi megah bernama Plaosan yang sekaligus menjadi simbol dari cinta berbeda agama. Ternyata tidak hanya di zaman sekarang, adapun dari kisah mereka kita dapat mengenal bahwa dulu terdapat adanya "perbedaan keyakinan di dalam cinta".
Kisah ini bermula pada era Mataram Kuno, lebih tepatnya di Kerajaan Medang, Pramodhawardhani, putri mahkota dari Wangsa Syailendra yang memeluk agama Buddha dan Rakai Pikatan, seorang pangeran dari Wangsa Sanjaya yang taat beragama Hindu. Namun, kisah romantis mereka tidak berjalan dengan mudah, beberapa anggota kerajaan dan keluarga menolak hal tersebut. Seperti Balaputradewa, ia dikatakan sebagai adik dari Samaratungga (Raja Kerajaan Medang). Namun, dalam beberapa sumber Balaputradewa merupakan anak dari Samaratungga.
Sebelumnya Kerajaan Medang dipimpin oleh Raja Samaratungga dari tahun 802 – 842 M, ia memiliki seorang putri bernama Pramodhawardhani. Samaratungga yang berasal dari Wangsa Syailendra ingin melakukan pernikahan politik dengan Rakai Pikatan yang berwangsa Sanjaya untuk menjaga keharmonisan antar wangsa serta Samaratungga. Pernikahan pun terjadi dan pada 842 M Samaratungga wafat, gelar raja kemudian jatuh ke tangan Rakai Pikatan yang berhasil menikahi putri mahkotanya.
Dikatakan Candi Plaosan dibangun untuk menjadi hadiah dari peringatan tersebut pada tahun sekitar 842 M. Namun, pada tahun sekitar 856 Masehi setelah pembangunan Candi Plaosan terjadilah pertempuran antara Rakai Pikatan dengan Balaputradewa yang ingin menjadi raja. Balaputradewa kemudian membangun benteng yang bernama Ratu Boko namun berhasil dikalahkan oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa pun pergi ke Sumatra dan menjadi Raja Sriwijaya serta berhasil membangun masa keemasan Sriwijaya.
Melansir dari jurnal Toleransi Beragama pada Masa Mataram Kuno nama Rakai Pikatan dan Pramodhawardani tertulis pada prasasti-prasasti kecil disekitar candi plaosan lor. Dengan adanya prasasti-prasasti kecil ini menjadi bukti bahwa pernah terjadi pernikahan antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardani. Kata “anumoda” selalu muncul di tulisan candi ini, yang memiliki arti “pemberian suci”.
Kisah ini tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi juga menyimpan makna yang tetap relevan hingga sekarang. Hubungan yang tumbuh di tengah perbedaan keyakinan menunjukkan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kondisi yang mudah. Dibutuhkan keberanian, pengertian, dan kesediaan untuk menghadapi berbagai tantangan yang datang dari luar maupun dari dalam hubungan itu sendiri.
Dari perjalanan tersebut kemudian terwujud Candi Plaosan, yang berdiri sebagai simbol pertemuan dua keyakinan dalam satu ruang yang harmonis. Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, candi ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan selalu penghalang, melainkan bisa menjadi ruang untuk saling memahami.
Melalui kisah ini, dapat dilihat bahwa dinamika cinta dalam perbedaan telah ada sejak masa lalu. Hal tersebut mengajak kita untuk memandang perbedaan dengan cara yang lebih terbuka bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang bisa dijalani dengan sikap saling menghargai.
Di sini kita diajarkan bahwasannya praktik akulturasi budaya serta sinkretisme di Indonesia memang nyata terjadi dibuktikan dengan adanya Candi Plaosan tersebut, seperti yang dijalankan oleh kedua belah pihak. Ini menandakan adanya perpaduan antara dua kebudayaan dan juga agama yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
