Konten dari Pengguna

Menyikapi Hoaks dan Ujaran Kebencian: Pelajaran dari Hadis tentang Tabayyun

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar hasil generasi AI yang menggambarkan orang yang sedang melakukan Tabayyun
zoom-in-whitePerbesar
Gambar hasil generasi AI yang menggambarkan orang yang sedang melakukan Tabayyun

Pernahkah Anda menerima pesan berantai yang berisi kabar mengejutkan, lalu langsung membagikannya ke grup keluarga dengan tambahan "mohon disebarkan"? Banyak dari kita pernah melakukannya, dan sering kali kabar itu ternyata tidak benar.

Di era media sosial, satu unggahan bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit. Hoaks merusak nama baik, memicu kebencian, bahkan memecah belah masyarakat. Islam sebenarnya sudah memberi pedoman sejak lama, yaitu tabayyun.

Apa Itu Tabayyun?

Tabayyun artinya mencari kejelasan dan memastikan kebenaran suatu kabar sebelum mempercayai, menyikapi, atau menyebarkannya. Prinsip ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat ayat 6, yang memerintahkan orang beriman memeriksa dengan teliti jika datang kabar dari orang yang tidak jelas kejujurannya, agar tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan.

Pesan Hadis tentang Menyaring Kabar

1. Tidak semua yang didengar layak disebarkan.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar (HR. Muslim). Artinya, orang yang asal menyebar tanpa memeriksa sudah ikut menyumbang kebohongan, meski ia bukan pembuat awalnya.

2. Larangan "katanya-katanya".

Nabi ﷺ melarang qila wa qala, yaitu kebiasaan menyebarkan kabar hanya berdasarkan "katanya" tanpa dasar yang jelas (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan berantai yang dimulai dengan "katanya", "dapat info dari grup sebelah", atau "tolong sebarkan" adalah contoh zaman now dari larangan ini.

3. Jaga lisan, jaga jari.

Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari dan Muslim). Di hadis lain, beliau menyebut muslim sejati adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya (HR. Bukhari dan Muslim). Di zaman digital, "tangan" itu bisa berarti jempol yang mengetik komentar, membagikan tautan, atau mengunggah ulang.

Teladan Nabi: Kisah Fitnah terhadap Aisyah

Contoh terbaik ada dalam peristiwa haditsul ifk, ketika Aisyah r.a., istri Nabi ﷺ, difitnah. Kabar bohong itu cepat menyebar di Madinah dan menyakiti banyak pihak.

Nabi ﷺ tidak langsung membenarkan tuduhan itu, tidak pula bertindak gegabah. Beliau mencari kejelasan, menanyakan kepada orang-orang yang mengenal Aisyah, dan bersabar menunggu kebenaran terungkap. Kemudian Allah menurunkan ayat dalam QS. An-Nur yang menegur mereka yang ikut menyebarkan kabar tanpa ilmu dan menganggapnya sepele, padahal di sisi Allah itu perkara besar.

Dari kisah ini kita belajar bahwa tuduhan serius membutuhkan bukti, bukan sekadar ramai dibicarakan.

Tabayyun di Era Digital: Langkah Praktis

Sebelum menekan tombol bagikan, coba lakukan hal berikut:

Cek sumber aslinya. Jangan hanya percaya tangkapan layar atau potongan video.

Lihat tanggal dan konteks. Banyak hoaks adalah berita lama yang diangkat kembali.

Bandingkan dengan media kredibel atau situs pemeriksa fakta.

Waspadai judul provokatif yang memancing emosi, marah, atau takut.

Jika ragu, jangan bagikan. Diam lebih baik daripada ikut menyebar kebohongan.

Jangan menyebarkan hoaks dengan alasan "sekadar mengingatkan". Niat baik tidak menghapus dampak buruknya.

Ujaran Kebencian: Batas yang Tidak Boleh Dilanggar

Hoaks sering berjalan beriringan dengan ujaran kebencian. Kabar yang belum tentu benar dipakai untuk menghina, merendahkan, atau mengajak membenci kelompok tertentu. Padahal Islam menjunjung kehormatan manusia. Mengkritik atau meluruskan kesalahan boleh, tetapi harus dengan cara yang beradab, berdasarkan fakta, dan tanpa merendahkan martabat orang lain.

Penutup

Tabayyun bukan berarti curiga pada semua informasi. Ia adalah sikap hati-hati agar kita tidak menzalimi orang lain karena kabar yang belum tentu benar. Di tengah banjir informasi, menjadi penyaring jauh lebih mulia daripada menjadi penyebar.

Mulai hari ini, biasakan tiga langkah sederhana: baca, periksa, baru bagikan. Karena setiap jempol yang kita gerakkan akan dimintai pertanggungjawaban.